Mia dengan hati-hati mengangkat sedikit roknya. Kemudian, mengambil tas belanja lipat, yang telah dia sengaja menyimpan di kantong celananya sejak di rumah.
Ia sengaja menyelipkan tas lipat untuk menyimpan gaunnya yang sedikit tebal ini. Guna untuk memudahkannya berjalan dan tak terhalang gaun ini.
Mia melepas gaunnya tersebut. Hal itu memunculkan pantulan dirinya, yang mengenakan kaos lengan pendek serta celana ketat. Ia sengaja memakai double pakaian, agar tidak menyusahkan dirinya untuk mengganti pakaian setelah gaun dilepas.
Selesai semua keperluan menyamar. Mia lekas memakai masker dan menguncir rambutnya. Mia tidak peduli dengan rambutnya yang acak-acakkan dan segera ia mendekati pintu kamar mandi.
Sedikit tangannya menarik pintu, untuk melihat keadaan villa itu. Ternyata villa itu tiba-tiba hening tanpa suara siapapun. Kemungkinan hampir seluruh tamu undangan sudah di evakuasi.
Setelah memastikan bahwa kondisi sekitar aman, lalu Mia keluar dengan berjalan mengendap-endap. Mia bergerak perlahan dan hati-hati saat ia memeriksa setiap ruangan di villa untuk mencari bukti.
Semua pintu terkunci dengan baik, tetapi tiba-tiba Mia menemukan satu pintu yang tidak terkunci. Tanpa ragu, Mia memasuki ruangan tersebut dan menutup pintunya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Ini terasa aneh, kenapa hanya satu kamar yang tidak di kunci? Aku harus berhati-hati, biar nggak ke tangkap, batin Mia untuk mensugesti diri sendiri.
Mia segera menyalakan lampu di dalam ruangan tersebut.
Mia mulai mencari bukti. Dimulai dari meja, bawah tempat tidur, dan lemari besar.
Saat mencapai lemari nakas, Mia dengan pelan menarik laci lemari itu. Dengan rasa terkejut, Mia mendapati sebuah buku dan flashdisk. Ia segera mengambil buku itu dan membaca halaman pertamanya.
Buku milik siapa ini? tanya Mia dalam batin.
Ia terus membaca halaman berikutnya dan berhenti di halaman ketiga. Tertulis di sana ada yang menyebutkan diri sebagai Ibu dari Hugo.
Jadi Alina nama ibu Hugo. Kurasa nggak mungkin almarhum ibu Alina yang menaruh 2 benda ini, beliau 'kan sudah lama meninggal ... atau mungkinkah Hugo sendiri? Sadar Mia! Itu mustahil Hugo yang melakukannya, batin Mia.
Ia lekas menaruh kedua benda tersebut ke dalam tasnya. Sebenarnya dalam benak Mia, ia merasa curiga dan bertanya-tanya apakah ini benar-benar bukti yang dia cari?
Jika ini adalah rekaman dari yang dilakukan almarhum Alina, itu terasa janggal sekali. Apalagi beliau pun sudah lama meninggal. Dan, seharusnya kamar ini sudah dibersihkan dan tidak ada barang-barang seperti ini ditinggalkan.
Mia menggelengkan kepalanya. Ini bukan waktunya terlalu berpikiran banyak. Ia harus secepatnya keluar dari kamar ini. Mia tidak tahu, apa yang akan terjadi setelah ia keluar dari villa ini.
Selesai Mia selesai menemukan barang yang dicarinya, ia mulai membuka jendela dan keluar dari jendela dengan hati-hati. Dengan perlahan, Mia mengangkat badannya untuk keluar dari jendela.
Untungnya kamar milik almarhum Alina, tepat berada di lantai satu. Jadi itu memudahkan Mia untuk mendarat dengan lembut di luar.
Mia memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya, saat ia meninggalkan kamar almarhum Alina secara diam-diam.
Mia melanjutkan perjalanannya dengan hati-hati untuk tidak menimbulkan kecurigaan.
Setelah keluar dari jendela dengan hati-hati, Mia berjalan pelan menuju area yang lebih terbuka. Tak lama setelahnya, ia tiba-tiba bertemu dengan seorang penjaga yang sedang berjaga untuk memeriksa lokasi.
Mia merasakan detak jantungnya berdegup kencang, saat menyadari bahwa ia harus segera bersembunyi agar tidak ketahuan. Dengan cepat, Mia mencari tempat perlindungan yang aman. Ia berusaha berjalan pelan, berharap dapat menghindari perhatian satpam.
Tanpa disadari, langkah Mia yang berusaha hati-hati justru membuat suara kecil yang menarik perhatian para penjaga itu. Alhasil, para penjaga itu berbalik dan segera mengarah ke Mia.
Mia merasa panik dan refleksif. Dia tahu bahwa dia harus segera melarikan diri sebelum situasi semakin rumit. Mia memutuskan untuk berlari secepat mungkin, dengan harapan dapat menghindari penangkapan. Satpam itu segera mengejar Mia dengan penuh determinasi.
Hanya saja, Mia bukannya ke lari ke luar jalanan. Justru ia mengarah kembali ke dalam villa. Mereka saling kejar-kejaran pun dimulai. Mia berlari melalui berbagai rintangan dengan lincah.
Dia menggunakan segala keterampilan dan kecepatannya untuk menghindari tangkapan para penjaga yang semakin dekat. Namun, Mia menyadari bahwa dia tidak akan bisa bertahan lama dalam keadaan ini.
Tiba-tiba, saat Mia hampir putus asa, seseorang tiba-tiba muncul di hadapannya. Orang tersebut dengan sigap menarik Mia ke samping tembok kamar mandi.
Mia merasa lega karena berhasil menghindari tangkapan para penjaga, berkat bantuan orang tersebut.
Mia menoleh ke arah orang itu dan melihat wajah yang ramah. Orang itu mengisyaratkan agar Mia tetap diam. Mia merasa berterima kasih tas pertolongan orang itu, yang ternyata tangan kanannya yang berhasil menyelinap masuk.
. Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Love's Unexpected Path
RomanceMengisahkan perjalanan tak terduga dalam hidup Mia dan Hugo. Keduanya memulai kisah mereka dengan perasaan benci yang saling membara, namun ketegangan di antara mereka tidak dapat diabaikan. Mia, seorang wanita yang tegar dan mandiri. Ia memiliki ma...
