Welcome back Branada!
Happy reading 🤍
.
.
.
.
Dingin sisa hujan semalam masih menggigit, merayap pelan di sela-sela udara yang sepi. Matahari pagi tersembunyi di balik awan kelabu, enggan menyinari dunia yang masih basah oleh tangis semalam.
Bramasta menatap langit-langit kamar dengan kosong. Udara pagi merayap masuk lewat jendela yang setengah terbuka—dingin, tapi masih tak sedingin perlakuan bundanya.
Hening. Tak ada suara yang menyambutnya, tak ada aroma sarapan yang mengepul dari dapur. Rumah terasa sunyi—bukan sunyi yang menenangkan, tapi yang menekan. Seperti kabut dingin yang enggan sirna.
Matanya menyapu sekeliling ruangan hingga tertuju pada sebuah pigura di meja belajar. Bramasta menatapnya lama—foto dirinya dan sang Abang terpajang di sana. Senyum mereka mengembang, seolah saat itu dunia di sekitar mereka masih penuh warna.
"Bang, gue kangen lo ... sejak lo pergi, gue nggak bisa ketawa bareng lagi. Padahal dulu, lo selalu jadi alasan gue buat ketawa setiap saat ..." Suara Bramasta bergetar.
Bramasta mengepalkan tangannya, berusaha tegar. "Tapi gue tau, lo pasti masih lihat gue dari sana, kan? gue bakal tetep jalanin semuanya, gue harus ngejar apa yang gue impiin, Bang ... meskipun kosong tanpa adanya lo di sini. Tapi tenang, gue bakal tetep kuat—kayak yang selalu lo ajarin ke gue."
Jemarinya terulur, menyentuh permukaan kaca yang dingin. Sudah lama sejak terakhir kali ia melihat abangnya. Sudah lama sejak senyum itu terasa nyata—bukan sekedar bayangan yang membeku dalam bingkai.
Bibirnya terkatup rapat, matanya menelusuri setiap detail wajah kakaknya dalam foto itu—tatapan hangat, lengan yang dulu selalu merangkulnya erat. Pelukan itu pernah jadi tempat ternyaman, tempat di mana ia merasa dicintai dan disayangi.
Bramasta menghela napas pelan, lalu meletakkan foto itu kembali di meja. Jemarinya masih sedikit gemetar saat menyentuh bingkai kayu yang mulai berdebu.
Ia menegakkan tubuh dan melirik jam di dinding. Pagi sudah datang. Dengan enggan, ia bangkit dari kursi dan melangkah menuju kamar mandi.
Usai mandi, Bramasta mengenakan seragamnya. Ia memeriksa isi tas, memastikan buku-bukunya tersusun rapi. Pandangannya lalu jatuh pada gitar kesayangannya yang bersandar di sudut kamar. Sesaat ia terdiam, sebelum akhirnya meraihnya dan menggenggamnya erat, lalu melangkah turun.
Di ruang tamu, ia melihat kedua orang tuanya. Seperti biasa, ia mengucapkan salam dengan suara pelan. Namun, tak ada jawaban, tak ada sepatah kata pun untuknya. Dengan napas tertahan, Bramasta melangkah keluar menuju sekolah, tapi ...
"Brama."
Bramasta spontan menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. "Iya, Yah?"
Sambil terus menyantap makanannya, ayahnya berkata, "Hari ini kamu jalan kaki ke sekolah aja. Ayah butuh mobil dan motormu biar dipakai adikmu."
"Jangan egois, Yah. Sekolah Brama jauh, lagian sekolah adik lebih dekat daripada Brama.."
Ayahnya menatap tanpa ekspresi. "Jalan kaki. Anggap saja olahraga pagi," jawab ayahnya.
"Nanti siapa yang jemput Brama pulang?" tanya Bramasta.
Ayahnya hanya menatap dengan wajah datar. "Pulang sendiri. Udah gede juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bramasta dan Nada Kehidupan (Segera di Revisi)
HorrorBlurb Bramasta dan Nada Kehidupan By: Esha Senja Valeria Bramasta, seorang pemuda laki-laki yang sangat terobsesi dengan seni musik atau bisa dikatakan terobsesi dengan gitar miliknya. Bramasta selalu membawa gitar ke mana pun ia pergi. Dalam seti...
