5

10 5 0
                                        

Baiti dan Alvian sampai ke sekolah dan memarkirkan mobilnya. Alvian keluar lebih dulu, membukakan pintu untuk Baiti. Mereka masuk ke kelas secara beriringan.

Tanpa sengaja, Deva yang suka sama Alvian melihat Baiti dan Alvian yang masuk ke kelas bersamaan.

Deva mengepalkan tangannya erat. Matanya menatap tak suka dengan Baiti. "Seharusnya gue yang di samping Alvian, bukan lo."

Alvian menggandeng tangan Baiti. Baiti yang melihat itu mencoba melepas genggaman tangan mereka. Tapi tenaga Alvian lebih kuat, membuat Baiti kesusahan untuk melepas genggaman tangan itu.

"Anjay.... udah genggaman tangan aja lo berdua." Salsa menaik turun kan alisnya.

"Mesra banget pagi-pagi gini." imbuh Kurnia.

Baiti menatap tajam ke dua orang itu. "Ogah banget gue gandeng tangan sama nih curut." Baiti akhirnya bisa melepas genggaman tangan itu.

"Bohong...dalam hati mah berbunga-bunga di gandeng~" kata Novi.

"Berisik amat lo pada." ucap Wahyu si ketua kelas yang terganggu.

"Yee sirik ae lu." balas Kurnia.

Baiti duduk di kursinya, begitu pula dengan Alvian. Baiti mendekat kan kursinya ke meja 3 sahabat nya itu.

"Markas aman kan selama aku gak mampir?" tanya Baiti berbisik.

"Aman-aman." jawab Tiara sambil mengacungkan jempolnya.

Mereka memiliki perkumpulan geng motor yang di pimpin oleh Baiti. Nama geng motor mereka adalah, The Impossible. Geng yang di naungi 11 orang inti dan beberapa anak geng mereka.

Walaupun mereka sekarang sudah bekerja, hal itu tidak menghentikan mereka untuk terus meneruskan geng motor yang sudah mereka dirikan sejak sma.

"Tidak ada tanda-tanda 'dia' mau menyerang kan?" tanya Baiti.

"Tidak." jawab Novi.

Cuurrr

Air dingin bewarna kuning jatuh ke atas kepala Baiti sampai tubuh. Baiti menatap dingin orang yang mencurahkan air dingin bewarna kuning itu. Siapa lagi kalau bukan Deva.

Siswa yang ada di kelas langsung melihat itu. Para sahabat Baiti tercengang melihat aksi Deva itu. Sungguh berani sekali si caper satu ini. Pikir mereka.

"Ups sorry gue gak sengaja." Deva menyungging senyum remeh nya.

"Hah.." Baiti mengepalkan tangannya, berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya.

"Lo marah?" Deva mengerjap kan matanya, polos.

Baiti tersenyum terpaksa. "Enggak~" jawabannya.

"Ooh... syukur lah"

"Gue ganti baju dulu." Baiti mengambil pakaian ganti nya dan keluar dari kelas.

"Jangan harap lo bisa tenang setelah ini." ancam Baiti.

Para sahabat nya menelan saliva dengan kasar. Ketika Baiti pakai kata lo-gue, tandanya ia tidak main-main.

"Gila lo Deva, gak tenang lo habis ini." ucap salsa.

"Gak takut gue." balas Deva

Para sahabat Baiti menyenggol bahu Deva dan menyusul Baiti yang ada di wc sekolah.

Sekarang Baiti dan sahabatnya sedang merencanakan sesuatu di dalam toilet.

"So... rencana nya?" tanya Tiara sambil menyandarkan tubuhnya di dinding toilet.

"Ya gak gimana-gimana sih, langsung gas aja." jawb Baiti, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca untuk memperbaiki hijab nya.

Kurnia menautkan alisnya. "Ya gak mungkin di gas aja, pasti ada rencana nya dong. Gimana kalau sampai ketahuan guru?"

Al Dan Bai [ Hiatus, Revisi ] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang