;5

24 2 0
                                    

tandai typo

Happy reading..

***

"Deep talk, aku, kamu."

Mereka masih dijalan pulang, menikmati angin yang terjang bebas menghantam mukanya. Menikmati udara malam yang dingin, melewati gedung-gedung tinggi dan membelah jalan Jakarta yang macet, menggunakan motor sport milik Ali.

"Ali,"

"Kenapa?, Ra," tanya Ali.

"Kamu suka main basket sama gitar ya?,"tanya Kalira tiba-tiba.

"Iya, kenapa?"

"Hm, gapapa, nanya aja,"

"Berhenti di danau itu bentar ya?"Kalira menunjuk sebuah danau didekat sana.

"Mau?"

"Iya,"jawab nya.

Ali memarkir motor nya di daerah dekat danau tersebut.

"Bisa turun, Ra?"

Kalira menggeleng kecil.

"Ayo," Ali siap membopong Kalira menggunakan punggung tegapnya.

Hap

"Turun disini aja, aku masih bisa jalan," Ali sungguh keras kepala. Ia tak mau menurunkan Kalira dari punggung nya, ia terus membopong hingga sampai di sebuah ayunan.

"Udah sampai," ujar Ali, sambil menurunkan Kalira.

"Emang kenapa kok berhenti di danau, Ra?"

"Aku mau tanya beberapa hal."

"Apa?, dan aku juga boleh tanya kan, Ra?"

Anggukan kecil yang Ali dapat.

Mereka duduk di ayunan yang terbuat dari kayu.

Hening.

Tak ada yang berani bertanya kali ini. Mereka sama-sama diam tak mengucap satu kata bahkan satu kalimat.

"Ra," Ali memecah keheningan.

"Hm,"

"Kenapa, dan apa yang mau kamu tanya?"

Hening kembali, lalu.

"Dua bakat mu itu bisa jadi kesenangmu, Ali?"

"Bisa, basket juga gitar sebagai penenang, Ra."

"Bahkan aku selalu ngerasa sendiri kalo ga mainin salah satu dari basket ataupun gitar. Aku ngerasa punya ketergantungan sama dua benda mati itu. Tempat cerita, kesenangan, penenang, penyemangat hidup pun cuma dua benda mati itu yang bisa jadiin seorang Ali kuat diterpaan masalahnya, Ra."

"Apa yang kamu simpan, Ali."

"Dan maaf, kita hanya sepasang manusia yang baru saja kenal, entah mengapa aku memiliki ketertarikan pada dirimu. Jadikan aku tempat ceritamu, Ali."

Senyum manis terpasang di wajah tampan Ali.

"Aku juga meminta maaf padamu, aku memiliki rasa kagum sejak awal kita bertemu walau hanya di sebrang jalan."

Mereka sama-sama mengakui perasaan nya. Entah kapan mereka membuang jauh ego dan harga diri.

Sedari tadi mereka hanya menatap lekat danau didepan. lalu Kalira menoleh menatap Ali,

Deg.

Netra coklat Kalira terkunci oleh netra hitam legam milik Ali. Mereka ternyata merasakan perasaan yang sama, jantung mereka berdebar kencang, bahkan tatapan mereka masih menyatu.

"Ra, aku boleh tanya?"

"Apa?"

"Apa kamu juga memiliki dua kesenangan?"

"Punya," jawab Kalira, "Apa itu?" tanya Ali.

"Aku senang melukis, melukis bukan bakat ku tapi sebuah kesenangan yang ga bisa diucap dengan kata-kata. Dan juga.. bukan bakat namun menatap, menatap hujan. Hujan memiliki ketenangan tersendiri, meski harus menahan rasa cemas, takut dari suara petir dan kilatan guntur."

Kalira menunduk, lalu mendongak karena merasakan usapan lembut pada punggung nya.

"Ra, ceritain apa yang kita simpan, ka-"

"Kamu dulu, Ali. Kan aku tanya awal tadi,"

"Oke, yang aku simpan ga berat banget sih, aku aja mungkin yang lebay. Papa sama Mama lebih sayang kakak aku, Giondra, lebih tepatnya Giondra Alaskar. Kamu pasti tau ketua geng motor Alaskar, ya, itu kakak ku. Papa lebih sayang kakak mungkin karena aku udah gaakan lama."

"Maksudnya?"tanya Kalira. "Iya, aku gaakan lama, aku punya penyakit, Ra. Aku mengidap penyakit kanker darah atau bisa disebut leukimia. Aku dari SMA kelas 10 udah sakit, aku juga gapunya temen karena punya penyakit, padahal ga bisa nular.
Aku selalu ngerasa sendiri, Ra. Bahkan disaat kemo hampir selesai, aku dinyatakan akan kehilangan salah satu ginjal aku. Aku sekarang cuma satu ginjal, kalo misal sampai di stadium akhir mungkin aku udah ga bisa bertahan, stadium tiga aja udah cape ngerasain sakit, gimana nanti stadium akhir. Aku rasa udah mau berhenti sekarang tapi aku masih punya harapan buat kedepannya, Ra."

"Apa harapan itu, Ali?. Ayo wujudin itu bareng, aku yakin bisa, bikin whislist bareng nanti wujudin bareng juga."

"Aku gabisa cerita semua sekarang, kasih waktu untuk kedepannya, aku cerita lagi. Giliran kamu, Ra."

"Ayah sama bunda pisah, Ali. Mereka cuma beda perasaan tapi sayang ke aku tetep, mereka sayang aku walau keadaan sekarang berbeda. Bahkan bunda masih kerja sebagai bawahan ayah," Kalira henti, merasa lidah nya kelu untuk melanjutkan.

"Mereka sayang cuma gabisa bareng lagi, padahal aku dulu ngerasa anak paling beruntung dicintai hebat oleh orang tuanya. Mereka berpisah, namun berjanji tidak akan menikah kembali demi aku."

Kalira terisak, ia membayang kan masa kecilnya indah, kedua orang tuanya menyayangi nya tanpa ada kata pisah diantara nya, tak ada pisah rumah. Bahkan pertikaian disaat dirinya remaja masih terputar jelas di ingatannya, ia mengingat jelas bagaimana teriakan terdengar menggema di rumahnya, jeritan-jeritan kesakitan, benda pecah, bahkan pintu terbanting keras masih terus berputar.

"Ra, maaf kalo jadi membuka masa lalu kamu," Ali merasa iba.

"Gapapa, kan kita sharing, aku juga emang jarang cerita kemana-mana. Tapi maaf, Ali ada satu hal yang belum aku ceritain kita sama-sama tersakiti didalam keluarga yang kurang harmonis ini." Gumamnya di akhir kalimat.

"Ra, mau jadi kita jadi temen, kan?" Kalira mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Ali.

Lama tak terasa mereka berbincang hingga waktu menunjukkan pukul 23.16 WIB,

"Ra, udah larut pulang yuk," Ali bangkit dari duduk nya lalu menarik lembut tangan Kalira, mereka menuju parkiran.

Selama di motor Kalira bersandar pada punggung tegap milik Ali. Tenang. Itu yang Kalira rasakan. Tak terasa mata indah Kalira terpejam.

"Ra, Kalira," membangunkan Kalira.

"Hm."

"Sampai, mau ikut kerumah?"

"Ga," jawabnya, "Tapi kok masih diem?"

Tak usah ditanya mengapa Ali tau alamat rumah Kalira, yang pertama, ia sering membuntutinya, yang kedua, sebelum sampai diparkiran Kalira memberi tahu alamat rumahnya.

___________________________________________________

Kurang berasa ya deep talknyaa.

vote, komen kakak-kakak.

KALIH PENGGALIH [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang