Haiii haiii, Branada. Kembali dengan Bramasta dan Nada Kehidupan di sini! selamat membaca ( ◜‿◝ )♡
Note: jangan lupa setel Separuh Aku - Noah
.
.
.
.
Bramasta terjaga di dalam kegelapan gudang. Udara lembap dan dingin membuatnya menggigil, namun rasa sakit di kepalanya jauh lebih menusuk. Ia hanya bisa duduk terdiam, mendengarkan suara hujan yang terus mengguyur luar sana. Luka di tubuhnya terasa perih, tapi yang lebih menusuk adalah luka di hatinya yang terpendam.
Ia mencoba untuk tidur, pikirannya terlalu kacau. Rasa sakit, ketakutan, dan kemarahan bercampur menjadi satu, seolah memaksanya untuk tetap terjaga. Semua kata-kata ayahnya terus terngiang, menghantui setiap sudut pikirannya.
"Lemah ... cacat ... gagal ..."
"Dunia cuma butuh satu anak yang hancur ... biar sisanya tahu harus nurut."
"Jangan hanya bermain alat musik tidak berguna itu."
Kata-kata itu berputar seperti mesin yang tak bisa berhenti.
Bramasta menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Namun saat ia menatap sekeliling, semuanya terasa begitu sunyi. Hanya suara hujan yang menemani kesendiriannya. Tubuhnya terasa lelah, namun hatinya lebih dari kata lelah.
Selama beberapa jam, ia hanya duduk terdiam. Waktu berjalan perlahan. Perlahan sekali.
Pagi datang tanpa aba-aba.
BRAK!
Suara pintu gudang didobrak kasar membangunkan Bramasta dari lamunan gelapnya. Cahaya pagi menyusup masuk, menyilaukan mata satu-satunya yang masih bisa melihat.
Ayahnya berdiri di ambang pintu, wajahnya sudah penuh amarah sejak sebelum membuka mulut. "Keluar."
Belum sempat Bramasta bergerak, kerah bajunya ditarik kasar. Tubuhnya terangkat, lalu dengan sekali dorongan, ia dilempar keluar hingga terjerembab di lantai dapur.
DUAK—
"AGH!"
Bramasta meringis, menahan sakit di rusuk yang membentur keras. Namun belum selesai ia menarik napas, suara tawa kecil terdengar dari arah meja makan.
Adiknya hanya menatap sambil tersenyum sinis, seolah semuanya hiburan pagi. Sementara ibunya hanya melirik, tak bicara sepatah kata pun. Seakan yang terjadi hanyalah rutinitas biasa. Seakan Bramasta memang pantas diperlakukan begitu.
Tanpa berkata apa-apa, Bramasta menyeret tubuhnya ke kamar mandi untuk menghilangkan kotoran yang menempel di tangan dan bajunya. Air dingin menyentuh kulitnya, membuat luka di tubuhnya menyengat. Tapi ia tetap menahan rasa tersebut tanpa keluhan.
Setelah mandi, ia kembali ke kamarnya.
Di sana, ia membuka lemari. Mengambil manset putih panjang agar menutupi lukanya. Pelan-pelan, ia menutupi semua luka—dari wajah yang membiru hingga tangan dan lengannya yang penuh lebam. Ia memakai baju yang rapi, entah ke mana ia akan pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bramasta dan Nada Kehidupan (Segera di Revisi)
KorkuBlurb Bramasta dan Nada Kehidupan By: Esha Senja Valeria Bramasta, seorang pemuda laki-laki yang sangat terobsesi dengan seni musik atau bisa dikatakan terobsesi dengan gitar miliknya. Bramasta selalu membawa gitar ke mana pun ia pergi. Dalam seti...
