AL-QUR'AN SEBAIK2NYA BACAAN.
Perempuan itu menunduk, membiarkan rambutnya jatuh tergerai menutupi wajah. Lutut yang di tekuk itu ia peluk erat, akhirnya Zhe berhasil memuntahkan lahar rasa sakit tentang kebingungan, amarah, dan keputusasaan.
"Kak?" Zhe yang tengah bergetar tanpa suara tersentak saat lampu ruang tamu itu dinyalakan.
"Lo gak papa?" Afan meraih tubuhnya untuk masuk ke dalam dekapannya membuat tangis Zhe pecah seketika.
"It's Oke, ada gue." katanya sambil memeluk tubuh itu. Mempercayakan bahwa Zhe tidak sendiri, meskipun pada kenyataannya dia selalu sendirian.
Setelah puas menumpahkan sesak, Zhe melepaskan pelukan itu. "Afgan?" Dia memanggilnya dengan lirih.
Map yang berisikan surat-surat itu Zhe berikan membuat kedua alisnya tertaut. "Gue tahu rumah ini harusnya gak jadi milik gue ataupun lo. Tapi Afgan, gue gadaikan rumah ini ke lo." Afgan menatap Zhe tanpa kata.
"Gue butuh uang, Afgan." Dia masih belum mengeluarkan sepatah katapun.
"Buat apa?" katanya setelah lama terdiam. Zhe diam sebelum membasahi bibir. Takut, jika dia mengatakan bahwa uang itu untuk pengobatan Ayah Afgan akan menolak.
"Lo gak harus tahu," Zhe berusaha menyembunyikannya. "Gue tau uang itu buat apa Kak, sorry gue gak bisa." Afgan beranjak keluar dari rumah itu membuat Zhe ingin sekali memecahkan kepala.
Tuhan.
Zhe sudah berusaha untuk meminjam uang, hanya saja karena dia tidak memiliki jaminan. Mereka tidak dapat percaya.
Benar, ternyata hanya Tuhan yang tidak akan meninggalkan kita sendirian.
Zhe tersentak saat mendengar suara ketukan pintu, membuat dia beranjak dan menghapus jejak air mata itu meski Zhe tahu akan terlihat kontras bahwa ia baru selesai menelan derita.
Saat pintu itu terbuka, mata mereka saling menatap tak menyangka. "Lo?-"
"Lo anaknya Pak Gilang?" Zhe mengangguk meski banyak sekali pertanyaan di kepalanya.
"Jantungnya melemah." satu kalimat itu mampu membuat Zhe kehilangan keseimbangan. "Transplantasinya harus segera di lakukan." lanjutnya lagi membuat Zhe menatap kosong. Penuh sekali pikirannya.
"Pihak Rumah Sakit udah coba hubungin lo-" Zhe tidak membalas karena handphone itu baru saja ia jual.
"Lo Dokter?" tanyanya membuat laki-laki itu terdiam beberapa saat. "Kenapa tahu kondisi Ayah gue?"
"Gue yang akan mengoperasi transplantasi jantungnya." jelasnya membuat Zhe mengangguk. Dia kembali menatap ke arah laki-laki tadi membuat dia menatap Zhe dengan satu alis terangkat.
"Lo kaya kan?" dia semakin mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan itu.
"Pake gue,-" kalimat singkat itu berhasil membuat dia menatap Zhe tak percaya. "Tapi tolong selamatkan nyawa Ayah gue."
"Lo gila." balasnya membuat Zhe diam-diam menyetujuinya. "Lo bebas mau pake gue kapanpun, mau satu kali, dua kali. Bahkan mau lo jadikan gue budak sek* pun gue setuju.-"
"Selametin nyawa Ayah gue,- gue gak punya siapa-siapa lagi." lirihnya pelan membuat laki-laki itu kembali menggeleng tak percaya.
Zhe memberanikan diri untuk menyentuh lengannya membuat dia tersentak. "Plis?" dia malah menatap Zhe dengan tajam. Zhe tidak punya pilihan lain, jalan dalam pikirannya buntu. Dia tidak dapat berpikir jernih, Zhe tidak dapat menemukan jalan keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Zhefaya
Teen Fiction"Laki-laki hanya jatuh cinta satu kali, sisanya hanya untuk melanjutkan hidup." "Bahkan untuk melanjutkan hidupnya, laki-laki juga membutuhkan cinta."
