Hardian membalas uluran tangan Fino, sebagai pertanda bahwa kedua kubu akan bekerja sama untuk menuntaskan misi dari masing-masing kubu. Fino bisa cukup berpuas diri karena sekarang ia punya lima rekan, sekarang ia hanya perlu 'merekrut' Duo Begundal. Keikutsertaan mereka sangat penting bagi Fino. Nampaknya mereka lebih mengetahui tentang perkumpulan tersebut ketimbang dirinya. Tapi masalahnya ia tak yakin NinJi mau menerima mereka berdua dalam tim. Dan sebaliknya, ia tak yakin Duo Begundal mau satu tim dengan Detektif Ninji. Mereka 'kan berseteru. Itulah mengapa sampai sekarang ia belum menceritakan apapun tentang apa yang ia dengar dari obrolan Yudha dan Jonathan di rooftop kala itu.
"Hati-hati kesambet," celetuk seseorang yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
Fino terkekeh ringan menanggapi ucapan random dari Moza.
"Malah ketawa. Lo tuh jangan keseringan ngelamun, gak baik. Apalagi di tempat sepi begini."
"Iya-iya, adek Moza." Kini giliran Moza yang terkekeh
"Kok lo tahu gue ada di sini?"
"Udah dari dulu ya gue tahu lo suka menyendiri di rooftop. Tapi gue gak pernah ke sini karena gue pikir lo lagi gak mau di ganggu."
"Terus kok baru sekarang lo ke sini?"
Moza menghela napas. "Lagi gak ada temennya nih. Si sipit lagi sibuk ngerjain PR MTK yang bakal dikumpulin nanti, gak bisa di ganggu. Si bulat lagi dikejar-kejar sasaeng-nya tuh, sekarang 'kan dia ultah. Sedangkan yang lain entah pada kemana. Yaudah deh gue ke sini aja gangguin lo."
Fino nyengir kuda mendengar nickname yang disebutkan Moza untuk Nicho dan Enji, si sipit dan si bulat. Si sipit, karena Nicho bermata sipit. Dan si bulat, karena Enji bermata bulat. Kira-kira nickname seperti apa ya yang akan diberikan Moza untuknya? Haduh, jadi ngarep. Tapi setelahnya Fino tersadar akan sesuatu.
"Enji ultah hari ini?"
Moza mengangguk. "Gue baru tahu tadi, dikasih tahu Eka."
Fino mengetuk-ngetuk dagunya, "kira-kira Enji suka gak ya kalo gue kasih kado buku gambar?"
Seketika Moza memukul bahu Fino. "Lo pikir anak TK?"
"Bercanda." Fino tertawa. "Btw, gimana PDKT lo ke Haikal?"
Fino membuka topik lain. Walaupun sedikit menyakitkan untuknya.
Moza justru mendengus. "PDKT apanya? Gue gak ngerti caranya PDKT."
"Lah gimana? Lo 'kan udah terbiasa deket sama anak cowok."
"Kalo deket sebagai temen, iya. Tapi kalo deketnya lebih dari itu sih gak bisa."
"Yaudah lo deketin tuh si Haikal, deket sebagai temen dulu maksud gue, baru abis itu lo PDKT yang sesungguhnya."
"Gue emang mudah akrab sama cowok, tapi lihat-lihat orangnya juga lah. Haikal 'kan dingin banget, irit ngomong, mukanya lempeng, jarang senyum, susah diajak bercanda----"
"Tapi lo suka, 'kan?"
Moza meringis, "sayangnya iya."
Fino tersenyum. Senyum menahan sakit maksudnya.
Moza kembali manyun. "Tapi ya itu tadi, gue gak bisa akrab sama Haikal. Gue juga gak ngerti caranya caper ke cowok." Moza menghela napas pasrah, "andai aja semua cowok bisa kayak lo, Fin."
Deg!
Fino tertegun. Apakah Moza tak tahu bahwa ucapannya barusan membuat Fino serasa ingin terbang? Moza tak menyadari bahwa Fino sedang berusaha sekuat tenaga untuk terlihat biasa-biasa saja. Padahal aslinya....Fino ingin pingsan saja rasanya! Detak jantungnya berdetak sangat cepat, kedua pipinya terasa panas. Ia merutuk dalam hati, semoga Moza gak sadar kalo Fino lagi baper dan salting berat.
KAMU SEDANG MEMBACA
NAWAMARGA
Mystery / ThrillerKembalinya Kio setelah dikabarkan menghilang merupakan awal dari segala masalah. Kini, ia telah resmi menjadi "Misteri Terbesar Sekolah Tahun Ini". Atas semua keanehan yang terjadi membuat Fino sebagai sahabat Kio tidak mau tinggal diam. Maka, diban...
