SEMBILAN BELAS

239 31 36
                                    

Jangan lupa vote.

🕊

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🕊

“Kakaak!”

Mendengar teriakan itu Husain yang sedang menjemur pakaian langsung masuk ke dalam dengan berlari tunggang langgang  “Apa, ada apa?” Tanyanya sembari memegang bahu Anin

“Eh, apa kak? Aku manggilnya terlalu keras ya?” Tanya Anin dengan wajah polos sedangkan laki-laki di depannya sudah panik bukan main

“Iya, ada apa? Kenapa tadi teriak?”

“Nggak ada, cuma pengen ngasih tau aja kalo sarapannya udah jadi”

Husain langsung merosot ke bawah, kakinya tiba-tiba lemas, sedangkan Anin tertawa tanpa dosa “Kakak kenapa?”

“Kamu ngeprank?”

“Apa si? Udah ah ayo sarapan dulu kak”

Husain dan Anin langsung duduk di meja makan, tak lama Anin membawa dua piring nasi goreng yang masih panas berasap dengan senyuman yang lebar

“Waah” Husain bersemangat meraih piring yang diulurkan Anin “Makasih, yaa.”

Anin mengangguk “Selamat makan, kak, maaf untuk yang tadi, aku kayaknya terlalu semangat” Ucapnya dengan di akhiri kekehan

“Iya, udah, makan dulu sayang”

Sambil makan, Anin juga sembari memperhatikan reaksi Husain yang menyantap nasi goreng buatannya dengan lahap

“Hari ini sepertinya saya akan sibuk, maaf kalo harus ninggalin kamu sendirian di sini, kalau bosan nanti saya suruh Mbak Bella buat ajak kamu keliling-keliling pondok”

“Nggak usah kak, nggak apa-apa. Oh iya, Mbak Bella itu salah satu guru di sini ya?”

Husain mengangguk “Hmm, dia sama Abian tinggal sementara di pekarangan rumah sebelah kita, itu sebenarnya pondok ngaji saya dan Abian dulu ketika masih kecil, namun di rawat sama Abi hingga di jadikan sebuah kamar”

“Oh, itu dulunya pondok ngaji? Kenapa nggak tinggal disini aja bareng kaka sama aku? Padahal disini ada beberapa kamar yang kosong”

Husain menggeleng “Katanya, mereka lebih nyaman di sana”

Siang hari, saat matahari sudah mulai naik dan pekerjaan rumah sudah selesai semua, Anin duduk di meja belajarnya, menggerakkan jari mungilnya di atas kertas

ANINDYA [Perantara Hijrah]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang