Sehhh haloo, Branada! selamat datang kembali di chapter 5, kira² ada apa yaaa?
.
.
.
.
Bramasta akhirnya menuju kamarnya. Ia menghela napas, berdiri dari kasurnya dengan tubuh yang masih sedikit menggigil. Pakaiannya basah kuyup, dingin menempel di kulit dan meninggalkan jejak air hujan di lantai kamarnya. Ia melepas jaketnya, menggantungnya sembarangan di kursi, lalu membuka kancing seragamnya satu per satu. Gerakannya lambat, bukan karena malas, tapi lebih karena pikirannya yang masih kacau.
Saat kemejanya ia lepas, tanpa sengaja Bramasta menatap bayangannya di cermin. Rambutnya basah, beberapa helai menempel di dahi. Kulitnya pucat, mungkin karena udara dingin yang masih menyelimuti tubuhnya. Tapi yang paling mengganggu adalah bekas luka samar di punggung dan lengan kanannya. Luka yang sudah lama ada, tapi tetap terasa nyata setiap kali ia melihatnya.
Ia mengalihkan pandangan, buru-buru meraih handuk dan kaus bersih dari lemari. Setelah mengganti pakaian, ia mengeringkan rambutnya, lalu kembali ke kasur. Badannya terasa lebih hangat, tapi tidak dengan hatinya.
Sebelum itu, ia mencari penutup mata pengganti, karena perban yang ia pakai basah. Ia segera mencari di laci mejanya.
Tidak ada satupun.
"Sial, mana sih?" gerutunya. "Masa udah habis? perasaan baru bulan kemarin belinya," lanjutnya.
Bramasta mengacak rambutnya dengan frustasi. Matanya menelusuri laci meja, membongkar isinya satu per satu. Puluhan bungkus perban bekas beberapa masih tersisa, tapi tidak ada satupun yang sesuai.
Ting ... Ting ....
Sebuah pesan masuk dari handphone Bramasta, ia mengabaikannya. Ia tetap fokus mencari perban matanya.
Dengan napas berat, ia mengambil perban bekas yang masih sedikit bersih. Ia tahu itu bukan pilihan bagus, tapi tidak ada pilihan lain. Ia menempelkan perlahan di mata kanannya—bekas luka yang tak bisa sembuh dan juga tak bisa dijelaskan.
Saat itulah, suara langkah kaki mendekat ke arah kamarnya. Berat, cepat, seperti orang yang menahan amarah.
Bramasta belum sempat duduk kembali ketika pintu kamarnya dibuka kasar.
BRAK!
Ayahnya berdiri di ambang pintu dengan wajah murka. "Saya tunggu di gudang."
Bramasta menatap sosok ayahnya di ambang pintu dengan dada yang langsung sesak. Ia belum sempat berkata apa pun ketika tangan ayahnya menarik kasar pergelangan tangannya.
"SAYA BILANG, SEKARANG!"
Tak ada pilihan. Bramasta mengikuti, langkahnya tertinggal di belakang, nyaris terseret. Hujan di luar masih mengguyur pelan menambah dingin suasana.
Mereka menuruni tangga melewati ruang tamu yang sunyi, lalu berhenti di depan pintu kecil di dekat dapur. Gudang. Tempat yang dulu hanya dipakai untuk menyimpan barang tak terpakai—dan kini, seolah jadi tempat pembuangan baginya.
Ayahnya membuka pintu itu dengan kasar. Bau debu dan udara lembap langsung menyergap wajah Bramasta.
"Masuk."
Bramasta diam sebelum berkata, "Ayah to—"
"MASUK SEKARANG, CACAT!" bentak ayahnya, mendorong tubuhnya ke dalam.
Ia terjatuh, lututnya menghantam keras. Sebelum ia bisa bangkit—
PLAK!
"Tuh udah saya urus kan kamu?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bramasta dan Nada Kehidupan (Segera di Revisi)
HororBlurb Bramasta dan Nada Kehidupan By: Esha Senja Valeria Bramasta, seorang pemuda laki-laki yang sangat terobsesi dengan seni musik atau bisa dikatakan terobsesi dengan gitar miliknya. Bramasta selalu membawa gitar ke mana pun ia pergi. Dalam seti...
