9

2 0 0
                                        

Nadira tak henti-hentinya mengagumi arsitektur disetiap sudut mansion mewah ini, Ia tak habis fikir apa yang pria ini kerjakan hingga bisa memiliki tempat tinggal bak istana.

Nadira sedikit sulit untuk mengimbangi langkah pria yang berada lumayan jauh didepannya, langkah kakinya begitu besar dan leluasa berbeda dengan dirinya, bahkan ia merasa dirinya lebih mirip seperti marmut ketika melangkah, nadira mengerucutkan bibirnya mengingat hal itu.

"Aku tuh gak pendek tau! dianya aja yang kegedean" gerutunya pada dirinya sendiri.

Alan tau apa yang sedang gadis itu lakukan dibelakangnya, alan berhenti dan melihat kearah bocah yang sekarang sudah sah menjadi miliknya. Gadis itu berjalan dengan susah payah dengan gaun yang masih melekat pada tubuh mungilnya, jangan lupakan dengan pandangan yang terus menunduk dan mulut yang tak berhenti menggerutu dengan bibir mengerucut.

"Ini gaunnya berat banget, Dira susah gerak" nadira terus mengomel dengan pandangan sibuk pada gaun yang ia kenakan, hingga ia tidak menyadari bahwa dirinya menabrak dada bidang pria yang beberapa menit lalu telah sah menjadi suaminya.

"Astagfirullah" sadar nadira setelah mendongakkan kepalanya.

"Maaf" ucapnya tertunduk. Nadira takut dengan pria ini, walaupun tak dapat dipungkiri suaminya ini sangat tampan, itu semua tidak bisa menghalaukan perasaan takut nadira, ia merasa jika pria ini memiliki amarah terpendam kepadanya, itu jelas terlihat dari sorot mata tajam alan. Nadira sendiri tidak mengerti apa sebenarnya kesalahannya pada pria ini, ia hanya bisa berdoa semoga inilah jalan terbaik untuk dirinya.

"Anda akan tidur disini, sebentar lagi waktu makan siang, mulai sekarang anda yang akan mengurus semua keperluan rumah, semua pekerja sudah saya pecat, jadi andalah yang akan menggantikannya" ucap alan datar dan tegas.

Nadira terkejut mendengar itu, akan tetapi ia cukup sadar diri bahwa pernikahan ini bukanlah pernikahan yang selama ini ia impikan, jadi dirinya harus mulai belajar dan terbiasa jika tidak dianggap oleh suaminya. Alan berjalan meninggalkan gadis yang sedang terpaku didepan pintu gudang.

"Nadira gak boleh nangis, ayok semangat!" ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

Nadira melangkah perlahan kedalam gudang ini, gudang ini terletak di penghujung dapur dan berdekatan dengan hamparan hutan yang luas. Selain itu ruangan ini juga berada di paling ujung mansion mewah ini, nadira sedikit takut, sepertinya tempat ini tak pernah tersentuh.

Ia memasuki ruangan ini dengan sedikit pasrah, itu juga dikarenakan jendela yang sudah tidak ada kacanya atau sekedar penutup. Nadira berjalan mendekati jendela tersebut, rasa pasrah bercampur cemas menjadi satu sekarang, bagaimana tidak dibalik jendela yang lumayan besar ini adalah hamparan hutan yang luas, Ouh.... Ayolah apa ini.

"Astagfirullah, nanti gimana kalo ada orang jahat masuk, kalo ada hewan buas gimana, kalo mati lampu gimana" nadira frustasi sendiri memikirkannya.

Nadira melirik jam yang berada dilayar ponsel lamanya. Barang yang tersisa hanyalah ponsel lusuh di genggamannya, ketika pria itu membawanya hanya benda ini yang tersisa.

"Sebentar lagi waktu makan siang, lebih baik aku ganti baju terus masak terlebih dahulu" ia pun segera melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri, ia akan memasak untuk suaminya sekarang. Suami? Nadira hanya bisa tersenyum dengan kalimat itu, ia tau pernikahan ini mungkin tidak akan berjalan sesuai dengan apa yang selama ini ia harapkan.

Sekarang ia akan memasak opor ayam itu dikarenakan bahan yang sudah tersedia di kulkas. Setelah beberapa menit bertempur dengan alat dapur, hidangan itu segera ia sajikan diatas meja makan. Nadira ingin mencari keberadaan pria itu, akan tetapi ia berfikir mungkin ini akan sangat melelahkan dikarenakan mansion ini sangat luas, bahkan ia tidak tau dimana pria itu berada.

Baru ingin mencari, langkahnya terhenti dikarenakan melihat seseorang mendekat kearah meja makan, nadira kembali menunduk dirinya tidak berani menatap mata elang itu. Nadira ingin menyiapkan makanan untuk pria ini akan tetapi intrupsi darinya membuat pergerakannya terhenti.

Nadira masih berdiri dengan kepala tertunduk, ia bingung harus berbuat apa, Alan yang menyadari itu kembali bersuara.

"Untuk apa anda masih disini?" ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari hidangan yang berada dihadapannya.

Nadira yang tersadar pun berbalik badan dan kembali ke gudang. Ah... Dirinya lupa jika pernikahan ini hanyalah perjanjian diatas kertas.

"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga" nadira menghabiskan waktunya untuk sedikit membersihkan gudang yang akan ia gunakan untuk tidur. Sedikit? Ya sedikit, itu dikarenakan disini terlalu banyak barang dalam ukuran besar, nadira rasa ia tidak sanggup untuk memindahkan semuanya. Seharian ini juga nadira tidak keluar dari ruangan yang penuh akan barang-barang itu. Hari kian berganti dengan rembulan yang menerangi, nadira tidak melaksanakan shalat dikarenakan ia memang sedang ada tamu.

"Pakai alas apa ya buat tidur?" gumamnya. Nadira pun melihat dari sudut matanya terdapat tumpukan kardus bekas, iapun mengambil beberapa dan menjadikannya sebagai tempat tidur.

"Ini aja deh, ini juga lumayan tebal jadi mungkin dira gak bakal kedinginan" setelah melakukan ritualnya sebelum tidur, nadira menyempatkan untuk sedikit tersenyum pada dirinya sendiri. Nadira cukup sadar diri, bahwa dirinya tidak akan pernah dianggap oleh pria itu. Memangnya dia siapa, hanya gadis lemah yang tak punya apa-apa.

"Astagfirullah maafkan dira ya Allah"



Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 16, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

AlanadiraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang