CHAPTER 9

88 6 0
                                        

"Orang sombong dengan hartanya lupa, bahwa bumi tempatnya berdiri pun bukan miliknya."


Pukul 16.00 di sekolah, semua murid mulai pulang, kecuali mereka yang masih memiliki tugas organisasi.

"Jennie, gue pulang dulu ya," ucap Tzuyu sambil mengangkat tasnya.

"Iya," jawab Jennie singkat.

"Hati-hati sama Wooyoung dan sirkel-nya, ya," tambah Tzuyu dengan nada serius.

"Iya, kamu juga hati-hati," balas Jennie, tersenyum kecil.

Tzuyu pun melangkah keluar kelas, diikuti oleh beberapa siswa lainnya.

"Rose," panggil Jennie.

"Iya?" jawab Rose sambil membereskan barang-barangnya.

"Kita bareng ke kelas tari, yuk," tawar Jennie.

"Maaf, Jen. Aku nggak bisa ikut ke kelas tari hari ini. Ada masalah keluarga yang harus aku selesaikan. Maaf banget, ya," jawab Rose dengan nada menyesal.

"Hmm, ya udah," balas Jennie pelan.

"Semangat, ya," ucap Rose sebelum pergi.

"Iya, makasih," jawab Jennie sambil menatap kosong ke luar jendela.

-----------

Jennie berjalan menyusuri lorong yang sepi. Seluruh siswa sudah pulang. Hanya dirinya yang masih tertinggal karena urusan organisasi. Ia melangkah menuju ruang seni, melewati ruang OSIS. Namun, saat berada di pertengahan jalan, sosok wanita bersama teman-temannya muncul dan mendekatinya.

Ternyata itu adalah Wooyoung dan sirkel-nya.

"Halo," sapa Wooyoung dengan senyum tipis penuh sindiran.

"Lo kira bisa masuk kelas tari setelah ngehina gue?" tanya Wooyoung tajam.

"Dia mau masuk kelas tari? Hah, jangan mimpi lo!" ejek Mina sambil menarik rambut Jennie dengan kasar.

"Kebanyakan mimpi dia," sambung Karina sinis.

"Saya nggak punya masalah sama kalian," jawab Jennie, mencoba tetap tenang dan ingin segera pergi. Tapi langkahnya terhenti saat Wooyoung menahan pergelangan tangannya.

Momo, Mina, Karina, dan Sana pun mengepungnya.

"Lepaskan!" tegas Jennie, berusaha melepaskan diri.

"Suara kamu aja lembut. Omongan aja nggak bisa keras," kata Sana menghina.

"Guys, siap?" tanya Wooyoung sambil menatap Jennie dan menggenggam tangannya dengan kuat, lalu mendorong Jennie keras ke dinding.

Brukk!

"Aduh..." Jennie mengaduh pelan. Keningnya berdarah.

"Kamu berani ngadepin gue? Berani ikut campur?" ujar Wooyoung dingin.

"Sekarang lihat, apa yang akan kami lakukan ke kamu," ancamnya.

"Mana guntingnya?" tanya Wooyoung.

"Ini dia," jawab karina sambil menyerahkan gunting.

"Kalian mau apa?" tanya Jennie dengan suara gemetar.

"Masih nanya?" Wooyoung tertawa bersama geng-nya.

𝐓𝐀𝐄𝐍𝐍𝐈𝐄Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang