11

8 3 1
                                        


_______________
_________
_______________

Suara deru motor terdengar di luar gerbang pesantren. Para santriwati yang berlalu lalang mulai berhenti, ingin melihat siapa yang datang ke pesantren mereka dengan motor berisik itu.

Satpam berusaha menghalang orang-orang yang mencoba menerobos masuk itu. Suara keributan itu membuat Alvian termasuk kedua orang tuanya keluar dari ndalem. Para ustadz dan ustadzah juga keluar untuk melihat keributan itu.

Orang-orang yang berusaha menerobos masuk itu akhirnya bisa masuk ke dalam pesantren. Di antara para penerobos itu, ada salah satu pria yang paling mencolok. Yang Alvian yakini kalau pria itu adalah ketua dari penerobos itu.

Alvian mengepalkan tangannya erat, menatap tajam penerobos itu. "Kalian siapa? Apa yang kalian cari disini sampai menerobos masuk ke pesantren kami?!"

Pria itu berdiri sendiri di depan para penerobos itu, memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana. Jaket kulit nya yang licin mengkilat sangat menyilaukan mata di siang hari terik ini.

"Gue cari seseorang di sini. Kata nya dia tinggal disini." jawab pria itu, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru pesantren.

"Orang yang anda cari tidak ada disini!" balas Alvian berteriak.

Pria itu mengeluarkan tangan nya dari saku celana. "Oh ayolah.... Gak mungkin si curut itu gak ada disini."

"Siapa sih yang kalian cari sampai ganggu waktu belajar para murid?" tanya Alvian.

"Baiti. Gue cari Baiti Jannati Abimana, si wanita yang menganggap dirinya independen woman itu."

Alvian terkejut, ia tidak menyangka pria di depannya sedang mencari istrinya. "Baiti? Siapa itu? Saya gak kenal." Alvian berusaha untuk tidak mengatakan istrinya ada disini.

"Gak mungkin sih jir, gue udah cari-cari dia, dan kata nya dia disini." sahut pria itu dengan jari telunjuk nya memegang dagu, seolah berpikir.

"Pokoknya orang yang anda cari tidak ada disini."

Pria itu mengangguk. "Oke... Bilang ke dia kalau Rendy Ardiansyah akan datang untuk mencabut nyawa nya." Pria itu berbalik.

"Atau gue yang cabut nyawa lo?" Pria itu berhenti melangkah. Ia berbalik dan menatap orang yang di cari nya.

Mereka yang ada di pesantren terkejut dengan kedatangan Baiti. Mereka jadi berpikir banyak hal tentang Baiti dan segerombolan penerobos itu.

"Well... Lo datang juga ya." Pria itu atau Rendy menatap remeh Baiti.

Baiti memegang bahu Alvian. "Bubarkan santriwati, jangan biarkan mereka ada di halaman ini."

Alvian hanya mengangguk ragu dan menyuruh para ustadz dan ustadzah untuk mengevakuasi para santriwati untuk menjauh.

Baiti memejamkan matanya sejenak, membuka pelan kelopak matanya. Warna bola matanya yang awalnya coklat terang berubah menjadi kuning dengan adanya sedikit warna oranye.

Baiti berjalan mendekati Rendy. Gaya nya yang petantang petenteng membuat Rendy geram.

"So... Mau pindah tempat? Disini gak nyaman untuk berbicara." Baiti dengan santai merangkul leher Rendy. Bukan Baiti lebih tepatnya Erisca lah yang mengambil alih tubuh Baiti.

Di dalam pikiran nya terdengar suara yang familiar.

"Er! Lo lagi-lagi ngambil alih tubuh gue tanpa sepengetahuan gue!" Baiti berteriak, ia benci kepribadian nya mengambil alih tubuh nya secara tiba-tiba.

"Anda terlalu berisik nona." balas Erisca

"Lo melanggar perjanjian er." ucap Aletta dingin.

"Maaf ya, tapi saya ada urusan di sini. Jangan berisik di pikiran saya ya."

Erisca kembali fokus dengan saat ini.

Rendy menepis rangkulan Erisca, ia menatap benci Erisca. Tangan nya langsung mencengkram kerah baju Erisca. "Lo..! Telah buat kesalahan dengan gue."

Erisca menunjuk dirinya. "Saya? Bukannya anda ya yang sering cari gara-gara dengan saya?" Dengan kuat Erisca melepas cengkraman itu.

Para penghuni pesantren hanya bisa melihat dari kejauhan. "Lo telah lukai cewek gue bangsat!" Rendy memukul wajah Erisca dengan kuat.

"Baiti!" Alvian hendak mendekati Erisca, tapi Erisca memberikan telapak tangan nya seolah memberi tahu untuk tidak ikut campur.

Erisca menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. "Anda...berani mukul saya?" Seketika suara Erisca berubah, yang awalnya terlihat santai dengan bahasa baku nya kini malah berubah menjadi dingin.

"Kenapa gue gak berani?" Suara Rendy jelas jelas menantang nya.

Erisca hanya bisa tersenyum. Tersenyum penuh arti. Ia melangkah cepat ke arah Rendy, menarik kerah belakang Rendy dan melempar Rendy ke segerombolan yang ada di belakang pria itu.

"Akh!"

"Balasan itu belum seberapa dengan pukulan anda." Erisca menepuk-nepuk tangan nya setelah berhasil menjatuhkan Rendy.

"Sialan..." Rendy sungguh malu, ia tidak menyangka akan di kalahkan oleh wanita itu di hadapan semua orang di pesantren.

Rendy berdecak kesal." Jangan harap lo bisa lepas dari gue." Setelah itu Rendy meninggal kan area pesantren.

Setelah kepergian Rendy, Erisca masih berdiri di tempat nya. Matanya terpejam erat menahan rasa sakit di kepala nya. Tubuhnya sedikit terhuyung, untungnya Alvian cepat menangkap tubuh istrinya sebelum jatuh.

Mata itu terbuka lagi, warna bola matanya kembali ke semula, bewarna coklat terang. Baiti akhirnya telah masuk ke raga nya sendiri.

Sungguh, kepalanya masih sakit. Ini lah yang paling Baiti benci. Ketika kepribadian nya memakai tubuhnya, kepalanya pasti sakit setiap kali kepribadian nya memakai tubuhnya.

Baiti yang sadar Alvian memegang nya langsung mendorong suaminya itu menjauh. Pergi ke ndalem dengan tergesa-gesa. Alvian yang hendak mengejar segara di tahan Kyai Yusuf.

"Dia butuh waktu sendiri Al.."

Alvian mengangguk, apa yang di katakan ayahnya benar. Ia harus memberi istrinya waktu sejenak.
Para warga pesantren yang melihat itu langsung heran dengan Baiti.

_______

Baiti berada di dalam kamar mandi di kamar Alvian. Ia meluruhkan tubuhnya di depan pintu.

Baiti membuka paksa hijab nya. Tanpa sadar kuku-kuku panjang nya mulai mencakar lehernya. "Ugh...."

Matanya mulai berair, suara isak kecil mulai terdengar. Bayangan masa lalu kembali terbayang. Masa-masa yang ingin Baiti lupakan, tapi tidak bisa.

Jantung nya berdetak kuat. Baiti merasa sesak, ia meraup udara dengan rakus. Pasokan oksigen mulai menipis di ruangan itu.

Semakin lama sakit itu terasa sakit, menyiksa nya dengan hebat.





Al Dan Bai [ Hiatus, Revisi ] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang