Bara sedang asyik menikmati secangkir kopi sambil bersiul-siul. Dia menoleh ke arah Aksan yang kini tersadar dengan tubuh masih terikat di atas kursi plastik.
Pemuda itu mengambil ponselnya, membuka kamera dan mengarahkannya ke arah Aksan.
"Say cheese...."
Bara mengirimkan foto itu kepada Jaglion sebagai peringatan ketiga.
Beberapa hari lalu saat dia menemui Jaglion, sebenarnya dia menawarkan sebuah kesepakatan yang menurutnya tidak merugikan salah satu pihak.
Tapi Jaglion menolaknya karena dia punya banyak bukti kejahatan Bara yang berhasil dia kumpulkan.
Tujuan utama Jaglion memang menghancurkan Bara dan membebaskan Ricky.
Jika Bara hancur, setengah bahayanya juga ikut hancur. Itu sebabnya Jaglion menolak tawaran itu.
Namun itu membuat amarah Bara memuncak. Jadi dia menawarkan sesuatu yang lain.
Death Game.
Tujuan game itu adalah membunuh salah satu petinggi Cyber Space atau Oscar.
Meskipun Jaglion tidak mengiyakan, ternyata Bara sudah bertindak lebih dulu dengan menyekap Aksan sebagai level pertama.
Bara berdecak pelan karena pesannya hanya dibaca.
"Bukannya lo punya adik cewek, ya? Siapa namanya? Zira? Ziya?"
"Jangan berani lo sentuh dia," kecam Aksan dengan suara lirih. Dia tidak mendapatkan air minum sejak Bara menangkapnya.
Pemuda itu bahkan sudah babak belur, tapi menolak meminta tolong anggota Cyber Space.
Dia salah satu anggota paling setia.
"Gue penasaran," Bara tersenyum miring. "Cantik, kan? Buat gue ya?"
"B*ngs*t," gumam Aksan. Dia mencoba mendongak, membalas tatapan Bara yang kini sedang meneguk kopinya.
"Game ini akan berakhir setelah gue mati, kan? Gue bakal mati secepatnya."
"Salah," Bara tertawa pelan. "Lo bakal tetap hidup. Tapi nunggu salah satu atasan lo mati. Kalo ternyata lo mati sebelum mereka datang, artinya kalian akan mati bareng."
Bara beranjak dari duduknya sambil membawa kopi yang masih lumayan panas.
"Lo haus?" Bara menyiramkan kopi itu ke wajah Aksan, tapi pemuda itu tetap diam dan tak berontak.
"Lo nggak suka kopi, ya? Soda?" Bara mengambil sebotol minuman bersoda dari lemari pendingin, lalu menyiramkannya ke wajah Aksan lagi.
Aksan hanya memejamkan mata. Tenaganya sudah habis karena semalam melawan 5 anggota Oscar.
Meskipun 3 orang mengalami luka yang serius, tapi Aksan tetap tumbang. Dia tak sehebat Wildan yang mampu melawan 10 orang tikus sekaligus.
Dia juga tak sekuat Jaglion yang mampu mengatasi cecunguk-cecunguk itu dengan mudah.
Level Aksan masih dibawah mereka meskipun dia salah satu fighter yang disegani di Cyber Space.
"Lo nggak suka soda juga? Mau air yang lebih banyak?" Bara membuka pintu ruangan itu, kemudian berteriak memanggil bawahannya untuk membawakan air dalam jumlah banyak.
Satu jeligen air berisi 15 liter dia siramkan ke tubuh Aksan yang hanya bisa pasrah.
"Sial!" Bara melepas sepatunya. "Gue ikut basah gara-gara lo," dia berjongkok dan mengecek Aksan yang setengah sadar.
"Jangan mati dulu. Lo belum ketemu adik lo. Setelah kalian ketemu, baru lo boleh mati, oke?"
🏮🏮🏮
KAMU SEDANG MEMBACA
IGNITES (END)
Novela Juvenil(Tersedia Versi eBook) Mendengar namanya saja sudah membuat Wilona bergidik ngeri, apalagi bertemu dengan sosoknya langsung. Mungkin Lona akan kabur begitu melihat bayangannya saja. Jaglion, si cowok paling sadis 'katanya'. Bukan hanya wajahnya yang...
