AL-QUR'AN SEBAIK2NYA BACAAN.
Perempuan itu terdiam, mematung menatap setiap sudut ruangan yang terasa dingin. Ingin sekali ia kembali melangkahkan kaki, tapi bukan ke dalam. Dia ingin berbalik, hilang dari segala bentuk akibat keputusan yang telah ia buat.
Asing.
Bagaimana mungkin dia menyebutnya sebagai rumah sedangkan saat memasukinya, kaki itu terasa sedang menginjak duri.
"Kamar lo disana." Zhe tersentak, menatap pintu yang baru di tunjuk. Apa di dalam pikiran perempuan itu? Mengapa semuanya terasa tiba-tiba?
Laki-laki itu bahkan langsung menenggelamkan punggungnya di balik pintu sebelah kamar yang tadi ia tunjuk. Zhe menghela nafas, kali ini pelan namun dalam.
Dia mulai menyeret kopernya ke dalam kamar yang tadi Ghifar tunjuk. Nuansa cat perpaduan abu dan hitam langsung menyambut kedatangan itu. Sepertinya ruangan ini sudah di siapkan.
Zhe berjalan setelah menutup rapat pintunya, membuka gorden yang saat itu pemandangannya membuat dia terpana. Sudut bibirnya berkedut, dia berhasil melengkungkan sebuah senyuman saat menatap kebun bunga matahari di sana.
"Lo udah menghancurkan mimpi gue,-" matanya menatap Zhe protes. "Setelah lo meresmikan pernikahan itu, harapan apa yang bisa gue raih?"
"Lo berhasil mengambil hak gue sebagai perempuan dan hari ini lo ambil hak gue untuk lanjutin pendidikan." kali ini laki-laki itu memilih diam.
"Gue gak tahu ya, kenapa sampe lo bikin surat pernikahan ini. Gue gak tahu apa yang sebenernya lo rencanain. Bahkan harusnya pernikahan kita selesai sejak lo gak bisa nyelametin ayah gue!"
"Umur diluar kendali gue Zhe," sautnya, kali ini membuat perempuan di hadapannya mengangguk paham.
"Tapi untuk gak meresmikan pernikahan ini, lo punya andil kan?" Ghifar diam kembali membuat perempuan itu menghela nafas, lelah dengan segala bentuk takdir yang ia pilih sendiri.
"Lo bisa kuliah,-" saut Ghifar menggantung. "Tapi bukan di negeri." lanjutnya lagi masih belum Zhe sauti.
"Lo bebas pilih kampus swasta apa aja di Jakarta. Tapi lo harus tinggal bareng gue." Zhe menatapnya tajam, tidak habis pikir dengan apa yang baru dia lontarkan.
"Lo bebas gunain uang gue untuk pendidikan, sebagai balasannya lo harus bantu gue untuk berpura-pura menjalani pernikahan yang bahagia." perempuan itu masih menatapnya tanpa kata.
"Gak ada sentuhan, gue pastikan itu." lanjutnya lagi masih membuat Zhe membungkam diri.
"Setidaknya lo gak merasa dirugikan banget kan?" Zhe masih diam, bukan berarti dia tidak mempertimbangkan.
"Apa tawaran lo termasuk keuntungan?" tanyanya. Laki-laki itu memasukkan kedua tangannya dalam kantung celana, sebelum kembali menatap ke arah Zhe. "Setidaknya lo bisa menjamin masa depan lo sendiri."
"Beneran gak ada sentuhan kan?" tanya perempuan itu memastikan sekali lagi. "Mungkin hanya pegangan tangan," Zhe menatap protes.
"Tadikan lo-"
"Orang mana yang bakal percaya pernikahan kita bahagia, kalo kita pegangan tangan aja gak pernah Zhe."
Zhe tidak mengerti, apakah keputusan yang kali ini ia ambil lagi adalah sebuah keputusan yang tepat atau malah dapat menikam diri sendiri.
Dia hanya ingin menjamin masa depannya atau sebenarnya dia malah sedang menggadaikan masa depan? Untuk waktu yang berapa lama? Entah ini masih abu-abu.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Zhefaya
Teen Fiction"Laki-laki hanya jatuh cinta satu kali, sisanya hanya untuk melanjutkan hidup." "Bahkan untuk melanjutkan hidupnya, laki-laki juga membutuhkan cinta."
