"Mereka pulang ke Korea, membawa luka yang tak terlihat³¹"

46 3 0
                                        


"Kepulangan kami membawa sejumput kenangan indah bersama kekasih, tapi juga luka yang nyaris merenggut nyawa dan menjatuhkan harga diri."


Suara notifikasi itu masih terngiang di telinga Jennie. Foto Sana dan Chen di ranjang hotell... terlampir dalam sebuah akun anonim yang tak dikenal. Meski ia tahu itu bukan keinginan Sana, hatinya tetap terguncang.

Tangannya gemetar memegang ponsel, wajahnya pucat pasi.

Linyi yang duduk di sofa memperhatikannya dengan tajam.

"Ada apa?" tanya Linyi curiga.

Jennie tak menjawab. Ia hanya menyodorkan ponselnya. Linyi mengambilnya... dan begitu matanya menangkap gambar itu, rahangnya mengeras.

"Ini... Chen?" bisiknya, nyaris tak percaya.

Jennie mengangguk lemah.

"Dan... Sana?" lanjutnya.

Jennie kembali mengangguk, air matanya jatuh. "Linyi... mereka dijebak. Aku yakin."

Linyi langsung berdiri. "Siapa yang kirim ini?"

Jennie menjawab lirih, "Akun tanpa nama. Tapi... aku rasa ini kerjaan Wonyoung."

Linyi membeku sesaat. Kemudian ia membanting ponsel ke sofa dan berjalan cepat ke arah pintu.

"Mau ke mana?!" teriak Jennie.

"Aku akan cari Chen! Aku akan-"

"Berhenti!" Jennie berteriak lebih kencang, membuat Linyi berhenti di tempat.

"Aku yang harus ke sana. Bukan kamu!" lanjut Jennie sambil berusaha bangkit dari ranjang, menarik infus paksa.

"JENNIE!" bentak Linyi. "Kamu GILA?!"

"AKU NGGAK GILA!" Jennie membalas dengan nada tinggi, matanya basah.

Linyi jarang-sangat jarang-berteriak seperti itu. Tapi kali ini dia marah. Bukan karena Jennie keras kepala. Tapi karena semua ini melibatkan Chen, sahabat masa kecilnya, dan Jennie, wanita yang paling ia sayangi.

"Kalau kamu maksa pergi sekarang, kamu akan mati di tengah jalan, Jen!" teriak Linyi.

"Lebih baik aku mati... daripada cuma bisa tidur di sini sementara Sana dihancurkan orang-orang!" Jennie memukul dada Linyi dengan tangan lemah. "Kamu tahu dia seperti apa! Kamu tahu dia kuat... tapi gak sekuat itu! Kalau sekarang aku diam aja... dia akan hancur, Lin...!"

Linyi terdiam. Melihat Jennie menangis, tubuhnya gemetar, selang infus masih menempel-tapi tetap mencoba berdiri untuk sahabatnya.

Itu menampar sisi emosional dalam dirinya yang paling dalam.

"Jennie..." bisik Linyi, suaranya melembut perlahan. Ia menahan napasnya agar tak kembali berteriak. "Aku cuma takut kehilangan kamu... setelah semua yang sudah kamu lewati. Aku... bukan marah sama kamu. Aku cuma... gak tahu harus ngelindungin siapa dulu."

Jennie menatapnya. Masih berlinang air mata.

"Lindungi mereka... untukku, Linyi," ucapnya pelan. "Aku mohon... aku percaya kamu."

Linyi mendekat dan memeluknya erat. Tak berkata apa-apa lagi. Ia tahu... Jennie bukan gadis yang bisa dibatasi. Tapi kali ini, dia harus berdiri menggantikannya.

"Baik... aku yang akan bereskan ini semua. Tapi kamu... janji akan tetap hidup, dan sembuh. Kalau kamu mati, aku yang akan kehilangan semuanya."

Jennie mengangguk dalam pelukan Linyi.

𝐓𝐀𝐄𝐍𝐍𝐈𝐄Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang