Bab 17

3 0 0
                                        

Dengan wajah penuh pertanyaan, Mia masih tak bergeming dari tempat duduknya. Ia sangat terkejut dan tidak bisa dipercaya bahwa hal seperti itu terjadi.
Air mata mulai mengalir di pipinya saat ia merasa sangat sedih. Mengapa ada hal ini terjadi?

Ditengah kesedihannya, Mia mengingat jelas ada suara pria lain di akhir rekaman. Suara itu terdengar akrab, tapi ia tidak mengenali siapa itu. Pikirannya berkecamuk, mencoba mencari tahu siapa pria itu.

Mia segera menghapus airmatanya. Ia mengambil flashdisk kosong di laci lemari mejanya. Mia akan menyalin file itu dan menyimpannya dalam beberapa sebagai cadangan. Ini akan membantu dirinya untuk mudah mengecoh musuh dan musuh akan bingung flashdisk mana yang asli atau sekedar salinan saja.

●•●•●•● ●•●•●•● ●•●•●•●

Beberapa jam setelah Mia menyalin. Siang ini Mia memutuskan untuk keluar rumah. Ia pergi ke taman, taman yang dulu selalu Mia dan Ryan kunjungi dan menghabiskan waktu disana. Ia berharap tempat itu bisa memberikan sedikit kelegaan bagi pikirannya yang kacau.

Mia melirik atas langit, terlihat awan mendung di kejauhan saat ia mendekati taman yang hanya sedikit pengunjungnya. Ia tidak mundur, melainkan terus maju menuju taman.

Setelah tiba di sana, Mia duduk di bangku dan mulai mengambil buku gambarnya. Dengan pensilnya, dia membentuk garis-garis yang merefleksikan isi hatinya.

Saat Mia asyik menggambar, hujan mulai turun. Dia segera menyadari hal itu dan memasukkan buku gambarnya ke dalam tas. Mia mengambil payungnya dan melangkah pergi dari taman.

Di tengah hujan, Mia berjalan cukup jauh dari taman. Tanpa diduga, dia melihat Hugo sedang menutup kap mobilnya. Mia panik dan segera berusaha melarikan diri, masih takut dengan tragedi yang pernah ia terima dari Hugo.

Sementara itu, Hugo melihat Mia pergi, ketika dia ingin masuk ke dalam mobilnya. Dia samar-samar melihat corak payung yang dimiliki Mia, yang mengingatkannya pada seorang anak kecil di masa lalunya.

Hugo segera masuk ke dalam mobil, tidak ingin terkena hujan. Namun, dia merenung dan bertanya-tanya apakah pemilik payung itu benar-benar Mia? Meskipun ragu, dia masih tidak percaya bahwa Mia adalah pemilik payung itu.

Hugo yang tak ingin terlalu tenggelam dalam pikirannya, dia segera mengambil ponselnya. Dia ingin menelepon seseorang yang dipercayanya dan memastikan apa yang dipikirkannya.

"Halo, Pak Agus. Saya butuh kamu cari tahu latar belakang Mia, secepatnya saya butuh informasinya. Dan, jemput saya di alamat yang saya kirim dan panggilkan mekanik untuk jemput mobil saya."

Sambungan telepon itu berakhir. Hugo menaruh ponselnya di dasbord. Lalu, menatap kaca mobilnya terkena hujan cukup lebat. Pikirannya terus berkelana, memikirkan rapat investor yang terjadi hari ini.

Mereka semua ingin membatalkan perjanjian investasi atas bisnis hotel yang baru dirintis di perusahaan milik Hugo karena kasus penembakan yang terjadi. Terutama putri dari ayah yang tertembak, dia tak terima dan memiliki tujuan akan menuntut Hugo.

Sekarang Hugo benar-benar dihadapkan hal yang sangat sulit. Satu-satu harapannya hanya bisa mengandalkan bisnis batubaranya yang masih dicari banyak orang, baik orang luar kota atau warga kota itu sendiri.  Karena hanya bisnis Hugo, satu-satunya yang menjualkan hasil tambang dari kota itu.

●•●•●•● ●•●•●•● ●•●•●•●

Hugo duduk di dalam mobilnya, memandangi jendela yang terus-menerus ditutupi oleh rintik-rintik hujan. Suasana di dalam mobil terasa hening, hanya terdengar suara rintihan angin dan tetesan air yang jatuh ke atap mobil.

Hatinya gelisah, karena dia ingin pulang ke rumah kakeknya hari ini untuk berbagi cerita dan merencanakan yang seharusnya dilakukan kedepannya. Namun, semua itu batal karena wartawan terus menerus menghampirinya di rumahnya maupun di rumah kakeknya.

"Pak Agus, kita putar balik saja," ucap Hugo tiba-tiba, mengalihkan pandangan ke arah supirnya.

Agus yang sedang fokus mengemudi, terkejut mendengar permintaan tiba-tiba dari Hugo. "Maaf, Pak Hugo? Apa yang terjadi?"

Hugo menghela nafas panjang. "Beberapa hari belakangan ini, wartawan terus mengganggu saya. Mereka ingin tahu segala sesuatu tentang masalah yang terjadi. Saya merasa perlu waktu untuk berpikir."

Agus mengangguk mengerti. "Baik, Pak Hugo. Mau ke mana kita sekarang?"

Hugo merenung sejenak, mencoba merapikan pikirannya yang kacau. "Kita jalan-jalan saja, bebas. Aku butuh waktu untuk meredakan perasaanku yang tak karuan sekarang."

Mobil melaju perlahan di tengah hujan yang semakin deras. Hugo memandangi jalan yang basah dan pohon-pohon yang berayun diterpa angin. Dia merasa lega bisa melarikan diri sejenak dari semua tekanan dan perhatian yang mengelilinginya.

Setelah beberapa saat, Hugo melihat papan petunjuk yang menunjukkan adanya taman hutan di dekatnya. "Supir, kita berhenti sebentar di taman hutan itu."

Hugo mengangguk dan menepikan mobil di tepi jalan. Hugo keluar dari mobil, merasakan tetesan hujan yang masih membasahi bumi menyentuh wajahnya. Dia berjalan pelan ke arah taman hutan, menikmati keheningan dan keindahan alam di sekitarnya.

Di dalam taman hutan, Hugo menemukan sebuah bangku kayu yang terlindung oleh pohon-pohon rindang. Dia duduk di sana, membiarkan hujan mengguyurinya. Pikirannya melayang jauh, mencoba mencari jalan keluar dari kekacauan yang sedang dia hadapi.

Hujan ini juga membuatnya teringat pada mendiang ibunya, yang dulu selalu merawatnya meski sering diomeli karena kegemarannya bermain hujan-hujanan. Entah kenapa, Hugo merasa rindu momen-momen itu dan berharap bisa diulang kembali saat ini.

.                                Bersambung...

Love's Unexpected PathTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang