Razky menuruni tangga rumahnya bersiap untuk pergi ke sekolah, ia tersenyum ketika melihat ayah nya duduk di meja makan, Razky mendekati ayahnya untuk berpamitan.
"Ayah Razky berangkat dulu" Razky mengulurkan tangannya hanya saja tak kunjung dibalas oleh ayahnya.
"Pergi!" Dion berucap tegas, Razky tersenyum gentir menanggapinya, ia mengangguk dan berjalan meninggalkan meja makan, tetapi baru beberapa langkah ucapan Ayahnya membuatnya terhenti.
"Ulangan matematika mu hari ini dibagikan, kamu tau saya benci nilai yang tidak sempurna" Dion berucap Angkuh.
"Baik Ayah, Razky paham" Ucap Razky menunduk dalam, ia melangkahkan kakinya menuju bagasi dan mengambil motornya.
Razky melajukan motornya menuju Sekolah, setelah sampai ia turun dan bergegas menuju kelasnya, tak sengaja netranya menangkap sosok Devano di depan ia pun memutuskan untuk memanggilnya.
"DEVANO!" Devano yang merasa namanya dipanggil pun menghentikan langkahnya berbalik mencari sumber suara yang tadi memanggilnya.
Razky tersenyum hangat dan berlari menyusul Devano yang berada didepan nya.
"Tumben berangkat pagi?" Tanya Devano menatap heran Razky.
"Lagi pengen aja" Ucap Razky, Devano mengangkat bahunya acuh dan kembali berjalan menuju kelasnya.
Begitu juga dengan Razky ia berjalan di samping Devano.Setelah mereka sampai, mereka langsung duduk di tempat duduk masing-masing.
Razky sesekali melirik Devano yang fokus pada layar ponselnya, Devano terus tersenyum tipis membuat Razky menatapnya bingung.
"Bahagia banget Dev, siapa tuh?" Ucap Razky sedikit meledeknya.
"Bukan siapa siapa" Ucap Devano santai.
"Masaa, Lo punya pacar yaa?" Tuding Razky penuh selidik.
"Ck, bukan, ini Abang gue" Ucap Devano yang menunjukan Room chat bersama Abangnya.
"Abang lo yang di LA?" Tanya Razky, Devano hanya menganggukan kepalanya.
"Kenapa Lo pisah sama Abang Lo?" Tanya Razky sedikit penasaran.
"Gue lagi nyari seseorang Raz" Devano memasukan ponselnya kedalam saku seragamnya.
Razky menatap Devano, ia mulai penasaran dengan latar belakang Devano, apa tujuan Devano pindah?, kenapa ia berpisah dengan abangnya?, dan siapa orang yang tengah di carinya?.
"Siapa yang Lo cari Dev?, siapa tau gue bisa bantu" Devano menghembuskan nafasnya pelan.
"Maaf, gue gak bisa ngasih tau" Devano berucap pelan. Ia menundukan kepalanya merasa tak enak pada Razky.
"Gak papa, gue paham, maaf kalau pertanyaan gue bikin Lo gak nyaman" Razky bisa memaklumi Devano, ia juga akan bersikap sama jika itu terjadi padanya karna ia pikir tak akan mudah untuk percaya pada seseorang.
"Maaf Raz saat ini gue belum bisa percaya sama siapa pun termaksuk Lo" Batin Devano berucap lirih.
Sesaat kemudian bel sekolah berbunyi menandakan bahwa pembelajaran sudah memasuki jam pertama.
"Hari ini hasil ulangan dibagiin kan?" Devano menjawab nya dengan anggukan.
Pak Rohmat guru matematika mereka kini memasuki kelas XII MIPA 2 yang merupakan kelas Razky dan Devano.
"Baik anak anak bapak akan mengumumkan nilai tertinggi untuk ulangan kali ini" Ucap pak Rohmat, Razky menatapnya cemas.
"Nilai tertinggi kali ini di raih oleh Devano Gerland, Dengan perolehan nilai 100, Ayo Devano ambil kertas Ulangan punyamu"

KAMU SEDANG MEMBACA
REVAGE : NEXT VERSION
Teen FictionRazky Arasyka, Seorang anak yang di benci oleh ayahnya sendiri, karna ibunya meninggal pada saat melahirkannya. "PEMBUNUH SIALAN!!" PLAK PLAK "Dengarkan saya, KAMU ITU HANYA ANAK PEMBAWA SIAL!!" Razky hanya menginginkan kasih sayang Ayah nya nam...