Bab 8

5 1 0
                                        

Pelukan itu berakhir sangat cepat. Edward tidak ingin membuat cucu-cucu lainnya cemburu dan menyalahkan Edward karena terlalu pilih kasih.

"Kemari Luna, dan Owen," panggil Edward.

Kedua cucunya itu lekas menghampiri sang kakek. Pelukan terjadi secara bergantian antara Luna dan Owen.

Luna Harrington adalah cucu dari anak kedua yang bernama Henry A. Harrington dan berusia sekitar 25 tahun. Sementara, Owen Wilson adalah cucu dari anak ketiga yang bernama Sophia Harrington dan berusia 20 tahun. Mereka memiliki rentang usia lebih muda dari Hugo, karena orang tua mereka menikahnya cukup jauh.

"Cucu-cucu, Kakek, sudah besar semua, ya! Kapan kalian akan menikah? Kakek ingin segera menimang cicit dari cucu Kakek."

"Harusnya Hugo aja itu yang nikah, dia 'kan sudah kepala tiga, tapi belum nikah-nikah," ucap Luna menggerutu menanggapi ucapan Kakeknya.

"Iya tuh, bener kata Luna. Lagian kita masih terlalu muda untuk menikah dan masih mau menikmati masa muda," celetuk Owen tak kalah sengitnya dari Luna.

"Hei, kalian berdua masih muda sudah berani menyindir yang lebih tua, ya!" sanggah Hugo tak terima dibicarakan langsung oleh kedua sepupu kandungnya itu.

"Sabar, ya, Nak Hugo. Mereka memang seperti," cetus Sophia sambil tertawa lemah lembut.

"Hahaha, iya benar kata istriku. Jangan terlalu dimasukkan hati, ya, Hugo," ujar Cyrus ikut menimpali.

"Bibi Sophia dan Paman Cyrus, kalian tenang saja, aku tidak memasukannya dalam hati," ujar Hugo sembari tersenyum menenangkan.

"Sekarang kalian sibuk apa, Cyrus?" tanya Edward, yang penasaran dengan kegiatan dilakukan menantunya itu.

Dilain sisi David memilih diam memperhatikan keluarganya itu saling bercengkrama.

"Sibuk buka usaha baru, Ayah," jawab Cyrus.

"Ayah sangat senang mendengar perkembanganmu, Cyrus. Semoga sukses dan usahamu lancar," ucap Edward bahagia melihat perkembangan ekonomi Cyrus. Terakhir kali Edward berjumpa dengan Cyrus, Cyrus masih menjadi pegawai disebuah perusahaan di kota Lumina.

"Terima kasih, Ayah, atas dukungan dan doanya. Itu semua karena bantuan, Ayah," pungkas Cyrus senang karena pujian dari mertua.

Edward berganti menatap Hugo. Dia bertanya, "Hugo, bagaimana persiapan ulang tahunmu?"

"Semua lancar, Kakek. Yang jelas nanti aku hanya mengundang beberapa rekan bisnis yang terdekat sama aku, Kakek," jawab Hugo mantab. Dia telah sangat menyiapkan segalanya untuk ulang tahunnya dirinya dan juga perusahaan.

"Bagus sekali, Kakek bahagia mendengarnya. Sudah 50 tahun perusahaan kita berdiri, itu semua berkat kelahiran Hugo yang membawa keberuntungan perusahaan sampai sekarang."

"Hahaha, terima kasih banyak pujiannya, Kakek. Aku rasa bukan karena kelahiran aku, tapi karena usaha Ayah yang mempertahankan perusahaan sampai sejauh ini."

"Tentu saja Ayahmu pekerja keras, Hugo, sampai-sampai lima tahun lalu membuat perusahaan turun peringkat. Contoh itu Cyrus, dia tidak pernah mengalami penurunan, bahkan sekarang mengalami peningkatan," jawab Edward menyindir David.

Terdengar nadanya Edward tidak bersahabat. Itu membuat suasana yang semula bahagia, tiba-tiba hening.

David yang semula terdiam dan menyadari suasana berubah. Dia berusaha mengubah topiknya. "Ah, bagaimana kalau kita makan-makan dulu? Ini sudah jam makan malam dan pasti pelayan sekarang sudah selesai menyiapkan," tangkas David.

"Ayo, Paman David," celetuk Owen, "aku juga sudah lapar nih. Lagian ada-ada aja, makanan aja belum disiapkan sebelum kami datang. Jadinya kami terpaksa menunggu, 'kan?"

Owen tak kalah sewot dari Edward. Owen tak terlalu suka jika Kakeknya selalu memberikan sindiran kepada David. Menurut Owen, David bukanlah orang seperti yang dikatakan Edward.

"Nah betul itu. Ayo kita makan dulu," ajak Hugo.

Hugo memang tak lupa bagaimana penurunan perusahaan lima tahun lalu dan bukan begini caranya Edward melampiaskannya dengan selalu membandingkan David dengan Cyrus. Rasanya Hugo ingin marah pada Kakeknya itu. Namun, apa dayanya. Hugo tidak mungkin melawan Edward.

Mereka semua segera melangkah untuk berpindah ke ruang makan. Obrolan pun berlanjut dengan tawa dan candaan di ruang makan.

Mereka saling berbagi cerita, dan menikmati makanan yang tersaji diatas meja. Meskipun ada momen ketegangan, kebahagiaan mereka tak akan luntur.

●•●•●•●        ●•●•●•●        ●•●•●•●

Di pagi hari yang cerah. Sebagian orang mungkin mengira hari yang cerah adalah pertanda yang baik, tapi tidak dengan Mia.

Mia menatap gelas kopi yang masih penuh dan dalam tatapannya penuh dengan kebimbangan. Lalu, ia berganti menatap Ryan yang duduk didepannya.

Setelah tiga bulan bekerja sebagai pelayan di kafe ini, Mia memutuskan bahwa saatnya untuk mengundurkan diri.

Ada alasan yang sangat pribadi yang membuatnya harus pergi, tetapi ia tidak bisa mengatakannya kepada siapa pun, termasuk kepada Ryan.

Hatinya berdebar. Ia tahu bahwa ini akan menjadi percakapan sulit. "Ryan, ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu," ucap Mia dengan suara lembut.

Ryan melihat Mia dengan penuh perhatian. "Apa yang terjadi, Mia? Apakah ada masalah?"

Mia menggelengkan kepala, mencoba menahan air mata yang siap untuk keluar. "Tidak ada masalah denganmu atau dengan kafe ini. Tapi, ada alasan yang sangat pribadi yang membuatku harus pergi. Maaf, aku tidak bisa memberitahumu lebih lanjut."

Ryan menatap Mia dengan kebingungan dan kekhawatiran. "Mia, aku menghargai privasimu, tapi aku nggak ingin kehilanganmu. Bisakah kita mencari solusi bersama?"

Mia tersenyum dengan penuh haru. "Ryan, kamu selalu menjadi bos yang baik dan memahami. Tapi, aku harus pergi. Aku berharap kamu bisa mengerti."

"Mia ... kenapa kamu selalu pergi dari hidupku? Dulu pun juga sama, disaat aku selalu mengunjungi kamu di penjara. Kamu malah memutuskan hubungan pacaran kita. Ada apa? Apa karena Hugo sialan itu?" tanya Ryan sudah kehabisan kesabaran.

"Bukan begitu, Ryan ..."

"Katakan, Mia!"

"Kemarin kita sudah membahasnya, Ryan. Jadi seharusnya kita nggak perlu membahas hal ini lagi."

"Hanya itu? Nggak masalah orang mau menatap aku bagaimana, yang penting kamu ada di sampingku!"

"Maaf, Ryan. Tapi, menurutku itu keputusan terbaik yang bisa aku lakukan, biar hidupmu baik-baik saja. Lihat sekarang, kamu sudah sukses, 'kan? Jadi pertahankan kesuksesanmu itu, Ryan."

"Mia! Kita belum selesai bicara!" Ryan berteriak kala Mia berdiri dari kursi. Sontak Mia terkejut. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Mia melihat Ryan semarah ini.

"Kamu nggak paham, Mia. Aku sudah mencoba mengikhlaskanmu, tapi gak bisa! Kamu wanita yang paling aku cintai. Kumohon jangan keluar, ya," ucap Ryan memelas, berharap Mia akan mengerti.

Mia mengambil napas dalam-dalam. Ia tidak bisa berbuat banyak, ia tahu ini akan menyakitkan bagi Ryan dan mungkin tidak akan bisa kembali seperti dulu. Namun, mungkin ini adalah pilihan terbaik meski itu menyakitkan bagi Ryan.

"Maaf aku nggak bisa dan terima kasih, Ryan. Aku akan selalu mengingat waktu yang aku habiskan di sini. Semoga kafe ini terus berkembang," jawab Mia dengan perasaan serba salah.

Mia segera melangkah sedikit, lalu tangannya terulur mengambil kandang berisi dua anakan anjing dan tas untuk keperluan mereka. Mia menatap sebentar kandang tersebut dan berganti menatap Ryan.

"Tolong, titip bentar ya peliharaan aku. Nama mereka Rika dan Riko. Semua keperluan mereka ada didalam tas ini." Mia menaruh kedua benda tersebut diatas meja.

.                                 Bersambung...

Love's Unexpected PathTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang