08. | Garis Pantai, Garis Luka

19 4 0
                                        

Welcome back, Branada.

.

.

.

.

Bramasta pergi ke parkiran, menatap punggung Taru yang perlahan menjauh. Hanya menunduk, lalu berbalik arah. Hujan sudah reda, tapi jaketnya masih basah. Udara sore menggigit pelan.

Di sepanjang perjalanan ke pantai, pikirannya melayang. Suara motor berseliweran, lampu-lampu jalan menari di matanya, tapi semua terasa bisu.

Sesampainya di tempat terakhir yang sangat membantu Bramasta untuk menenangkan pikirannya.

Langkah Bramasta sampai di pasir yang lembut, dan akhirnya ia berhenti. Pantai sangat ramai sore itu. Langit di atasnya berwarna jingga keemasan, menumpahkan cahaya terakhir sebelum malam mengambil alih.

Bramasta melepas sepatunya, menggulung ujung celana dan membiarkan kakinya menyentuh pasir. Dingin. Tapi juga menyenangkan. Ia berjalan perlahan ke dekat air, lalu duduk membiarkan ujung ombak membasahi celana yang sudah basah sejak tadi.

Angin laut membelai rambutnya, asin dan lembut. Suara ombak seperti irama yang sudah ia kenal sejak lama—tenang, berulang, dan tak pernah berhenti.

Gitar masih ia bawa, meski kali ini tak ingin ia mainkan. Hanya ingin menikmati senja waktu itu, seperti satu-satunya yang bisa memahami isi kepalanya.

Ia menghela napas pelan sembari menutup matanya dan kembali membuka. "Langit biru ... laut biru, semuanya biru. Tapi kenapa gue warna kelabu, ya?"

"Kalo ombak bisa bawa pergi semua rasa sakit, mungkin gue bakal tinggal di sini."

"Selamanya."

Ia menatap cakrawala. Garis antara laut dan langit mulai kabur, tapi warnanya masih menyala indah. Sejenak, ia merasa seperti manusia biasa—bukan anak yang ditinggalkan, bukan pecundang, bukan patah hati. Hanya manusia, yang sedang duduk menyaksikan dunia pulang perlahan.

Matanya menutup, sejenak. Ia mencoba menghafal warna langit yang jarang ia lihat seindah ini. "Laut segini luasnya aja bisa tenang, kenapa kepala gue nggak?"

Ia membuka matanya, menekuk lututnya, menatap garis laut. Mungkin ini pertama kalinya ia merasa damai dalam beberapa Minggu terakhir.

Dan saat ia mulai tenang, mulai bernapas sedikit lebih ringan.

Bramasta duduk di pasir lembut, membiarkan angin senja mengacak rambutnya dan membelai pipinya pelan. Laut di hadapannya tenang, seperti memberi ruang untuk hatinya yang berantakan. Jemarinya mencoret-coret pasir tanpa arah. Kadang melukis bentuk gitar, kadang hanya garis-garis tak tentu.

Ia mencoba menikmati momen itu. Momen yang sepi, tapi damai.

Namun, suara tawa tiba-tiba mencuri ketenangannya. Suara yang sangat familiar.

Bramasta membuka mata perlahan, matanya mengerjap, menajamkan pandangannya ke arah sumber suara.

Sekelompok orang berjalan tak jauh dari tempat duduk. Seorang pria yang tak asing—ayahnya. Di sampingnya, ibunya. Adiknya. Tertawa bersama, seperti tak pernah ada luka di antara mereka. Seperti Bramasta tak pernah ada.

Mereka tampak bahagia. Terlalu bahagia untuk keluarga yang pernah menyakitinya.

Bramasta menatapnya datar.

Ia menunduk, menahan napas. Bukan karena rindu. Tapi karena mereka bisa begitu mudah hidup seolah-olah dirinya tak pernah jadi bagian dari keluarga itu.

Tangannya mengepal. Bukan karena marah, tapi karena nyeri yang menyesakkan di dada.

Bramasta tidak beranjak. Tubuhnya tetap di posisi yang sama, menatap kosong ke laut yang perlahan mulai berubah warna—jingga keabu-abuan menari di permukaannya.

Tawa mereka masih terdengar, samar.

Wajah Bramasta tetap datar. Tak ada air mata. Tak ada perubahan mimik.

Ia hanya duduk. Tetap di situ. Menjadi satu-satunya orang yang diabaikan oleh takdir—di tempat yang seharusnya membuatnya tenang.

Mereka duduk di gazebo tak jauh dari sana, lengkap. Tertawa, bercanda, seolah tak ada yang pernah hilang dari hidup mereka. Seolah tidak pernah ada anak bernama Bramasta.

Ia melihat dari jauh. Datar. Bisu. Bahkan dadanya tak berdebar. Mungkin sudah terlalu sering merasa kecewa, hingga rasa pun enggan datang.

Satu anak kecil, adiknya—berlari ke arah pasir, nyaris melewatinya. Hanya beberapa langkah lagi, dan semuanya bisa runtuh. Tapi ibunya memanggil dari kejauhan—bocah itu berbalik arah.

Bramasta menarik napas pelan.

Ia menunduk, menggenggam pasir lebih berat.

"Hidup kalian masih seru ya, tanpa Brama," gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. Bahkan oleh dirinya sendiri.

Lalu ia berdiri. Menepuk celana pelan, lalu berjalan ke arah berlawanan. Meninggalkan tawa itu, suara itu, luka itu—untuk kesekian kalinya.

Bramasta melangkah pelan menyusuri jalan kecil menuju parkiran. Matahari sudah tenggelam sepenuhnya, menyisakan warna jingga tua yang memudar di ujung langit. Langkahnya datar, ekspresinya pun tak berubah—seolah tak ada yang benar-benar ia lihat, atau rasakan.

Begitu sampai di rumah, ia membuka pagar perlahan. Tak ada suara dari dalam, hanya cahaya temaram dari lorong yang menyambut hening. Sepi. Tapi malam ini, sepi itu tidak menakutkan—hanya terasa .... kosong.

Bramasta melepas sepatunya tanpa suara, berjalan ke dapur dengan gitar yang masih menggantung di punggung. Matanya mencari—barangkali bundanya meninggalkan makanan.

Kosong.

Ia menghela napas. Tidak terlalu kecewa, hanya ... pasrahm Lalu berbalik, melangkah menuju kamarnya.

Gitar ia letakkan perlahan di samping kasur, seolah menitipkan seluruh rasa lelah yang tak bisa diucapkan.

Ia merebah, menatap langit-langit dengan mata yang tak ingin terpejam.

Bramasta menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Lampu temaram dari meja belajar masih menyala, tapi matanya tak fokus menatap apa pun.

Tangannya terangkat, menutup mata sebentar, lalu turun kembali ke dada. Napasnya berat. Tak ada air mata, hanya rasa lelah yang perlahan menumpuk seperti kabut tipis. Lama-lama matanya menutup sendiri.

Dan malam itu, Bramasta tertidur ... dengan sisa dunia yang masih menggantung di dadanya.

.

.

.

.

Hai, Branada. Enjoy in this chapter? I hope.
Banyak yang bilang jangan disiksa terus 😭.

HAHAHAHA, SIAPP SIAPPP. Aman nanti dibikin seneng terus kok selanjutnya bahkan sampe ending (sepertinya)

Anyways, see u next chapter, Branada.

Bramasta dan Nada Kehidupan (Segera di Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang