part 16:Dia akan datang

14 2 0
                                        

______________
________
______________

Setelah sholat isya sendirian, kini Alvian duduk di kasur menghadap istrinya yang duduk menyandar pada kepala kasur sambil memainkan ponsel dengan satu tangan.

Alvian memilin jari-jari nya kuat. Lidahnya keluar untuk berbicara.

Baiti yang jengah melihat suaminya itu diam seribu bahasa sambil menatap langsung dan mematikan ponselnya. "Ada apa? Bicara lah."

Alvian menghela nafas sejenak. "Aku... Minta maaf. Maaf karena bentak kamu semalam dan maaf karena marah sama kamu."

Baiti mengangguk kecil, ia hanya mengangguk. Tak lebih.

Alvian yang melihat istrinya diam saja langsung menggenggam tangan Baiti. "Sayang... Lihat aku, aku tahu aku salah, tapi jangan diamkan aku seperti ini... Aku minta maaf atas semua kesalahanku."

Baiti mengerutkan dahinya, menatap suaminya itu. "Kan udah aku maafin, aku gak ada diamin kamu juga." balas Baiti.

"Maaf ya... Aku terlalu bersikap kekanak-kanakan semalam, padahal aku tahu seharusnya aku memaklumi kamu yang nyimpan rahasia itu." Alvian menunduk, mengelus punggung tangan istrinya lembut.

"Gak papa, aku juga salah karena gak beri  tahu kamu juga." Baiti tersenyum, berusaha menutupi lengannya yang sakit karena tiba-tiba Alvian menggenggam tangan nya.

"Terima kasih... Jangan marah lagi ya?" Alvian memeluk Baiti dari samping. Baiti meringis pelan, lengan kiri nya terhimpit oleh tubuh Alvian.

Alvian menautkan alisnya, ia merasa tubuhnya sedikit basah oleh sesuatu. Ia lantas melonggarkan pelukan itu. Alvian terkejut melihat lengan istrinya yang berdarah dan mengenai baju yang di pakainya.

"Sayang! Lengan kamu berdarah!"

Baiti menghela nafas berat, ia tidak tahu bagaimana menjelaskan pada suaminya itu.

Alvian segera mengambil kotak p3k. Baiti yang peka pun langsung membuka piyama nya. Alvian sedikit gugup, dengan gemetar dia membuka perban yang sudah berdarah itu dengan yang baru.

Baiti meringis kecil kala kapas dingin itu mengenai lukanya. Alvian dengan telaten membalut luka Baiti.

Alvian meraba lengan Baiti yang sudah di perban lagi dengan lembut. Matanya tanpa sengaja menatap punggung Baiti yang memiliki luka bekas yang banyak.

"Ini..." Alvian meraba bekas itu.

"Bekas luka itu sudah lama, waktu aku kecil. Seiring nya aku bertumbuh, bekas itu melebar." jawab Baiti.

"Bagaimana bisa..?"

Baiti memakai kembali piyama nya yang baru. "Kapan-kapan akan aku ceritakan. Aku udah ngantuk." Baiti merebahkan tubuhnya dengan pelan, tidak ingin membuat lukanya kembali terbuka.

Alvian hanya bisa mengangguk, menunggu Baiti akan menceritakan semuanya. Ia menyelimuti tubuh istrinya. Menggenggam tangan kiri istrinya tanpa membuat istrinya kesakitan.

Malam ini mereka kembali bersama. Tidak ada kesalah pahaman, tidak ada emosi yang saling tersulut. Hanya genggaman tangan, menciptakan suasana yang hangat tanpa harus memeluk.

Malam ini mereka tidur bersama setelah semua kesalah pahaman selesai. Besok masih ada satu masalah yang belum selesai, menunggu seseorang.

_______

Pagi ini Baiti dan Alvian sudah kembali ke pesantren. Baiti mendesah pelan sebelum membuka pintu asrama nya.

Pintu terbuka dengan pelan. Baiti lihat, para sahabatnya menunggu nya dengan wajah khawatir.

Al Dan Bai [ Hiatus, Revisi ] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang