3.menyebalkan

4 1 0
                                    

HAPPY READING

Pertandingan pun di mulai dengan Fino yang sedang memegang bola, para kaum hawa tidak henti hentinya meneriaki nama mereka,serta menyemangati nya. Begitu pun dengan Tresa dan Flora yang sangat kencang teriakan nya membuat Ana kesal.

Ana mencoba menghiraukan itu dan fokus ke pertandingan, lebih tepatnya fokus ke Zico. Ya, saat Zico datang dengan pakaian basket nya yang menampilkan otot-otot besar nya membuat Ana tak dapat mengalihkan pandangannya.

Tapi dia segera menggeleng pelan, seganteng apa pun dia dan Gea tidak boleh menyukai lelaki yang sama.

"tapi dia ganteng banget sialan" teriak nya dalam hati. Ya, dia akui Zico gantengnya gak ngotak, Ana seakan terhipnotis tadi ketika mengamati dengan seksama wajah Zico.

"pantes aja Gea suka" gumamnya.

Pertandingan pun selesai dengan Zico sebagai pemenangnya. Fino yang kalah pun merasa kesal.

"apa gue bilang, lo gak mungkin menang dari Zico, ya nggak Rel? " remeh nya membuat Fino tambah kesal lalu pergi dari sana.

"yahh pergi dia" ucap Farel

"malu dia tuh" ucap nya terkekeh begitu pun dengan Farel.

Gevan yang sedari tadi diam menghampiri Zico dan menepuk pundaknya, "congrats bro".

Zico mengangguk sebagai balasan lalu dia duduk untuk beristirahat sejenak. Keringat nya sudah bercucuran karena kelelahan.

" tambah ganteng euy"

"berdamage banget ya ampun"

"nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan? "

Zico tak menanggapi teriakan dari mereka, dia mendongak ke atas dengan mata yang terpejam, setelah itu dia membuka matanya dan matanya langsung bertemu dengan seorang gadis yang juga sedang menatap nya intens. Zico menaikkan alisnya sebelah, sedangkan Ana yang ketahuan jika sedang menatap Zico pun mengalihkan pandangannya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan dua temannya yang kebingungan.

"Na, mau kemana lo! " seru Tresa

"tungguin kita Na" timpal Flora mengajak Tresa untuk mengikuti Ana.

Zico memandang Ana sampai punggungnya tak terlihat, dia merasa aneh dengan cewek itu, kenapa dia tiba tiba pergi setelah ketahuan memandang nya begitu intens?. Mungkin dia malu, pikirnya.

"Abis ini kita main ke apartemen lo ya Zic" ucap Dion yang duduk di samping Farel.

"betul tuh, gue udah kangen sama isi kulkas lo" timpal Farel membayangkan isi kulkas Zico yang di penuhi makanan itu.

"lo mah makanan mulu di pikirin" sindir Dion.

Farel menatap sinis ke arah Dion "kayak lo gak doyan makan aja" ucap nya yang di balas cengiran oleh Dion.

"gue nanti nyusul aja" sahut Gevan yang sedari tadi diam di samping Zico.

Mereka memandang Gevan seakan bertanya 'kenapa? '.

TWINS  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang