AL-QUR'AN SEBAIK2NYA BACAAN.
Apa yang kalian harapkan pada sebuah pernikahan kontrak? Memakai gaun putih yang menjuntai? Mahkota kecil di kepala? Atau impian untuk memakai pakaian adat?
Zhe bersyukur dia tidak pernah sedikitpun memiliki mimpi tentang pernikahan. Karena hal-hal indah yang pernah dimimpikan kebanyakan orang, tidak dia dapatkan. Dan mungkin tidak akan pernah dia dapatkan.
Setelah ini, Zhe berjanji bahwa ini adalah pernikahan pertama dan terakhir untuknya. Bukan, bukan dia pasrah dan suka rela mempercayakan separuh hidup untuk manusia yang baru saja menggenggam tangan walinya di atas tubuh Ayah.
Karena setelah berpisah dengannya nanti, Zhe tidak akan mengambil keputusan bodoh lagi untuk menggantungkan diri pada seorang pria.
Setelah akad, kalian jangan pernah sedikitpun berharap mereka bertegur sapa. Bahkan untuk mencium tangannya pertama kali pun, Ghifar tidak memberi kesempatan.
Benar, pernikahan ini terasa seperti permainan meski seluruh malaikat ikut menyaksikan. Bahkan, mereka tidak memiliki surat pernikahan resmi dari negara. Mereka hanya menikah dengan selembar kertas putih dari ustadz yang menjadi wali.
"Operasinya mau berlangsung, lo bisa bayar sisa tagihannya di kasir kan?"
Benar, itu kalimat pertama yang Ghifar lontarkan setelah menjunjung gelar 'suami'.
"Pin-nya..." dia diam sebentar seperti ragu untuk mengatakan itu. "Kalo lo gak bisa kasih tahu jangan." potong Zhe membuat Ghifar mengalihkan pandangan sesaat.
"070800." Zhe menerima kartu debitnya sebelum menatap suaminya yang mulai berbalik.
"Om!" Zhe menggigit bibir saat sebenarnya dia sendiri bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa. Namun, laki-laki itu tetap berbalik meski mungkin merasa kesal mendengar panggilan itu.
"Tolong selametin Ayah gue." Ghifar tidak membalas, hanya menatap Zhe sesaat sebelum kembali melangkah meninggalkan.
*
"Zhe?" gadis itu menoleh, tersenyum tipis menatap Dava dengan jinjingan ditangannya. Matanya malah salah fokus pada kartu debit di tangan Zhe membuat dia meremas berusaha menyembunyikannya.
"Bawa apa?" Zhe kembali berjalan beriringan bersamanya untuk menuju ruangan Ayah.
"Gurame bakar." senyum Zhe mengembang mendengar itu. "Tumben masak ikan?" tanyanya.
"Kemarin gue sama Papa abis mancing,-" Dava seperti ingin kembali mengucapkan sesuatu membuat Zhe menatapnya dengan pandangan penuh tanya.
"Kartu debit siapa?" akhirnya pertanyaan itu muncul membuat Zhe ketar-ketir sendiri mencari jawabannya.
"Gue- dapet pinjaman." Zhe sedikit menjeda intonasinya membuat laki-laki di depannya menatap menyelidik.
"Lo gak lagi melakukan sesuatu yang bisa bikin lo menyesalkan?"
Bahkan saat kata 'sah' itu terucap, Zhe sudah mengutuk dan menyesali keputusan yang baru saja dia buat.
"Kayak jual ginjal atau kornea mata?" tanyanya sedikit bergurau membuat Dava mendelik dengan dengusan. Zhe tertawa kecil saat responnya seperti itu sebelum langkahnya terhenti, menatap banyaknya perawat yang keluar-masuk ruangan Ayah.
Zhe berlari, menerobos para perawat yang entah sibuk karena apa. Saat hendak memasuki ruangan, tubuhnya bersitubruk dengan manusia yang baru akan keluar.
"Ayah?" pertanyaannya terasa tercekat menatap para perawat yang sudah mulai melepaskan peralatan di tubuhnya.
Tubuh Zhe nyaris terjatuh, dia kehilangan keseimbangan. Tapi matanya menatap dalam mata milik manusia yang berada tepat dihadapan Zhe. Zhe menggeleng, perasaan kecewa itu menyeruak di dalam rongga dada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Zhefaya
Подростковая литература"Laki-laki hanya jatuh cinta satu kali, sisanya hanya untuk melanjutkan hidup." "Bahkan untuk melanjutkan hidupnya, laki-laki juga membutuhkan cinta."
