Yang lama biarkan hilang, yang baru biarkan tumbuh. Selamat membaca 🤍.
➖
➖
➖
➖
Sore itu, rintik hujan jatuh perlahan, membasahi jalanan sepi. Langit senja meredup di balik awan kelabu yang menggantung rendah, seakan merangkul bumi dalam kesunyian. Di teras sebuah rumah yang cukup besar, seorang pemuda duduk dengan gitar di pangkuannya. Jemarinya bergerak pelan di atas senar, mengalunkan nada-nada yang melebur dengan suara hujan.
Bramasta Varka Rakhayasa.
Setiap petikan senar menggema seperti kisah yang tak terucap, seolah gitar itu adalah satu-satunya saksi yang benar-benar mengerti. Nada-nada yang ia mainkan mengalir tanpa pola, seiring pikirannya yang kalut, seiring hatinya yang bimbang—bertahan atau melepaskan.
Angin membawa melodi itu pergi, menyelipkannya di antara butiran hujan yang jatuh di atap, mengalir di jalanan, meresap ke daun-daun yang bergetar pelan. Namun, tak ada yang benar-benar mendengar. Tak ada yang peduli.
Bramasta memejamkan mata sejenak. Di balik semuanya, dia hanyalah seorang pemuda yang mencintai terlalu dalam, mengalunkan nada-nada yang tak pernah sampai ke hati yang ia tuju.
"Dengar laraku.."
Suara lembut Bramasta mengalun pelan, berpadu dengan dentingan gitar yang dipetiknya dengan hati-hati.
"Suara hati ini memanggil namamu," Lanjutan nyanyiannya.
Bramasta menghela napa, menatap langit yang kini diguyur hujan tanpa henti. Rintik yang jatuh di ujung jari kakinya terasa seperti dentingan waktu—mengalir, berlalu, tanpa bisa ia genggam.
"Karena separuh-"
BRAK...!
Suara pintu yang dibanting dari dalam rumah menggema, memecah keheningan yang baru saja ia nikmati. Bramasta tersentak kaget kemudian menoleh ke arah sumber yang menjadi pusat perhatian.
Di ambang pintu, berdirilah bundanya dengan wajah penuh amarah—jelas sudah muak. Suara Bramasta yang kerap terdengar membuatnya lelah dan kali ini, kesabarannya benar-benar habis.
"Berisik banget sih suara kamu!" tegur bundanya.
Bramasta menatapnya, masih mencoba memahami. "Suara Brama udah pelan, Bun. Lagian hujan deras gini masa suara Brama kedengeran?"
Bundanya menghela napas kasar, "Saya nggak butuh pendapat kamu. Udah berisik, masih ngeyel lagi, dasar cacat!"
Jemari Bramasta menegang di atas senar gitar. Sorot matanya meredup.
"Bun, bisa nggak jangan panggil aku kayak gitu?" Suaranya terdengar lebih lirih. hampir tenggelam dengan suara hujan. "Aku juga punya nama, Bun. Brama, Bramasta Varka Rakhayasa."
"Brama emang cacat, tapi jangan berlebihan, Bun. Apalagi Bunda manggil Brama kayak gitu."
Bundanya tak menggubris kata-kata Bramasta. Tanpa ragu, ia kembali membanting pintu lalu pergi.
Bramasta kembali sendiri.
Hujan terus mengguyur, deras dan tak terbendung. Genangan air di teras perlahan menyentuh ujung kakinya—dingin, tapi tak sedingin kata-kata bundanya barusan.
Ia menatap gitar di pangkuannya. Jemarinya kembali menyentuh senar, tapi kali ini, tak ada satu pun nada yang terdengar. Hanya hening yang menyelimutinya. Di tengah keheningan itu, sebuah pikiran selama ini berusaha ia singkirkan tiba-tiba muncul kembali.
Seperti dibunuh berkali-kali, tapi pelurunya berupa seseorang yang ku panggil 'Ibu'.
.
.
.
Bersambung.
Halo, Branada. Chapter pertama gimana? mau lanjut? jangan lupa dukung terus ya biar aku semangat!
Ngomong-ngomong aku juga mau bikin fan name, namanya Branada.
🗣️: Branada itu apa, Kak?
Branada itu Bramasta dan Nada.
Branada itu bukan sekedar nama penggemar. Tapi kalo kata Bramasta, "Kalian itu Branada—Bramasta dan Nada. Kalian nadanya. Kalian yang memberi arti di setiap petikan gitar ini, yang membuat lagu Brama tak terdengar sendirian. Tanpa kalian, musik ini hanyalah sunyi dan Brama hanyalah nada tanpa melodi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bramasta dan Nada Kehidupan (Segera di Revisi)
HororBlurb Bramasta dan Nada Kehidupan By: Esha Senja Valeria Bramasta, seorang pemuda laki-laki yang sangat terobsesi dengan seni musik atau bisa dikatakan terobsesi dengan gitar miliknya. Bramasta selalu membawa gitar ke mana pun ia pergi. Dalam seti...
