Pak Martin sedang tidur saat aku tiba di asrama dan memintanya membukakan gerbang. Terlihat jelas kalau pria tua itu sedang mengantuk berat, di tambah sausana asrama yang sangat sepi siang itu. Bahkan hanya terdapat dua sepeda motor di parkiran.
Buru-buru aku naik ke kamar, melemparkan kotak hadiah ke atas ranjang, lalu melepaskan pakaian yang membalut tubuhku, sebelum menggantung jaket merah muda tersebut ke gantungan di belakang pintu, dan akhirnya menyambar handuk kuning di sebelahnya. Berhubung tadi pagi aku tak berani mandi akibat udara yang terlalu dingin, maka sekarang kuputuskan untuk membersihkan diri. Tubuhku terasa lengket dan menjijikkan.
Begitu berada di dalam kamar mandi kutatap pantulan diriku sendiri di depan kaca. Semuanya masih sama. Bahkan sejak pertama kali aku tiba di sini lima tahun lalu. Ruangan ini, suasana ini dan keraguan ini. Tubuhku tidak terasa sudah mulai menua. Dan meskipun aku sudah nyaman, cepat atau lambat aku memang harus segera meninggalkan asrama, mencari tempat tinggal baru dan memulai kehidupan lain. Maksudku, tidak benar-benar lain. Hanya saja ..., sungguh dulu kupikir satu-satunya kesempatanku meninggalkan asrama adalah karena pernikahan, bukan kebimbangan karena harus membawa ibuku tinggal.
Sejak kecil aku dan Ibu sudah sering tidak cocok dalam banyak hal. Dan ini jugalah yang membuatku dilanda keraguan. Aku menyayangi Ibu hanya saja aku bahkan belum pulih dengan diri sendiri.
Kubiarkan air membasahi kulit kepalaku. Menyembunyikan air mata yang perlahan jatuh membasahi wajah. Entah bagaimana kini aku menyesal tak pernah mendengarkan Ibu. Kalau saja aku menurut, sudah pasti kulepaskan Ilham sejak dahulu. Yah, ini dosaku. Ibu begini karena keegoisanku. Masih pantaskah aku menambal rasa bersalah dengan ego baru?
*_*
"Yang baru pulang liburan!" Itulah kata pertama yang Devara berikan setelah hampir tiga hari kami tidak bertemu. Gadis itu berdiri di ambang pintu kamarku lengkap dengan ponsel pintar di tangannya. "Gimana? Seru?" lanjutnya sembari melompat ke atas kasur dan duduk di sampingku.
Aku mematikan pengering rambut. "Ya begitulah."
"Begitu apanya?" Dia kembali bertanya dengan nada sedikit menggoda. "Omong-omong, sudah jadian belum?"
"Jadian?"
Apa yang dia bicarakan?
"Iya. Jadian."
"Siapa?"
Bukannya menjawab Devara malah memutar bola matanya sembari mendengkus kesal. "Ya lo lah, Mbak Maya. Siapa lagi?" Dia mengambil bantal dan memeluknya erat. "Nggak usah berlagak bodoh deh. Semua orang juga tahu kalau Mas Hans suka sama lo. Lagian, kalau gue jadi lo sih, Mbak, daripada meratapi nasib ditinggal Ilham, mending sama Mas Hans."
"Ngelantur!" Aku berdiri untuk meletakkan kembali pengering rambut ke meja rias. "Jangan ngawur kalau bicara, Dev. Kalau didengar orang nggak enak."
"Lha, kenapa? Lagian orang-orang juga sudah tahu kali kalau Mas Hans suka sama lo."
Dia benar-benar sudah gila.
"Sudah! Daripada kamu makin nggak jelas ..., gimana soal apartemen? Sudah dapat?" tanyaku bersamaan dengan terbukanya bungkus bedak di tangankku yang langsung menyebarkan aroma mawar yang lembut.
"Ya kali? Lo baru ngomong semalam terus sekarang sudah ada. Ajaib apa gimana? Sabar. Masih diusakan sama Hasyim. Kalau sudah ada pasti gue kabarin."
"Oke."
"Eh, kotak apaan tuh?"
Dari pantulan cermin di meja rias, bisa kulihat Devara meraih kotak hadiah di sudut lain tempat tidur. Dan tanpa menoleh aku menjawabnya, "Dari Pak Johan."
"Sudah ngasih-ngasih kado saja nih. Apa isinya?"
"Mana aku tahu?"
"Nggak ada rencana buat buka, gitu?"
"Buka saja."
"Oke!" Kini, dia sungguh memegang kotak merah itu, mengocoknya sembentar, mungkin hendak memastikan apakah isinya berat atau ringan. Gambaran dari rasa penasaran yang amat sangat. "YA TUHAN, MBAK MAYA!"
Teriakan Devara seketika membuatku menoleh. Kaget. "Kenapa?"
"LO HARUS LIHAT INI SIH." Dia melompat dari atas kasur guna menghampiriku. "Ini bukannya ponsel keluaran terbaru ya? Ini mahal sih."
Astaga!
Ya, aku tak salah lihat.
Pak Johan memberiku ponsel baru? Tapi, kenapa?
Buru-buru kuambil ponsel pintarku dari dalam tas, mencari nama Pak Johan dan menekan tombol panggilan. Panggilan tersambung tetapi tidak ada balasan. Kenapa dia melakukan ini? Maksudku, ini agak berlebihan. Ini terlalu mahal. Maka kuputuskan untuk menulis pesan padanya
Maya:
Apakah Dokter sedang sibuk?
Saya butuh bicara.
"Mbak, May?"
Aku mengangkat kepala, menatap wajah Devara yang kebingungan. Tanpa berkata apa-apa, aku merampas kotak hadiah beserta isinya dan menutupnya kembali. "Aku nggak bisa menerima ini."
"Kenapa?"
"Grativikasi."
"Ampun dah!" Devara menepuk keningnya sendiri, kemudian tertawa kecil. "Terus, mau lo apakan benda itu? Lagian kalau udah tahu grativikasi, harusnya lo nggak menerima sejak awal."
"Ya kan aku nggak tahu kalau isinya ponsel. Aku bakal balikin."
TIN!
Terdengar suara klakson mobil yang amat tidak asing dari halaman besar yang seketika membuyarkan obrolan kami. Sialnya, tanpa aba-aba Devara langsung menarik tanganku untuk ikut turun keluar bersamanya.
"Lo bantuin kami ya?" katanya.
"Heh?"
"Gue sama Hasyim mau pindahan."
"Kapan?"
"Sekarang."
"Hah? Sekarang?"
Dia bahkan tahu jika aku baru tiba. Devara dengan lancar membuka pintu kamarnya, mengambil beberapa kardus dan memberikan salah satunya padaku. "Bawain turun."
"Ya ampun!"
"Eh, Mbak Maya sudah balik?" Suara Hasyim terdengar dari ujung lorong. Cowok itu tersenyum lebar padaku. Seperti biasa dia terlihat rapi dan tampan dengan baju batiknya.
Dasar pasangan gila!
Namun, mau bagaimana lagi? Mereka sudah menjadi kawanku bahkan sejak sebelum kami menjadi sama-sama gila. Benar, aku memilih mereka menjadi teman baikku dan ini konsekuensinya.
Sebenarnya barang-barang milik Devara sebagian sudah dicicil sejak lama, sehingga kali ini tak ada yang perlu banyak diangkut. Hanya saja, bagian paling melelahkan dari pekerjaan ini ialah membantunya beberes di apartemen barunya. Sebab tempat itu sangat berantakan. Khas Devara. Aku bahkan tak yakin apakah apartemen mereka akan tetap layak disebut tempat tinggal jika hanya ditangani oleh pasangan ini ke depannya.
"Lo harus belajar bersih-bersih, Dev!" kataku sambil menyapu lantai. "Karena nanti kalau kalian sudah nikah nggak ada lagi ruangan ekstra tempat kamu nitip barang."
Namun, Devara seperti biasa cuma cengengesan. "Gue bakal kirim barang-barang gue ke apartemen lo pakai kurir paket."
"Kan! Kan! Syim, pacarmu lho."
Hasyim malah tertawa. "Bukan pacar, Mbak. Calon istri."
"Kita kan mau kawin."
"Nikah dulu!" Aku membercandai keduanya. Yang kemudian dibalas kelakar. Suasana rumah ini hidup. Sangat hidup. Rumah kecil, hangat lagi penuh cinta. Sebuah rumah di mana aku pernah membayangkan ada di dalamnya bersama seorang pria. Rumah yang bahkan belum sempat ada. Namun, mengapa aku merasa amat merindukannya?

KAMU SEDANG MEMBACA
Sebuah Usaha Maya (TAMAT)
ChickLitDi usianya yang sudah kepala tiga dan siap menikah, Maya justru mendapat kabar mengejutkan bahwa adiknya, Zahra, tengah mengandung. Sialnya, di saat keluarganya di ambang kehancuran dan gonjang-ganjing, Maya terpaksa harus menelan pil pahit karena l...