8

12 3 0
                                        

______________
_________
______________

Di kelas Baiti, jam mereka kosong. Para guru sedang mengadakan rapat. Baiti duduk di meja, di depan dan samping nya sudah terisi penuh oleh para sahabatnya yang menyandang tas di punggung.

"So... Kamu beneran pindah hari ini?" tanya Farzan, dingin.

"Iya, lagian urusan ku di sekolah ini sudah selesai." jawab Baiti.

"Berarti kita juga gak sekolah lagi kan?" tanya Diky pelan.

"Iya lah, ngapain lama-lama di sekolah ini? Bosan tau." balas Clarissa.

"Kita pulang sekarang?" tanya Kurnia.

"Kuy lah..." Mereka menyandang kan tas sebelah, memakai kaca mata hitam couple. Membeli banyak secara online. Alvian hanya melihat mereka yang berjalan lebih dulu keluar dari kelas.

Mereka berjalan melewati beberapa lorong yang banyak siswa berada di lorong itu. Mereka berjalan dengan keren, anggun dengan kacamata hitam itu.

Anjirrr...gila banget cok

Keren anjay, gak nyangka mereka pake kacamata hitam

Eh tapi mereka mau kemana?

Mereka sampai di parkiran, masuk ke mobil masing-masing.

Lah kok mereka pulang?

Iiihh.. tampang aja anak baik-baik, tapi ternyata cabut juga. Munafik

Waahh anjirrr cabut Cok mereka.

Mobil-mobil mewah keluar dari sekolah itu, menuju tempat yang ingin di tuju.

Mobil Alvian sampai di pesantren, mereka masuk ke ndalem. Nyai zura menyambut mereka dengan hangat.

"Gimana perjalanan nya kemari? Melelahkan?"

Baiti mencium punggung tangan Nyai zura. "Tidak ummi."

Gimana mau melelahkan? Perjalanan dari sekolah ke pesantren hanya satu jam saja. Tidak sebanding dengan ia yang sering mondar-mandir ke kantornya yang berjarak jauh itu.

"Syukurlah... Mari makan, ummi udah masak banyak." Nyai zura membawa Baiti dan Alvian ke ruang makan.

Di meja makan sudah ada Kyai Yusuf yang duduk menunggu mereka. Mereka pun makan siang dengan tenang. Tidak ada yang buka suara, karena mereka tidak ingin makan dengan keadaan berisik.

Makan siang telah selesai, Alvian meminta salah satu santriwati untuk mengantarkan Baiti ke asrama. Sebenarnya Alvian tidak ingin istrinya itu tinggal di asrama, tapi atas paksaan sang istri ia perbolehkan saja.

Mereka juga sepakat untuk merahasiakan pernikahan itu di pesantren. Baiti tidak mau orang lain tahu kalau dia istri Alvian. Bisa-bisa ia langsung di serbu oleh fans suaminya itu.

Baiti sampai di asrama santriwati. Ia masuk ke dalam kamar. Kamar itu luas, ada banyak tempat tidur tingkat di dalam nya dengan meja dan lemari yang banyak juga. Asrama di pesantren ini sangat besar, jarang ada asrama di pesantren lain yang memiliki belasan tempat tidur.

Baiti melihat 4 santriwati yang duduk menatap nya bingung. "Kamu... santriwati baru ya?" tanya salah satu dari 4 santriwati itu.

Baiti mengangguk. "Perkenalkan aku Baiti Jannati...." Baiti tersenyum ramah. Ia harus senatural mungkin menjadi santriwati baru.

"Salam kenal ya, aku Raisa Afrina." Raisa mengulur kan tangan nya, Baiti dengan ramah menyambut uluran tangan itu.

"Aku Azura Fahmi."

Al Dan Bai [ Hiatus, Revisi ] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang