10

15 3 1
                                        

____________
_________
____________

Baiti berjalan masuk ke kelasnya, ia membuka pintu kelas dengan pelan. Tubuhnya sedang tidak bertenaga. Kepalanya berisik, lehernya kaku dan pegal-pegal. Kedua tangan nya serasa di remuk, kaki nya juga sakit ketika di bawa berjalan. Sudah jadi efek samping dari tidak berolahraga selama ia pindah ke pesantren.

Sungguh malang nasibnya sekarang.
Penghapus melayang ke arahnya, untungnya ia punya refleks yang cepat meski ia tidak bertenaga, tapi itu tidak menghentikan nya untuk cepat menghindar.

"Bai! Maaf, aku gak sengaja!" dari arah pojok kelas, orang yang melempar penghapus itu meminta maaf.

"Iya...tidak apa-apa.." Baiti melambaikan tangan nya tidak masalah dengan itu. Ia tidak ingin memperpanjang masalah.

Baiti duduk di kursinya, meletakkan kepalanya di meja. Raisa yang melihat tingkah aneh Baiti langsung bertanya.

"Kamu kenapa? Lesu banget."

Baiti mengarahkan wajahnya menghadapi Raisa, tapi kepala nya tetap tergeletak di meja.

"Aku udah lama gak olahraga, tubuh ku langsung sakit-sakitan karena terlalu lama berhenti olahraga." jawab Baiti pelan, tidak bertenaga.

Raisa mengerutkan dahinya. "Lah? Kan di pesantren ada juga olahraga nya."

Baiti menggeleng pelan. "Beda..lebih enak kalau di rumah berolahraga. Lebih privecy."

"Ooh... begitu ternyata, terus badan kamu masih sakit?" Raisa memijat tubuh belakang Baiti. Ia merasa tidak enak hati membiarkan wanita itu tergeletak tak berdaya.

"Yah...lumayan, makasih ya." Baiti tersenyum, pijatan Raisa sedikit membuat tubuh nya merasa baikan.

"Sama-sama.."

Raisa mendekat kan kursi nya, berbisik pelan pada Baiti. "Bai...kamu tau gak? Katanya setiap malam ada siluet hitam yang sering datang ke pesantren."

Baiti mengerutkan dahinya." Siluet hitam?"

Raisa mengangguk. "Iya, dari tengah malam sampai dini hari. Ada beberapa santriwati yang gak sengaja lihat siluet hitam itu."

Ah... Ternyata diri nya ketahuan juga. Ia kurang melihat sekitar karena ia sudah mengantuk sekali.

"Tapi banyak juga yang menduga itu hantu.." imbuh Raisa, ia mendadak takut untuk keluar malam.

Baiti tersenyum sedih dalam hati. Dirinya di sangka hantu, padahal dirinya ini bidadari yang jatuh dari kayangan lalu di buat trauma dengan dunia.

"Di tempat yang penuh dengan kesucian ini bisa ada hantu? Kuat bener hantu nya." balas Baiti sedikit ketus.

"Ya kan bisa aja, hantu juga ada yang kebal."

"Hantu atau setan?"

"Ah..itu.." Raisa menggantung ucapan nya, ia tidak tahu mau membalas apa pertanyaan Baiti.

"Hello... kalian bahas apa?" Fadhila dengan dua teman nya yang lain mendekati meja Baiti.

"Gak ada." jawab Baiti dingin. Raisa juga tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan itu.

3 perempuan itu terdiam. Merasa tak di inginkan untuk bergabung berbicara lantas mereka pergi keluar dari kelas. Ini masih jam istirahat.

"Aku tahu kamu gak suka sama mereka." ucap Baiti menatap Raisa.

"Yah benar... Kalau dekat sama mereka tuh rasanya kayak deket sama setan." Jawab Raisa

Baiti tertawa pelan. Bisa-bisa nya perempuan di depan nya dengan polos berkata kalau 3 perempuan yang pergi tadi adalah setan. Sungguh polos sekali.

Al Dan Bai [ Hiatus, Revisi ] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang