"Rumah, dan Luka yang Masih Menganga³²"

32 3 0
                                        

Aku sudah mencoba menjauh darimu, tapi entah kenapa... takdir selalu punya cara untuk menyeretku kembali ke arahmu."


Rumah, dan Luka yang Masih Menganga

Malam itu udara Korea cukup dingin. Tapi kamar Jennie hangat-bukan hanya karena selimut tebal dan aroma kayu manis dari diffuser, tapi karena malam ini, mereka bertiga kembali bersama.

Sana duduk di ujung ranjang Jennie, mengenakan piyama pinjaman. Rambutnya tergerai, tapi wajahnya masih sembab. Ia menunduk, menatap jemari yang ia genggam kuat.

Tzuyu masuk pelan ke kamar, duduk di lantai dekat tempat tidur. Jennie duduk di sisi lain, menyentuh bahu Sana dengan lembut.

Jennie:
"San... kamu mau tinggal di sini, kan? Rumah ini luas. Dan kamu... sahabatku."

Sana hanya mengangguk pelan. Lalu ia bicara lirih.

Sana:
"Aku... nggak punya tempat lagi. Aku belum siap balik ke mana mana Aku takut... aku malu. Apalagi setelah semua yang terjadi..."

Tzuyu: (suara lembut tapi tegas)
"Kamu nggak harus malu, Sana. Kita tahu semuanya bukan salahmu."

Sana mulai menangis lagi. Tapi bukan karena lemah-melainkan karena untuk pertama kalinya, ia merasa dimengerti.

Sana:
"Kalau aku bisa memutar waktu... aku bakal lindungi diriku sendiri. Tapi sekarang, semuanya udah berantakan..."

Jennie: (menggenggam tangan Sana)
"Kamu nggak sendiri. Kamu nggak rusak. Kamu hanya... manusia yang terluka."

Tzuyu:
"Kita semua pernah jatuh, San. Tapi sekarang, kita harus berdiri. Karena... beberapa hari lagi kita masuk sekolah lagi. Naik kelas 3."

Sana menoleh ke Tzuyu, matanya masih berkaca-kaca.

Sana:
"Kamu masih bisa semangat... setelah semuanya?"

Tzuyu: (tersenyum kecil)
"Kita nggak punya pilihan selain kuat, kan? Kita harus selesaikan tahun ini. Demi masa depan, demi impian kita."

Jennie:
"Kita bertiga... akan lulus bersama. Tidak peduli berapa banyak luka yang kita bawa."

Sana mengangguk pelan. Ia lalu meraih Jennie dan Tzuyu dalam satu pelukan besar. Mereka bertiga berpelukan lama, dalam sunyi. Di tengah pelukan itu... Sana mulai menangis lagi, tapi kali ini... bukan karena putus asa.

Tapi karena ia tahu...

Ia tidak sendirian.

Malam itu, mereka akhirnya tidur bersama di ranjang besar milik Jennie. Sana di tengah, memeluk Jennie dan menggenggam tangan Tzuyu. Ketiganya tertidur perlahan, dengan dada lebih ringan.

Dan meskipun luka masih ada...
mereka mulai sembuh.

-----------------
Dada yang Tak Pernah Tenang

Suara hujan pelan membasahi atap rumah mewah bergaya minimalis milik Taehyung. Di ruang tengah yang remang dengan lampu kuning hangat, Taehyung duduk di sofa panjang, satu tangan menahan dahinya, satu lagi menggenggam mug kopi yang sudah dingin.

Ia menatap ke jendela... lalu menunduk, menatap dadanya.

Taehyung (gumam pelan):
"Aneh..."

Ia menghela napas panjang.

Taehyung:
"Waktu dia sakit... kenapa dada gue juga ikut sakit? Bahkan malam-malam gue gelisah, padahal gue nggak tau kenapa."

Ia mengacak rambutnya, kesal sendiri.

𝐓𝐀𝐄𝐍𝐍𝐈𝐄Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang