8

1 0 0
                                        

"Saya terima nikah dan kawinnya Nadira syamra az-zaida dengan maskawin tersebut dibayar tunai" ucap alan lantang dan tegas. Hatinya menghangat ketika mengatakan ijab qabul yang baru saja ia lakukan.

"Bagaimana para saksi, sah?"

"Sah!!!"

"Alhamdulillah, Barakallahu lakuma wa baraka a'laikuma wa jama'a bainakuma fii khoiiir" acara selanjutnya berdoa bersama dan pemasangan cincin. Ya, acara yang dilaksanakan alan ini memang hanya akad saja tidak ada resepsi atau bahkan pesta mewah.

Nadira berjalan perlahan diiringi oleh mbok sri disampingnya, Mbok sri adalah salah satu asisten rumah tangga senior disini.

Nadira terus menunduk, ia tidak berani menatap siapapun yang berada disini bahkan hanya sekedar mengangkat kepalanya.

"Non, ayo angkat wajah non kan udah halal" gemas mbok sri karena sedari tadi melihat nona nya ini hanya menunduk. Nadira tidak menggubris ucapan mbo sri, Sampai pada saat dimana ia sudah terduduk disamping pria yang telah mengucapkan janji suci atas dirinya.

"Cantik" gumam alan yang terhipnotis oleh pemandangan dihadapannya.

"Ayo silahkan dimulai pemasangan cincinnya" saut penghulu yang menyadari suasana yang sedari tadi hanya hening.

"Alan pun mengambil cincin berlian itu dan menarik tangan nadira tanpa aba-aba"

Nadira terkejut bukan main, bagaimana tidak, dirinya saja tidak pernah bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. Tangannya bergetar dahinya mengeluarkan keringat, nadira gugup, ia hanya bisa pasrah saat alan masih memasangkan cincin mewah itu dijari manisnya.

Sekarang waktunya nadira yang memasangkan cincin dijari alan, Nadira bingung harus melakukan apa.

Alan yang tersadar seketika memberikan jarinya kepada nadira sebagai isyarat untuk segera memasangkan cincin miliknya. Karena tidak ingin berlama-lama dengan situasi saat ini nadira segera melingkarkan cincin itu kejari alan.

"Ayok sekarang silahkan salim sama suaminya" Ucap penghulu memberi instrupsi.

"Hah?" nadira merespon dengan bingung dan jangan lupakan ekspresi polosnya yang membuat alan ingin sekali menerkam gadis ini sekarang.

Penghulu hanya bisa tersenyum maklum dan mengangkat sedikit alisnya. Nadira tersadar atas perilaku konyol yang ia lakukan. Dirinya dengan cepat mengambil tangan kekar yang sedari tadi mengambang di udara. Ia mencium punggung tangan alan dengan khidmat, dirinya sudah menjadi seorang istri sekarang. Entahlah sekarang ia hanya bisa pasrah pada takdir sang ilahi.

Berbeda dengan nadira yang harap-harap cemas dengan perasaannya. Disisi lain hati alan berdesir hebat ketika bibir lembut itu menyentuh tangannya. Entah apa yang dilakukan alan, antara sadar dan tidak sadar ia mencium kening milik gadisnya dengan penuh kasih sayang dan cukup lama. Nadira sendiri terkejut akan hal itu, namun tak dapat dipungkiri ia merasa terharu dan sedetik kemudian meneteskan air mata.

" Terkadang apa yang kita rencanakan bukanlah jalan yang akan kita dapatkan. Tak jarang pula takdir terlihat seperti sedang mempermainkan. Hidup ini adalah pilihan, namun perjalananya merupakan sebuah teka-teki yang harus diselesaikan. "

🌹

AlanadiraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang