07

36 3 0
                                        

AL-QUR'AN SEBAIK2NYA BACAAN.

      "Karena Ayah?" pertanyaan itu diajukan saat setelah Zhe baru menyelesaikan bagaimana memutuskan untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan tidak ia kenali.

Dia tersenyum lirih, "Ayah bagi gue segalanya.-" Afgan membuang pandangan mendengar itu.

"Gue gak tahu kenapa lo bisa sebenci itu. Tapi, Ayah adalah orang pertama yang bisa ngertiin gue tanpa gue jelaskan kenapa."

"Afgan-" dia tidak menatap Zhe sama sekali. "Ayah cinta pertama buat gue."

"Lo peduli ataupun nggak, Ayah selalu menjadi hal utama buat gue. Lo tahu? Saat gue nangis mohon-mohon buat minta Bunda tinggal bareng kita,-" Zhe tertawa kecil namun hatinya teriris.

"Ayah meluk gue sambil bilang kalo Bunda pergi sebentar. Meskipun sampai saat itu gue gak bisa mengartikan kata 'sebentar' yang dia lontarkan. Karena buktinya setelah 14 tahun, Bunda gak balik."

"Ayah yang-" Zhe menghirup udara semaksimal mungkin untuk menahan ledakan di matanya. "-ngajarin kita sepedaan, setiap pulang kerja dia pasti bawain nasi padang kesukaan kita. Dan dia selalu inget kalo lo gak suka pake daun singkong."

"Ayah yang nganterin kita pertama ke sekolah. Lo inget gak, waktu kita mau ujian hari pertama? Waktu itu ayah coba masak rendang tapi dagingnya masih alot karena dia gak biasa masak.-"

"Terus kamu marah dan milih buat pergi ke sekolah duluan." Zhe tertawa tapi matanya menangis mengenang itu.

"Ayah selalu bawa kita ke bazar Ramadhan, padahal kita tahu gak bakal beli apa-apa. Dan setiap tarawih, ayah selalu begadang buat jahit pakaian lebaran kita. Ya, meskipun endingnya pakaian itu gak kita pakai pas lebaran karena gak tahu bentuk."

"Gue hancur Afgan," Zhe terisak mengatakannya. "Gue hancur saat tahu kalo manusia yang gue doakan kesejahteraan hidupnya gak bisa gue wujudkan. Dia memilih untuk terlelap damai di pangkuan Tuhan."

"Gue ngerasa hampa, gue bahkan gak ngerasa hidup kalo aja gue lupa punya Tuhan."

"Bagi lo mungkin ayah adalah sebuah beban. Tapi, buat gue ayah adalah sumber kekuatan."

"Gue gak akan siap dan gak akan pernah siap untuk kehilangan dia meski itu mustahil."

"Gue hanya ingin dia sembuh, meskipun Tuhan memang memiliki rencana lain." pungkasnya masih membuat Afgan enggan menoleh.

"Lo bahagia?" tanyanya melirik. Zhe menatap penuh tanya, tak mengerti atas tujuan pertanyaan yang adiknya lontarkan.

"Dengan pernikahan kalian?" Zhe diam, merasa kelu untuk sekadar mengangguk ataupun menggeleng.

"Tujuan lo gak kesampaian kan? Pake uang gue buat bayar dan lepasin ikatan yang malah terasa nyakitin buat lo." katanya membuat Zhe terdiam.

***

      "Mau apa?" alis Zhe mengkerut mendengar Afgan yang seperti mengatakan sesuatu. Dia memilih untuk tetap meneruskan memotong wortel.

"Gue gak izinin lo masuk ya!" Zhe tersentak dengan suara teriakan itu. Menoleh ke arah sumber suara sebelum menatap terkejut atas kedatangan manusia yang tengah menatap Zhe diam.

Tuhan! Kerudungnya!

"Lo bisa sopan dikit gak si?!" Zhe menatap tajam pada manusia itu sebelum hendak berlari melewati mengambil khimar sebelum tangannya di raih.

"Gue suami lo." tubuh Zhe menegang mendengar itu. Bukan, bukan karena dia jatuh cinta. Tapi karena memang masih belum terbiasa mendengar kenyataan itu.

Zhe melepas tangannya sebelum tetap berlari untuk mengambil khimar.

***

     Mereka bertiga terduduk di ruang tamu. Kalian jangan berpikir bahwa mereka terduduk saling berdekatan lalu membahas suatu hal yang bisa ditertawakan bersama. Karena pada kenyataannya mereka duduk saling berjauhan dengan suasana mencekam.

"Cerain Kakak gue." perkataan itu memecahkan keheningan diantara mereka. Laki-laki itu menatap Zhe sebelum kembali mengalihkannya.

"Gue bayar uang yang sempat Kakak gue pinjam." Laki-laki itu menghela nafas pelan menatap Afgan.

"Gue mau ngomong sama Kakak lo." Afgan menatap sinis saat perkataannya tidak digubris.

"Tinggal ngomong aja," sautnya sengit membuat Zhe memijat pelipis. "Berdua." Afgan menatap nyalang mendengarnya.

"Gue gak izinin." Laki-laki itu menaikkan satu alisnya. "Gue gak butuh izin buat bicara sama istri gue." Afgan menatap tajam.

"Terus kenapa lo ngomong ke gue?" tanyanya dengan nada tak santai. "Biar lo tahu diri buat ninggalin kita berdua." sautnya. Zhe seperti sedang dipertontonkan acara debat secara langsung.

"Gak akan." Zhe memejamkan mata, tak sadar bahwa perdebatan mereka malah membuatnya ingin menyelam ke alam mimpi.

"Kak!"

"Zhe!"

Zhe tersentak, menatap kembali mereka yang sedang menatapnya tak suka. "Kalian kalo acara debatnya belum selesai gue mau lanjut masak dulu." Zhe beranjak sebelum tangannya kembali di raih.

"Gue mau ngomong." Ghifar ikut-ikutan beranjak sedangkan Afgan menatap tangan yang berada di pergelangan tangan Zhe dengan tajam.

"Lepasin tangan lo dari Kakak gue." bukannya dilepaskan, Ghifar malah mempererat genggaman tangan itu membuat Afgan menatap tak suka.

"Kakak lo juga gak nolak," Zhe menghela nafas. Dia hanya tidak ingin terjebak diantara debatan mereka.

"Kak-"

"Boleh minta tolong potongin wortel sama kentang di dapur? Gue mau bicara sebentar." Afgan menatap tidak terima.

"Kak-"

"Gue minta tolong." Dia menghela nafas sebelum menatap tajam pada laki-laki di samping Zhe.

--

Zhe melepas paksa genggaman tangannya membuat dia melirik sebelum mengalihkannya cepat. "Apa?" dia malah menatap Zhe dengan tanya.

"Mau ngomong apa?" ulang Zhe lagi sambil kembali terduduk membuat dia melakukan hal yang sama.

"Kenapa lo pulang?" Zhe diam, seharusnya tidak merasakan terkejut saat ia melontarkan pertanyaan itu.

"Kasih alasan agar gue tetap di sana?" tanyanya sinis membuat laki-laki itu menghela nafas. "Gue cukup kasih lo satu alasan buat bikin lo tetap stay di sana." ucapnya menantang Zhe.

"Lo istri gue." Zhe bahkan merasa muak mendengar kenyataan yang sering ia ulang-ulang. Padahal tanpa dia mengatakannya lagi, Zhe tahu sudah menjadi istri orang.

"Dan ngebiarin mereka menyisipkan kata 'penyakitan' di belakang ayah gue?" kali ini laki-laki itu terdiam sambil mengalahkan pandangan.

"Gue gak marah saat bokap lo nanya harga untuk harga diri yang gue punya. Ataupun mengatakan bahwa gue berhasil menipu lo karena uang.-"

"Tapi, gue gak akan pernah terima siapapun yang berani ngomong macam-macam tentang ayah gue."

"Bagi kalian mungkin ayah memang manusia penyakitan, tapi bagi gue ayah adalah kekuatan. Jadi tolong, moral dan etika gak bisa di beli dengan uang sebanyak apapun." sengitnya. Setelah itu, terjadi hening diantara mereka.

"Maaf," Zhe mendengar suara itu pelan, lirih sekali.

____________________

📚Kuningan, 27 Desember 2024
📝desyaulia213

jazakumullah khairan🌻
see you kapan?

ZhefayaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang