Eitsss sebelum lanjut, minta dukungannya yaa! dengan cara ke tiktok @universevaleria temenin Esha Senja Valeria ini sampai ceritanya di pinang, thanks ( ◜‿◝ )♡
Happy Reading, Branada.
.
.
.
.
Bramasta berjalan tanpa arah, langkahnya terasa berat meski hatinya sedikit lebih ringan. Gitar di punggungnya seperti satu-satunya teman yang bisa dia andalkan. Melintasi jalan-jalan yang ramai, tapi pikirannya tetap sunyi, terjebak dalam kesendirian.
Tanpa disadari, ia sudah sampai di taman kecil yang jarang dikunjungi orang, tetapi lumayan ramai. Hujan rintik-rintik menyapa daun-daun yang bergerak perlahan. Bramasta duduk di bangku, membuka gitar dan menatap senarnya, seolah mencari sesuatu yang hilang. Tak lama, suara langkah kaki terdengar mendekat.
"Loh? Brama? lo di sini juga?" suara seseorang yang tidak asing, Taru. Suaranya memecah kesunyian. Taru muncul di depannya dengan senyum khas, meski ada sedikit kekhawatiran di matanya. Bramasta meliriknya, masih dengan tatapan kosong. Taru duduk di sampingnya, merasakan ada yang tak biasa, namun memilih diam sejenak. "Nyoba lagu baru, ya?" tanyanya pelan.
Bramasta tersenyum tipis mendengar pertanyaan Taru, meski senyum itu tidak sampai mencapai matanya. "Gak juga," jawabnya pelan, kemudian ia melanjutkan memetik gitar dengan lembut, menyelam lebih dalam melodi yang keluar. Taru menyadari ada sesuatu yang tidak biasa, tapi dia tahu Bramasta bukan tipe yang suka membicarakan perasaannya.
"Lo nggak biasanya diem gini," kata Taru, mencoba membuka percakapan. "Lo kenapa, Brama?"
Bramasta berhenti sejenak, menatap senar gitarnya yang bergetar pelan. "Cuma butuh waktu buat sendiri."
Taru memperhatikannya, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Lo kalo pengen curhat ke gue, curhat aja, Brama. Nggak seharusnya lo pendem terus."
Bramasta tidak langsung menjawab. Jemarinya berhenti. Ia menatap lurus ke arah pohon-pohon si depannya, seperti berpikir, pantaskah dia cerita?
"Apa gunanya cerita, kalo ujung-ujungnya semua orang tetep ninggalin?"
Taru menarik napas pelan. "Gue nggak."
Bramasta menoleh sedikit, menatap sahabatnya, dan untuk pertama kalinya hari itu, matanya terlihat—sangat lelah.
"Kadang gue cuma pengen main gitar, sampe semua suara di kepala gue ilang."
Bramasta menarik napas dalam-dalam, menggenggam gitar di pangkuannya lebih erat.
"Lucu, ya," katanya lirih. "Satu-satu hal yang bikin gue tenang .... malah yang paling dibenci sama keluarga gue."
Ia menatap senar gitarnya. "Bokap gue bilang gitar itu cuma mainan. Benda nggak guna yang bikin anaknya lupa jadi laki-laki sejati."
Jemarinya kembali bergerak, memetik pelan. "Tapi gue nggak pernah bisa ninggalin barang ini."
Sunyi sejenak.
Bramasta melanjutkan, "Setiap nada yang gue mainin, itu suara yang nggak pernah bisa keluar dari mulut gue. Kayak, ini satu-satunya cara buat bilang gue capek. Gue hancur. Tapi gue masih di sini."
Taru mendengarkan dalam diam, lalu berkata, pelan tapi tegas, "Brama, lo bukan satu-satunya orang yang hancur."
Bramasta mendongak. "Gue nggak bilang gue satu-satunya. Tapi lo nggak tau rasanya disalahin cuma karena lo nyentuh senar. Dibilang gagal karena lo nyentuh senar. Dianggep gagal karena nggak jadi apa yang mereka mau."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bramasta dan Nada Kehidupan (Segera di Revisi)
HorreurBlurb Bramasta dan Nada Kehidupan By: Esha Senja Valeria Bramasta, seorang pemuda laki-laki yang sangat terobsesi dengan seni musik atau bisa dikatakan terobsesi dengan gitar miliknya. Bramasta selalu membawa gitar ke mana pun ia pergi. Dalam seti...
