Selamat datang kembali, Branada. Semoga harimu setenang senar gitar yang belum dipetik, tapi tetap menyimpan melodi yang belum sempat dinyanyikan.
.
.
.
.
Pagi merayap pelan ke dalam kamar, membiarkan cahaya matahari menyentuh sudut-sudut ruangan yang masih diselimuti sisa gelap. Udara membawa kesejukan sisa malam, dan dari kejauhan, suara-suara kehidupan mulai bermunculan—kicau burung, deru kendaraan, langkah-langkah yang lalu-lalang di depan rumah. Aroma dari dapur mulai tercium, menyusup perlahan ke sela-sela waktu. Tidak ada yang istimewa, namun semuanya terasa cukup—seperti pagi yang telah ia kenal sejak lama.
Suara alarm dari meja membuat Bramasta mengerjap pelan. Ia bangkit, meraih ponselnya dan mematikan alarm itu. Sekilas ia menengok notifikasi—tidak ada. Tak satupun. Bahkan dari seseorang yang diam-diam selalu ia harapkan. Tapi mungkin memang seperti itu kenyataannya—harapannya terlalu tinggi, untuk sesuatu yang tak bisa ia jangkau.
Beberapa menit berlalu, ia hanya melamun tiba-tiba.
Tok tok tok.
Sebuah ketukan terdengar dari balik pintu. Bramasta tak segera menjawab. Ada ketakutan kecil yang menyelusup—jangan-jangan itu ayahnya. Jangan-jangan, pagi ini ia akan dimarahi, atau lebih buruk lagi dipukul.
Krietttt.
"Bramasta?"
Bukan ayahnya, tapi bundanya berdiri di ambang pintu. "Maaf, Bun! Bramasta telat bangun. Brama mau mandi sekarang, tapi jangan pukul Brama!" ucapnya terburu-buru, mengambil handuk dari kursi dan menyambar seragam yang belum rapi.
Bundanya memandangnya heran. "Kamu kenapa, Nak?"
Tunggu. Nak?
Bramasta terdiam. Kata itu jarang—sangat jarang, terdengar darinya. Tapi suaranya lembut. Jelas. Bukan hanya imajinasinya.
"Kamu mandi, ya? Habis itu langsung ke ruang makan, ya, Nak."
Kriettt. Pintu tertutup.
Sekali lagi. 'Nak'.
Ada sesuatu yang berbeda pagi ini, tapi Bramasta tidak ingin berpikir terlalu jauh. Ia segera masuk ke kamar mandi, menyelesaikan semua dengan cepat. Begitu selesai memakai seragam, ia turun ke dapur.
Di sana, bundanya sudah menyiapkan sarapan. Ayahnya duduk di meja bersama adiknya yang seperti biasa tampak tidak peduli.
"Duduk," kata ayahnya.
"Iy—iya, Yah," jawab Bramasta pelan. Kepalanya penuh tanda tanya.
Ayahnya menyodorkan roti panggang ke arahnya. Kesukaannya.
"Makasih, Yah."
"Kamu berangkat jam berapa, Brama?" tanya sang ayah, tangannya masih memainkan ponsel.
"Emang kenapa, Yah?"
Ayahnya tertawa kecil. "Nggak papa. Ayah cuma mau nganterin kamu."
Bramasta terdiam dan terkejut. Kemudian ia menoleh ke arah ayahnya. "Emang Ayah nggak telat?"
"Tenang aja. Habisin dulu rotinya. Nanti kita berangkat bareng. Oh ya, jangan lupa gitarnya."
Bramasta bahkan lupa bernapas sejenak. Hari ini terasa asing—tapi entah kenapa, juga sedikit ... hangat.
"Nak—"
WIS WIS WIS!
Air dingin menyentuh pipinya.
Bramasta tersentak bangun. Matanya membuka cepat. Napasnya memburu sesaat dan ia menemukan dirinya masih di kamar, masih mengenakan kaus tidur yang kusut, dan ponsel yang tadi ia matikan masih ada di tangan.
"Oi bangun, lo telat ntar." suara adiknya yang berada di samping kasur Bramasta.
Bramasta mengerjap, mencoba mencerna kenyataan yang baru saja menariknya dari mimpi indah. Ia melirik jam di dinding, waktu yang tepat untuk panik tapi entah kenapa tubuhnya terasa berat.
Ia duduk di tepi kasur, membungkuk sejenak sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.
"Mimpi barusan ... Gila banget," bisiknya sendiri, lirih.
Beberapa menit kemudian setelah selesai mandi, ia sudah berdiri di depan cermin, mengenakan seragamnya seperti biasa. Rambutnya disisir rapi. Ransel digendong, dan tidak lupa gitar yang bersandar di dinding pun ia raih pelan.
Ia turun ke bawah, sarapan seadanya, lalu menyalakan motornya.
Gas.
Motor Bramasta melaju pelan di antara sisa embun pagi yang masih menempel di aspal. Angin mengibaskan helaian rambut di balik helmnya, membuat pikirannya sedikit lebih tenang meski tidak benar-benar kosong. Jalanan masih belum terlalu ramai.
Setiap sudut kota yang ia lewati terasa biasa. Terlalu biasa. Tidak seperti mimpi barusan, yang hampir membuatnya percaya bahwa dunia bisa lebih baik, lebih lembut, lebih hangat. Tapi nyatanya, hanya gitarnya yang setia mengikutinya ke mana pun, tanpa pernah berubah.
Sesampainya di sekolah, ia memarkirkan motor di tempat biasa. Beberapa sapaan dari murid lain. Ia masuk ke gerbang sekolah, pundaknya sedikit menunduk, langkahnya lambat, dan gitar yang masih ia pegang.
Sementara itu, Bramasta berjalan sambil fokus pada layar ponselnya, tanpa sadar menabrak seseorang dari arah berlawanan.
"ADUH!" suara itu menggema, diikuti suara buku jatuh berdebam ke lantai.
Bramasta langsung mendongak. Perempuan itu—Vania.
"Lo bisa nggak sih kalo jalan tuh liat pake mata!" kata Vania sambil merapikan rambutnya yang sempat berantakan.
"Sorry, Van," ucap Bramasta cepat, lalu berjongkok untuk membantu mengangkat bukunya.
"Nggak usah, gue bisa sendiri!" bentak Vania, menepis tangannya tanpa ragu.
Bramasta terdiam sejenak, tapi matanya tetap tertuju pada buku-buku tebal yang jelas memberatkan langkah Vania. "Sebagai permintaan maaf gue ... Sini gue bawain."
Belum sempat tangannya menyentuh buku, Vania sudah berdiri dan melangkah pergi begitu saja.
Bramasta lalu berjalan cepat mengejar dan kini berdiri tepat di depannya. "Gue cuma mau bantu—"
"Ngapain sih lo ngikutin gue? Udah, sana. Mending lo pergi aja." Nada Vania dingin, matanya enggan menatap Bramasta dan ia tetap berjalan, berusaha mengabaikan.
Bramasta ikut berjalan di sampingnya, lalu mengangkat alis sedikit, senyum tipis muncul di bibirnya.
"Gue nggak ngikutin lo. Gue cuma ... Lagi nyari arah pulang. Tapi setiap kali gue nyari, langkah gue selalu berhenti di lo."
Vania menghentikan langkahnya seketika. Ucapannya tertahan di ujung lidah, tapi wajahnya masih penuh penyangkalan.
"Gue? Jadi arah pulang lo sekarang gue?"
Bramasta menunduk sejenak, tapi senyum itu masih tersisa. "Iya. Tapi lo kayak ... Terus nantik kompas gue ke arah sebaliknya.*
Vania mendecak pelan, berusaha menjaga nada suaranya tetap tajam. "Gombal lo norak."
Bramasta mengangguk pelan. "Emang norak. Tapi sayangnya, cuma itu yang bisa gue lakuin biar lo tau, gue masih di sini, Van. Masih di titik waktu pas pertama kali gue jatuh sama lo."
Okey. Kali ini bisa membuat Vania terpaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bramasta dan Nada Kehidupan (Segera di Revisi)
HorrorBlurb Bramasta dan Nada Kehidupan By: Esha Senja Valeria Bramasta, seorang pemuda laki-laki yang sangat terobsesi dengan seni musik atau bisa dikatakan terobsesi dengan gitar miliknya. Bramasta selalu membawa gitar ke mana pun ia pergi. Dalam seti...
