04. | Petikan di Tengah Gerimis

25 5 0
                                        

Welcome back Branada! jangan lupa vote ya, biar authornya lebih semangat buat up!

Happy Reading, Branada
.

.

.

.

Hujan turun deras, menghantam genting, jalanan dan dedaunan dengan ritme acak. Langit kelabu seolah menumpahkan seluruh kesedihannya. Udara sore terasa lebih dingin, membuat beberapa siswa merapatkan jaket atau menggigil di balik seragam mereka.

Genangan air mulai terbentuk di halaman sekolah, memantulkan cahaya redup dari langit kelabu. Beberapa siswa berlari menuju gerbang, sementara yang lain memilih berteduh di teras kelas atau halte depan sekolah. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi hujan, membawa ketenangan sekaligus rasa sendu.

Bramasta bersandar di ambang pintu kelas, menatap hujan yang turun semakin deras. Tetesannya seakan menambah beban di kepalanya. Ia tak buru-buru pulang, tak ada alasan baginya untuk ikut berdesakan di bawah payung atau nekat menerjang hujan tanpa persiapan.

Sekarang ia menuju halte di depan sekolah, tepat di mana Taru sudah menunggu.

"Lo yakin neduh dulu? ayo gue anterin pulang," tanya Taru yang sudah siap dengan jas hujan.

"Nggak usah repot-repot, udah lo mending pulang," jawab Bramasta.

Taru mengangguk sebelum akhirnya pergi lebih dulu, meninggalkan Bramasta yang melangkah santai menuju halte.

Bramasta menghela napas panjang. Sebenarnya, hujan seperti ini selalu terasa menenangkan-jika saja pikirannya tidak begitu berantakan.

"Aduh, kenapa sih selalu pas jam pulang sekolah hujan segala?" suara seorang gadis terdengar dari belakangnya.

Bramasta tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja berbicara.

Vania.

Gadis itu melangkah mendekat dan berdiri di ujung halte, tanpa sedikit pun melirik ke arahnya. Santai, ia menepuk-nepuk jaketnya yang basah, lalu bersandar ke dinding sambil sibuk dengan ponselnya.

Bramasta tersenyum tipis, tidak menoleh, tapi suaranya terdengar jelas.

"Mungkin biar semesta punya alasan buat bikin kita diem bareng, walaupun cuma sebentar."

Vania terdiam. Bramasta tetap menatap lurus ke depan, pura-pura cuek—padahal jantungnya berisik setengah mati. Sampai 5 menit, akhirnya Bramasta berani menatap Vania.

"Ngapain lo ngeliatin gue?" tanya Vania tanpa menoleh.

"Nggak ada," jawab Bramasta singkat. "Cuma mikir, hujan kayak gini jadi lebih bagus gara-gara lo ada di sini."

Vania berhenti mengetik di ponselnya sejenak, lalu menoleh dengan ekspresi datar. "Gombal murahan."

"Tapi lo senyum dikit barusan dan senyum lo kayak petikan senar yang pas-nggak keras, nggak pelan, tapi cukup buat bikin hati bergetar," balas Bramasta.

"Dih, apaan sih," ujar Vania sebelum kembali menatap layar ponselnya.

Bramasta tersenyum tipis. Meski gadis itu tetap cuek, ia sempat menangkap rona samar di wajahnya.

Bramasta dan Nada Kehidupan (Segera di Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang