Nadira membuka matanya perlahan dan membiarkan cahaya dari celah jendela masuk ke indra penglihatannya.
Kepalanya berdenyut nyeri, ia berusaha melihat sekelilingnya dan bertanya-tanya dimana dia. Sebelum ia sadar dan mengingat kejadian tadi malam. Ya! Dia ingat.
"Astagfirullah" ia berusaha berdiri tetapi seperti ada sesuatu yang menahannya.
"Apa ini!" nadira menyadari jika badannya terikat oleh tali kasar nan keras di kursi yang sedang ia duduki.
Ia juga menyadari dirinya sekarang tengah berada di sebuah ruangan kumuh dan kotor, bau anyir darah menyeruak dimana-mana, nadira dapat melihat bayak darah kering di tanah yang sedang ia pijak.
"Tempat apa ini? Ya Allah lindungilah hamba"
"Apakah kau sudah sadar nona?"
Nadira melihat kearah datangnya suara itu, seorang pria bertubuh tinggi dan gagah sedang berdiri dengan kepala tertunduk.
"Siapa kamu!"
Pria tersebut mengangkat wajahnya dan menatap nadira dengan tatapan tajamnya.
"Kamu..."
Nadira memperhatikan mata tajam itu, mata yang sama dengan orang yang menghadangnya.
"Bagaimana kabarmu, hemm...?"
Pria itu berjalan perlahan mendekat kearah nadira yang sedang terikat lemas tak berdaya.
"Apa yang anda mau tuan!?"
Nadira menatap tajam pria yang berdiri di hadapannya, ia mengumpulkan keberanian untuk membentak pria ini. Sedangkan yang di bentak membalasnya dengan senyum meremehkan.
"Menikahlah dengan ku"
Astaga apa Pria ini gila? Dengan ringannya ia mengatakan kalimat itu, mengenalnya saja tidak, Apa ia fikir menikah itu hal yang main-main. Nadira tidak habis fikir dengan pria di hadapannya ini.
"Apa maksudmu tuan, kau salah menyandra orang, Lepaskan saya!!!"
"Apakah kau bisa menurunkan suaramu nona? Jangan membuatku marah" Pria itu menatap nadira dengan tajam. Sedangkan yang ditatap malah balik menatapnya tajam.
"Lepaskan saya tuan, saya tidak mempunyai masalah dengan anda, anda salah menangkap orang"
Nadira mencoba menahan emosi dan rasa takutnya, ia mencoba tetap tenang dengan keadaan ini, parahnya lagi ia merasa kepalanya sangat pusing dan badannya yang terasa sangat lemas. Alan yang mendengar itu mendadak emosi ia mendekati nadira dan memegang wajah nadira dengan kasar agar menatapnya.
"Apa katamu! Kau tidak punya masalah dengan ku, hentikan omong kosong mu. Kau sama saja dengan kedua orang tuamu!"
"Apa maksud dari perkataanmu!?"
"Itu tidak penting, menikahlah denganku"
"Tidak akan pernah!"
Baru kali ini Alan ditolak dan dibentak, padahal tidak ada orang yang berani membentaknya jangankan membentak, menatap matanya saja tidak berani. Ditolak apa itu ditolak? Seumur hidup Alan justru ialah yang menolak. bahkan para wanita sibuk mengejarnya, mengatakan cinta kepadanya terlebih dahulu secara terang-terangan, menawarkan dirinya untuk ia jadikan istri, menggodanya. Astaga Alan tidak habis fikir dengan para wanita rendahan seperti itu. Tapi gadis ini? Gadis ini justru menolaknya ketika ia memintanya untuk dijadikan istri?
Alan yang mendengar jawaban dari gadis dihadapannya ini mengeluarkan pisau lipatnya.
Setelah mengatakan itu, nadira dapat melihat jika pria di hadapannya ini marah, nadira juga dapat melihat tatapan kebencian pada dirinya, nadira tidak tau apa masalahnya dengan pria ini, orang tua? Bahkan pria ini menyebut orang tua.
Mata nadira sedikit melotot, pria di depannya ini memegang sebilah pisau lipat. Pria itu mendekat kearahnya dan mengarahkan pisau itu pada lehernya yang tertutup hijab,
Nafas nadira tercekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alanadira
Teen Fiction------------------------------------------------------------- Ketika amarah sudah menyelimuti hati yang tertutup oleh kebencian. Kekecewaanpun datang bersamaan, tidak hanya dengan makhluknya tetapi dengan sang pencipta. Alan, apakah ia akan berubah...
