guys ini ceritanya 5 tahun setelah Ghifar di tinggal nikah🤏🏻
AL-QUR'AN SEBAIK2NYA BACAAN!
"Lo gak mau nyoba UTBK Kak?" Zhe menggeleng mendengar itu. "Yakin mau ambil manaj? Bukannya lo gak suka?" dia meletakkan piring yang berisikan nasi goreng itu di hadapan Afgan.
Ini sudah hampir satu bulan setelah kepergian Ayah. "Belum di jalani, kita gak bisa asal nyimpulin." Afgan mengangguk ragu mendengar itu.
"Dava udah ke Bandung?" Zhe menyentil pelan dahi adik laki-lakinya itu membuat dia meringis, sebelum suara ketukan pintu itu memecahkan dialog mereka.
"Dava seumuran gue ya, manggil yang sopan." saut Zhe sebelum berjalan menuju pintu.
Dia terhenyak sejenak, menatap manusia yang sama sedang menatapnya. Zhe tidak mempersilakan orang duduk ataupun masuk. Tercipta keheningan diantara mereka. Terlalu banyak pertanyaan di kepala Zhe, atau sebenarnya dia tidak memiliki pertanyaan apapun?
"Mau apa?" itu pertanyaan yang berhasil terlontar dari bibirnya. Orang itu membasahi bibir sebelum mengedarkan pandangan ke segala arah.
Sebelum tangannya menyodorkan sebuah buku kecil berwarna hijau tua membuat kening Zhe semakin bertaut. "Bukankah harusnya lo kasih gue surat perceraian?" tanyanya sarkas hanya mampu membuat laki-laki terdiam.
Kepala Zhe terlalu pening untuk menerka apa maunya. Bahkan harusnya bukankah laki-laki itu bersyukur saat uang untuk tranplantasi jantung itu tidak sepenuhnya di gunakan karena Ayah lebih dulu di panggil Tuhan?
Zhe kembali menatap buku pernikahan yang sekarang berada di tangannya, tersenyum miris saat menatapnya tidak ada sedikit pun rasa bahagia yang tercipta. Apakah sehambar ini rasanya?
"Lo meresmikan pernikahan kita?" Zhe tidak habis pikir dengan jalan pikir manusia ini, bukankah saat mereka memutuskan menikah sepakat dengan pernikahan agama? Agar saat berpisah nanti tidak perlu mengurus ke pengadilan? Mengapa dia mempersulit diri?
"Gue mau kita tinggal bareng." matanya melotot protes. "Lo gagal nyelametin nyawa Ayah gue.-" ucap Zhe menggantung membuat laki-laki itu mengalihkan pandangan.
"Bukankah harusnya pernikahan ini juga berakhir?"
"Ayah gue mau ketemu." Zhe menatapnya menajam. Meremas buku pernikahan yang baru Ghifar berikan sebelum melemparkan itu di dadanya.
"Ceraikan gue." Zhifar seakan menulikan telinganya membuat perempuan itu mengeram kesal.
"Gue tunggu sepuluh menit." katanya sebelum duduk bahkan tanpa Zhe persilakan.
"Siapa?" Afgan menatap mereka bergantian membuat Zhe bingung sendiri menjelaskannya. Di punggungnya tersampir tas ransel pertanda dia akan segera berangkat sekolah.
"Suami Kakak lo." Tuhan, ingin sekali Zhe menyumpal Om-Om di hadapannya ini. Kenapa dia bisa se-frontal itu mengatakannya?
"Suami?" Afgan menatap Zhe dengan pandangan penuh tanya dan Zhememilih untuk mengalihkan pandangan saat bertemu dengan mata tajamnya.
"Cepet berangkat, lo bisa kesiangan." Afgan hanya menatap kakaknya tanpa kata.
"Gue perlu penjelasan Kak." katanya keukeuh. "Gue suami Kakak lo, kurang jelas apa lagi?" Afgan malah menatap manusia itu tajam. Sedangkan yang di tatap hanya menatap mereka santai.
"Gue gak nanya lo.-" Afgan kembali menatap kakanya meminta penjelasan. "Gue butuh penjelasan Kak."
"Nanti gue jelasin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Zhefaya
Teen Fiction"Laki-laki hanya jatuh cinta satu kali, sisanya hanya untuk melanjutkan hidup." "Bahkan untuk melanjutkan hidupnya, laki-laki juga membutuhkan cinta."
