— Nafsuan, tapi
enggak ngaku, dasar!
🔞🔞
"Ya, ada apa? Kamu punya pertanyaan?" Merupakan teguran sederhana yang diberi oleh Pak Kaprodi setelah Egyn melantangkan suara di tengah obrolan kami. Kulihat sang empunya langsung menggerakkan tangan di depan dada dan menyengir canggung.
"Baik, saya lanjutkan ya. Jadi ...." Untung saja kami berdua aman, kalau sampai kena hukuman, aku bisa saja mengaku tidak kenal Egyn demi menyelamatkan diriku sendiri.
"Congor lu, Nyet! Nuduh orang sembarangan aja. Jahanam!" Egyn mulai berbisik lagi, tentu setelahnya obrolan kami berlanjut.
"Gue serius! Tuh orang naksir Om Laksma ya, Njing!" sahutku.
"Om?" Egyn tampak kaget, "Lu manggil Pak Laksma yang ganteng itu dengan sebutan Om?"
Aku menganggukkan kepala.
"Gimana ceritanya, Bjir? Lu ada kaitan keluarga juga?" tanyanya.
Secara sadar aku mengangguk, tapi kemudian berlanjut dengan gelengan serius yang membuat Egyn kebingungan. "Ceritanya panjang, entar kapan-kapan gue ceritain," kataku, "Lu enggak tahu apa-apa tentang Pak Naresh?"
"Lu aja yang sok tau," sahutnya.
"Ah, lu enggak tahu apa-apa, 'kan? Lu baru kenal dengan orang itu pasti, ya?" Aku menunjuknya dengan pulpen.
"Emang lu udah kenal lama?" Lalu Egyn juga balik menunjukku dengan jari tengah.
"Enggak sih."
"Bangsat!"
"AHAHAHAH!"
Sumpah! Kali ini akulah yang tertawa cukup kencang. Pasti sekarang Egyn juga merasakan bagaimana besarnya keinginan kami untuk segera minggat dari bumi. Dan lagi-lagi semua orang melihat ke arah kami.
"Jika masih ada yang bicara lagi, silahkan maju ke depan dan gantikan posisi saya di sini." Pak Kaprodi memberi peringatan yang lebih serius, aku dan Egyn sama-sama menundukkan kepala.
Kemudian acara berlanjut lagi. Di mana Egyn berusaha untuk tidak menoleh ke arahku —ketimbang kami harus mengobrol dan kena teguran yang sama untuk ketiga kalinya.
"Jadi sohib gue ya." Hingga akulah yang mengatakan itu saat acara sudah selesai. "Mau kagak lu?" tanyaku lagi sambil menggetok puncak kepalanya pakai pulpen.
"Muka lu kayak orang sesat," sahutnya.
"Kayak lu orang paling bener aja dah," balasku.
Egyn tergelak sambil menganggukkan kepala. "Lu habis dicupang siapa?" tanyanya seraya mengiringi langkahku untuk menyusuri koridor kampus bersama-sama.
Aku langsung memegang bagian rahang kiriku dan balik tanya, "Kok lu mikir ke sana?"
"Emang lu pikir diplester gitu bakal bikin orang nebak habis disengat tawon apa?" tanyanya lagi.
"Iya." Aku melipat tangan di depan dada. "Pikiran lu kotor juga." Kemudian tersenyum penuh kecurigaan untuknya.
"Maksud lu cuma gue yang mikir gitu?"
Aku mengangguk lagi.
"Menarik," ucapnya kemudian. "Lu simpanan orang ya?"
"Lu juga simpanan orang, 'kan?" Kami terus saling lempar kalimat tanya, andai ini perang menggunakan per-tai-an hewan, aku akan memilih tai sapi untuk menamplokan wajahnya ke situ.
"Gue cuma numpang karena dilempar orang tua gue ke situ," jelas Egyn selanjutnya.
Aku tentu tergelak mendengar ucapan tersebut. "Gue juga awalnya begitu," kataku, "Selamat mencoba meluluhkan hati dari seorang pria homo ya." Kemudian aku lari dengan tawa penuh ejekkan.
YOU ARE READING
OM LAKSMADA 2
Teen Fiction[Book 2 | F I N I S H E D] 🔞sequel OM LAKSMADA You as "Aretta" And "Om Laksmada" as your type Berani menjadi gadis gila Part II seperti Aretta? Kalau kamu bosan hidup, silahkan dicoba. Jangan mampir kalau seleranya bukan di book ini plis, mohon ban...
