Hujan gerimis di Toarushi turun seperti tumpahan besi cair, berat, dan memekakan telinga. Dari balik kemudi sedan tua yang ia fungsikan sebagai taksi gelap, Amamiya Hizumi memandangi dunia luar yang berubah menjadi bayangan abu-abu kabur. AC mobilnya mati total; udara lembap menyesakkan, embun tebal menutup kaca depan seperti tirai samar.
Dengan telapak tangan, Hizumi mengusap permukaan kaca itu. Jejak bening terbentuk sesaat sebelum kembali ditelan uap. Di luar sana, Toarushi memperlihatkan wajah aslinya.
Tidak ada gemerlap lampu mewah. Hanya deretan bangunan beton kusam yang dipenuhi grafiti geng lokal, tiang listrik miring dengan kabel semrawut, serta aroma oli bercampur sampah basah dari selokan.
Toarushi bukan kota bagi mereka yang lemah, dan Hizumi sangat memahami itu. Setiap sudut gang terasa seperti mata yang mengintai; para pemuda berjaket kulit atau sukajan berjongkok sambil merokok, mengamati kendaraan yang lewat dengan tatapan penuh selidik.
Ketika melewati sebuah gedung tua yang kini beralih fungsi menjadi arena judi, Hizumi memperlambat laju mobilnya.
Puluhan motor modifikasi terparkir sembarangan di depan. Di tempat seperti inilah ia biasa mencari peruntungan sebagai sopir taksi—pekerjaan sampingan setiap kali uangnya menipis demi menyambung hidup sebagai Amamiya yang tersisa.
CIIIIIIITTTTTT!!
Ban mobil menjerit parau di atas aspal licin. Tubuh Hizumi terdorong ke depan sebelum sabuk pengaman menyentak dadanya dengan keras.
Tepat di depan bibir mobilnya, seorang pria berjaket merah mencolok berdiri tegak. Hizumi menyipitkan mata. Pria itu tidak terkejut, tidak pula melompat menghindar. Ia hanya diam di tengah guyuran hujan, menatap lurus ke arah lampu depan dengan pandangan kosong yang terasa berbahaya. Matanya merah-bukan semata karena alkohol, melainkan seperti bara dendam yang tak kunjung padam.
"Brengsek!" Telapak tangan Hizumi menghantam kemudi. Klakson dari truk pengangkut kayu di belakang mulai bersahutan, kebisingannya menusuk kepala.
Ia menurunkan kaca jendela sedikit. Tempias hujan langsung menyambar wajahnya, membasahi ujung rambut dan lengan jaket.
"Hei! Kalau mau mati jangan di depan mobilku! Minggir!"
Pria itu tak bergeming. Sebaliknya, seringai miring muncul di wajahnya-senyum yang terlalu kosong untuk disebut waras.
"Apa-apaan dia ini?" gumam Hizumi pelan.
Perlahan, pria itu melangkah mendekat. Tangannya yang kasar dan penuh bekas luka menumpu pada kap mobil yang masih menguarkan sisa panas. Tubuhnya membungkuk hingga wajah basah kuyup itu sejajar dengan jendela. Bau sake yang menyengat menyusup masuk ke dalam mobil.
"Kau berisik sekali, bocah," gumamnya rendah dan serak, nada intimidasi terselip jelas. "Kau pikir ini jalanan milik nenek moyangmu?"
Klakson di belakang makin menggila. Pintu truk terbuka kasar dan seorang pria berbadan besar turun sambil menggenggam kunci inggris.
"Hoi! Cepat jalan!"
"Jangan bikin macet, bodoh!"
Kesabaran Hizumi yang sejak tadi menipis akhirnya benar-benar putus.
"Sudah cukup."
Ia membuka pintu mobil dan membiarkan hujan mengguyur tubuhnya dalam sekejap. Tanpa banyak bicara, Hizumi melangkah melewati pria berjaket merah yang mulai limbung itu menuju sopir truk. Langkahnya ringan namun mantap-ciri khas seseorang yang terlatih dalam bela diri tingkat tinggi.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝗦𝗖𝗔𝗥 𝗖𝗢𝗩𝗘𝗡𝗔𝗡𝗧 [ 𝗥𝗘𝗩𝗜𝗦𝗜! ]
Romance𝗥𝗘𝗩𝗜𝗦𝗜!!! Ditinggalkan oleh kakak sulungnya tanpa penjelasan, Hizumi tumbuh sendirian di tengah dunia yang keras. Pencariannya untuk menemukan kembali saudaranya justru menyeretnya ke dalam konflik berbahaya, hingga ia menyadari bahwa kepergia...
![𝗦𝗖𝗔𝗥 𝗖𝗢𝗩𝗘𝗡𝗔𝗡𝗧 [ 𝗥𝗘𝗩𝗜𝗦𝗜! ]](https://img.wattpad.com/cover/362770882-64-k739123.jpg)