21.00, Death street
Suasana di Death Street kian memanas. Dua belah pihak sudah berada di tensi yang sama-sama tinggi. Untungnya masih ada Gevandra sebagai penengah yang mencegah perpecahan diantara keduanya.
Adel mondar-mandir dengan bingung terhadap situasi yang terjadi saat ini. Bagaimanapun semua ini diawali dari dirinya. Ia yang dengan sembrono menerima tantangan itu tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi. Sekali lagi, ia harus bergantung kepada kakaknya lagi.
"Sialan!" Dengan penuh amarah ia menendang pembatas jalan.
Ashel yang sedari tadi memperhatikan Adel datang menghampirinya. Ia sentuh pundak Adel untuk menenangkannya.
"Del, tenang del."
"Ga bisa shel. Ini semua gara-gara gue. Gue yang sok jago nerima tantangan mereka sampai seluruh klub jadi terlibat. Lagi dan lagi gue cuman bisa jadi beban buat Ci Shani." Ucap Adel dengab sendu.
"Tenang del, jangan salahin diri lo sendiri. Semua juga ngga nyangka bakal kayak gini. Ga ada juga yang nyangka lo bakal kecelakaan seperti tadi."
"Ngga Shel. Ini semua gara-gara gue yang terlalu maksain diri. Sekarang kita kekurangan rider. Ngga mungkin juga Ci Shani tiba-tiba dateng kesini dari luar kota."
Ashel bergerak memeluk Adel dan mendekapnya erat.
"Udah, kita tunggu aja kabar dari Kak Oniel. Jangan sedih terus Adel yang gue kenal orang tengil, kuat dan selalu tersenyum apapun yang terjadi. Senyum dong."
"Makasih shel. Makasih banyak udah nyemangatin gue."
"Iya sama-sama. Udah yuk, ayo kesana. Itu Kak Oniel udah kumpul lagi sama anak-anak."
Mereka berdua pun berjalan menghampiri teman-temannya. Oniel melirik kedatangan Adel dan melihat bekas air mata di pipinya.
"Wehhh, apa nih. Abis nangis lo? Hahaha." Ledek Oniel.
"Diem!"
"Hahaha, bocil titan bisa nangis juga ternyata."
"Diem deh kak. Gimana kata Ci Shani?" Tanya Adel.
"Tenang... Kita lanjutin balapan ini."
Setelah berkata seperti itu, Oniel dan anak-anak Orca lainnya berjalan untuk menghampiri anak-anak The Serpent. Vino langsung menyambut kedatangan mereka dengan seringaian.
"Wuihh broo, gimana keputusan kalian? Udah waktunya start nih."
"Kita lanjutin. Sistemnya seperti biasa. Tiga Driver. 1 on 1. Dua kali Kemenangan dia yang menang, Deal?"
"Oke, Deal!"
"Siapin dulu Mobil dan Driver lo."
Vino lalu berjalan kembali dan berdiskusi diantara mereka. Begitu pula dengan Oniel. Ia lalu mengajak anak-anak Orca untuk berdiskusi.
"Kak, ini serius?"
" Iya serius."
"Meskipun kita bertanding dengan tiga Driver, kesempatan kita menang masih kecil kak. Apalagi mereka punya Vino dan Aran yang kemampuannya diatas rata-rata."
"Gue tau. Ini cara terbaik."
"Tapi kak. Kita ngga punya Driver ketiga, lo tau kan diantara kita cuma ada 4 Driver yang kemampuannya bisa bersaing dengan mereka?"
"Iya nil. Cuman ada gue, Ci Shani, lo sama Adel doang. sekarang kondisi Adel jelas ga bisa bertanding. Kita butuh satu orang lagi."
"Tenang aja. Semua udah diatur."
KAMU SEDANG MEMBACA
ARGITARA
AventuraArgitara Radheya Natio, Menjadi seorang CEO diusianya yang masih muda di Natio Corp, Jepang dikarenakan kakak tertuanya menolak jabatan tersebut. 4 tahun setelahnya, ia kembali ke Indonesia dan secara tidak sengaja terlibat dalam dunia balap mobil j...
