03. | Senar Yang Bergetar

34 5 0
                                        

Hai, Branada! apakabar? udah selesai ujian belom? kalo udah lanjut baca yuk!

Happy Reading, Branada!

.

.

.

.

Bramasta duduk di bangku panjang di sudut sekolah. Gitarnya tergeletak di pangkuan, sementara jemarinya menyapu senar dengan malas, tanpa benar-benar memainkan nada.

Pikirannya masih bertahan di satu pemandangan yang ia lihat tadi—Vania, duduk dengan seorang laki-laki, tertawa kecil sambil menundukkan kepala. Bramasta tidak tahu kenapa matanya harus terpaku pada mereka. Raut wajahnya tetap datar berusaha seolah tak peduli, tapi jauh di dalam hatinya, ia bertanya, siapa laki-laki itu?

Ia menghela napas panjang, menekan emosinya sendiri. "Udah, Brama. Itu bukan urusan lo."

Bramasta berusaha fokus pada gitarnya lagi, tapi sia-sia. Tanpa sadar, matanya kembali mencari sosok Vania di tengah keramaian kantin. Ia mengumpat pelan dalam hati, kesal pada dirinya sendiri. Dengan napas tertahan, ia memejamkan mata, membiarkan semua suara di sekitarnya memudar.

Tiba-tiba—

"BRAMAAAAA!"

Sebuah tepukan keras mendarat di punggungnya. Bramasta tersentak. "Anjir, Tar! bisa nggak si lo jangan ngagetin orang?!" serunya kesal.

Taru hanya tertawa. "Lagian lo serius banget. Ngapain? ngeliatin siapa, hayo?" godanya.

Bramasta menghela napas, enggan menanggapi. Reino tiba dengan minuman di tangannya.

Atlas duduk di sampingnya, tetap diam seperti biasa. Tapi dari sudut matanya, Bramasta tahu temannya itu sedang memperhatikannya.

"Noh, makan dulu," ujar Emilio sambil menyodorkan roti ke Bramasta.

Bramasta mengambil roti tersebut. "Makasih, Ru."

Bramasta mengambilnya tanpa banyak bicara, tapi tatapan Atlas masih belum lepas darinya.

Bramasta yang menyadari hal tersebut langsung melemparkan pertanyaan. "Kenapa lo ngeliatin gue?"

"Harusnya gue yang nanya, lo kenapa jir? kayak sedih gitu?"

Bramasta hanya mengangkat bahu, menunduk dan berpura-pura sibuk membuka bungkus roti. "Nggak kenapa-kenapa."

Atlas mendengus tapi tidak melanjutkan pertanyaannya. Taru, yang biasanya ribut, kali ini diam sejenak sebelum akhirnya menggigit ayam gorengnya dengan ekspresi puas. Atlas mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak beres dari Bramasta, ia mencoba lihat di sekelilingnya dan ternyata tahu apa yang terjadi.

"Buset! enak banget jam segini makan haha!" Seseorang yang muncul dari belakang, Senio dan Arellio, tapi yang mengatakan itu adalah Senio.

"Lah, kok baru dateng? lo berdua nggak dihukum?" tanya Reino.

Senio membalas gelengan. "Kita mah lolos hukuman dari Pak Erik udah 5×"

"Kita? lo aja kali. Gue nggak pernah telat." jawab Arellio cepat.

Arellio mengikuti di belakangnya, hanya mengangguk singkat sebagai sapaan sebelum duduk di samping Atlas. 

Bramasta dan Nada Kehidupan (Segera di Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang