Wildan menoleh ke arah tangga, di mana adiknya sedang turun sambil mengecek tas ransel kecil yang biasa gadis itu bawa ketika akan bermain.
Wiloba bukan tipe gadis yang feminim, tapi juga tidak tomboy. Dia mirip seperti Mama Gita di mata Wildan.
Benar-benar sesuai.
"Mau ke mana?" Tanya Wildan meskipun matanya masih fokus ke laptop dan beberapa berkas yang berserakan di meja.
"Aku mau main ke rumah Celine," jawab Wilona sambil duduk agak jauh dari kakaknya itu.
"Jangan nginep. Di luar masih bahaya buat lo," Wildan mencari berkas yang ingin dia tunjukkan pada Wilona.
"Liat dulu," perintah Wildan yang dituruti oleh Wilona.
Gadis itu mengerutkan kening, bingung dan juga tidak mengerti.
"Suruh aku baca sejarah sebuah negara aja, Kak. Bisa selesai dalam satu hari," dengus gadis itu sambil menaruh berkas kembali ke meja.
Pemuda itu berdecak pelan, lalu menggeser laptopnya, memperlihatkan hasil kerjanya pada Wilona yang sama sekali tidak paham tentang kurfa perusahaan.
"Sementara saham lo gue ambil alih biar mereka nggak ngincar lo mulu. Nanti kalo semuanya udah aman, gue kembaliin nama lo," jelas Wildan.
Wilona memutar bola matanya dan memakai tas ranselnya. "Aku nggak butuh saham, Kak. Butuhnya kasih sayang," gadis itu berdecih.
Wildan kembali fokus pada laptopnya dan mengotak-atik keyboard.
"Fokus kuliah aja dulu," kata Wilona memberi saran.
"Kalo bisa gue handle dua-duanya, kenapa enggak?"
Jawaban Wildan membuat gadis itu nyinyir. "Jangan terlalu gila kerja. Jadi mirip Papa tau nggak."
"Yang penting nggak gila wanita kayak Papa."
Lagi-lagi jawaban Wildan membuat adiknya nyinyir.
"Lama-lama beneran mirip Papa," gumam gadis itu, lalu beranjak dari duduknya.
Sebelum adiknya jauh, Wildan kembali berteriak dari dalam.
"Jangan nginep!"
"Iyaaaaa!" Jawab Wilona dengan lantang.
Gadis itu masuk ke mobil yang sudah siap pergi. Dia mengirim pesan pada seseorang untuk tidak mengganggunya hari ini.
Tentu saja orang itu Jaglion.
Tapi belum sempat Jaglion membacanya, Wilona mendapat pesan dari Aksan yang mengirimkan foto seseorang yang tergeletak di ranjang rumah sakit, juga mengirimkan wajahnya yang terdapat luka lebam di sana.
Aksan
Ulah cowok lo kemaren sore
09.05
Wilona menghela napas panjang, lalu menulis balasan.
Pasti lo cari masalah dulu sama dia. Jaglion bukan cowok yang sembarangan mukul orang. Please, jangan pancing emosi dia kalo emang nggak mau babak belur.
09.07
"Pak, kita ke gedung Graha aja," perintah Wilona pada sang supir.
"Jadi kita putar balik aja, Non?"
"Iya, Pak. Nggak lama, kok. Habis itu tetap ke rumah Celine."
"Baik, Non."
Wilona harus memeriksa luka tubuh Jaglion. Jika ada luka baru, dia akan memberi sanksi untuk pemuda itu.
Sanksi yang cukup membuat Jaglion ketakutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
IGNITES (END)
Teen Fiction(Tersedia Versi eBook) Mendengar namanya saja sudah membuat Wilona bergidik ngeri, apalagi bertemu dengan sosoknya langsung. Mungkin Lona akan kabur begitu melihat bayangannya saja. Jaglion, si cowok paling sadis 'katanya'. Bukan hanya wajahnya yang...
