"Lo nggak mau naik level dari babu jadi pacar gue gitu?"
"Ogah."
Kala benci menjadi sesuatu yang dinanti, amarah yang bertukar dengan rasa nyaman, keinginan untuk bersama lebih banyak dibanding yang dipikirkan.
Raga yang terikat dengan cinta tidak b...
so many secrets, will we be able to fix it? or not?
—with love, ssavera.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
36. that 'woman' again
Zello menatap tak berselera pada hidangan yang disajikan didepan matanya. Berulang kali harus memasang senyum palsu agar tak membuat kecewa sang Ayah, sungguh membuatnya lelah.
"Sudah liburan kemana saja, Zello?" seorang pria bertubuh besar itu bertanya, memandang tertarik pada Zello yang menawan dalam balutan jas mahal malam ini—adalah kepala keluarga Adriyanawang, Papa dari Josefina, Satria Adriyanawang.
Setelah membahas pekerjaan dengan Alkana, sepertinya Satria ingin membahas hal pribadi dengan Zello, yang dimana itu sangat mengganggu dan makin merusak suasana hati Zello.
"Bali," singkat Zello.
"Pasti seru, seharusnya kamu ajak anak saya, dia merengek terus meminta liburan juga." Satria terkekeh, sementara Josefina menekuk wajahnya seolah protes.
"Zello liburan bersama teman-temannya," ujar Alkana tenang.
"Dan pacar," tambah Zello, tak kalah tenang.
Alkana mendelik, tetapi tak lantas menyangkal. "Ya, dengan Floryn."
"Oh, namanya Floryn. Floryn anak dari rekan kerja anda juga, Pak Alkana?" tebak Satria.
"Tidak, Floryn teman Zello dari kecil. Mereka sudah saling mengenal lama dan sepertinya memutuskan untuk lebih dari teman," jawab Alkana seadanya.
"Berasal dari keluarga mana?" tanya Satria, seakan sedang mencari celah kesalahan dari pilihan Zello dalam urusan pasangan.
"Issa—"
"Handoko, Floryn berasal dari keluarga Handoko." sela Zello cepat.
Mengundang tatapan tak suka dari Alkana, begitupun dengan Satria. "Handoko? Saya baru tahu, bukankah Handoko terkenal karena semua anggota keluarganya bekerja dipemerintahan dan sempat melakukan kecurangan?"
Kecurangan apa? Itu hanya berita tanpa bukti. Nyatanya keluarga Handoko berhenti mengabdi untuk negara karena setelah meninggalnya orang tua Zola Mariella—ibu kandung Floryn, saudara-saudara Zola memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan pekerjaan melayani masyarakat yang memusingkan itu, dan memilih terjun ke dunia yang diminati, bukan tuntutan atau paksaan lagi.
"Sekarang sudah tidak," sahut Zello.
"Hm, menarik. Pak Alkana, selera anak anda sangat unik," komentar pria itu, jelas dengan senyum yang meremehkan.
Unik mata lo. Zello berdecih dalam diam.
"Zello masih muda, saya membiarkan saja apa yang anak saya pilih, selagi itu positif."
Artinya musik bukan hal positif, kan? Sampai Ayahnya melarang. Zello jadi semakin malas menyimak percakapan ini.
"Bukankah akan lebih baik kita memberi waktu anak-anak kita untuk berbincang berdua, sepertinya mereka canggung dan tak banyak membuka suara di meja ini." saran Satria, yang tak diindahkan Zello.