"Lo nggak mau naik level dari babu jadi pacar gue gitu?"
"Ogah."
Kala benci menjadi sesuatu yang dinanti, amarah yang bertukar dengan rasa nyaman, keinginan untuk bersama lebih banyak dibanding yang dipikirkan.
Raga yang terikat dengan cinta tidak b...
In order not to lose, sometimes we become someone else.
—with love, ssavera.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
47. towards the bright spot
Floryn keluar dari ruang konseling, melangkah menghampiri orang yang sudah menemaninya kontrol lagi. "Ed," panggilnya.
Yang dipanggil menengok lalu tersenyum. "Hai, udah selesai? Gimana tadi?"
"Ngobrol biasa," jawab Floryn akan selalu sama.
Edward mengernyit, tetapi lantas tak bertanya jauh. "Obatnya nambah?"
"Nggak, disuruh abisin yang terakhir aja."
Senang mendengarnya. "Keren, pelan-pelan lo berhasil juga, mau dirayain kayak apa nih nanti?"
Bukannya ikut senang, Floryn malah murung, teringat ucapan dokternya tadi di dalam saat sesi konseling. "Ed, nggak usah dirayain, gue nggak akan sembuh." hingga secara impulsif yang dipikirkannya keluar sendiri dari mulutnya.
"Hm?"
"Katanya, orang yang punya gangguan jiwa nggak akan bisa sembuh sepenuhnya, mungkin tetap bisa aktivitas normal dan lepas dari obat, tetapi nanti kalau ada sesuatu yang bisa bikin ke-trigger, pasti jiwanya terguncang lagi. Jiwanya tu kayak punya alarm sendiri tiap ada satu titik yang bisa memicu kambuh. Serentan itu jadi orang gila, Ed." ada kekehan hambar diakhir bicaranya.
"Tapi lo nggak gila, Ryn."
"Iya, dokter juga bilang gitu, tapi gue ngerasa kalau gue emang nggak akan bisa sembuh, udah terlalu rusak buat diperbaiki."
"Jangan terlalu sering pakai perasaan sama hal yang negatif, giliran yang positif aja lo selalu pakai logika, aneh tahu nggak? Bikin lo makin jauh dari sembuh," tukas Edward.
"Makan yuk," sambung Edward kemudian.
Floryn lantas mengikuti langkah Edward yang sepertinya menuju ke parkiran, dimana motor Edward berada. Hari ini awan begitu gelap, mendung, persis seperti suasana hati Floryn. "Ayo naik, keburu hujan."
"Iya."
Motor itu melaju membelah jalanan kota yang sesak, mobil-mobil berjejer berebut posisi agar cepat melaju lagi. Berhubung mereka menggunakan motor, mereka bisa menghindari kemacetan itu, tetapi tidak dengan hujan. "Pegangan, gue mau ngebut." pinta Edward, ketika awan yang mendung tadi sudah menjatuhkan air hujannya ke bumi, membasahi mereka yang tak berada di bawah atap mobil.
Mereka sampai di sebuah rumah sederhana bercat putih, pagar hitam, nan pekarangan yang kosong. Dengan keadaan basah, terutama Edward yang menyetir, baju bagian depannya basah total. "Ayo masuk, lo perlu ganti baju nanti masuk angin," ajak Edward ke dalam rumah itu.
"Rumah siapa?" tanya Floryn, sebenarnya Floryn sudah menebak dua kemungkinan.
Kalau bukan rumah Edward, pasti rumah, "Mbak Nala. Nggak masalah, 'kan?" dan tidak salah lagi, Floryn sudah duga.
"Nggak kok," balas Floryn seadanya. Memang mengapa harus jadi masalah? Floryn tak pernah ikut campur urusan Edward dengan wanita bernama Nala dan anak laki-lakinya selama ini.
Tanpa perlu diketuk, Edward masuk dengan mudahnya, karena Edward ternyata punya aksesnya. Ya, mustahil tidak punya, Edward pasti sering ke sini. "Sepi si, Ed?" heran Floryn, membuka suara.
Di dalam rumah itu, tak banyak perabotan atau alat rumah tangga yang terlihat, sangat sederhana. Dapur juga kosong, seolah hanya menjadi formalitas dari isi rumah itu, ruang tamu hanya terisi sofa panjang dan dua kamar yang berhadapan. Tak ada ruang bermain untuk Rean, tak ada juga ruang makan yang terlihat sehingga itu menjadi pertanyaan bagi Floryn. "Meja makannya dimana, Ed? Ini rumah kosong banget, ya?"
Edward mengangguk. "Iya, Rean kan lebih sering di rumah gue, ini cuma jadi tempat Mbak Nala tinggal aja. Ruang makan ada kali, ntar gue kasih liat, udah laper banget lo? Ada halamannya juga di belakang, cuma hujan, nanti aja kita ke sananya."
"Oke, terus Mbak Nala nya mana?"
Baru saja dibicarakan, satu pintu kamar terbuka, menampilkan Mbak Nala dengan baju rumahannya, sederhana tetapi masih terlihat anggun, belum lagi wajahnya yang teduh, sopan, seperti jauh dari kata kasar, tampak berasal dari keluarga baik-baik, pantas saja Edward tertarik membantu sebegitunya pada Nala dan anaknya.
"Ed, sama siapa?" bahkan suaranya juga lembut, tipe wanita yang sangat menjaga emosionalnya sekali, Floryn saja betah melihatnya. "Oh, ya ampun Floryn?" lanjut Nala setelah melihat jelas wajah perempuan disamping Edward. "Sini, sini. Mbak baru liat kamu lagi, sehat kamu, Ryn?"
"Sehat, Mbak."
Tatapan Nala jatuh dari atas ke bawah, lalu Nala baru menyadari baju yang Edward serta Floryn kenakan basah. "Diluar hujan, ya? Ganti baju sini, Ryn. Nggak, jangan. Mandi aja terus ganti baju, nanti Mbak siapin." bahkan hatinya seperti malaikat.
"Ngerepotin ah," balas Floryn sungkan.
"Nggak, apa si kamu ini, nggak apa-apa. Kamu juga, Ed, pakai kamar mandi di kamar satunya."
Edward tanpa berkata apapun sudah melenggang pergi ke kamar yang dimaksud Nala barusan, sementara Floryn yang canggung menunggu Nala memberikan bajunya di kamar milik Nala, meminjamkan sementara sebab baju sebelumnya basah. "Ini semoga kamu nyaman pakainya."
"Makasih ya, Mbak. Jadi ngerepotin padahal baru ke sini," kata Floryn lagi.
"Nggak, sama sekali nggak. Mbak tunggu di luar ya?"
Floryn mengangguk. Sepeninggalan Nala, bukannya langsung mandi, mata Floryn justru tertarik untuk mengamati setiap sudut di ruangan ini. Tak ada yang istimewa sebenarnya, hanya kamar wanita pada umumnya yang wangi feminim dan rapi, tetapi tiap-tiap foto di nakas di kamar itu yang akhirnya menjadi pusat perhatian terbesarnya.
Ada foto Rean dari bayi hingga di umur sekarang, ada foto Nala sendiri yang diwisuda, ada juga foto Nala bersama Edward yang tampak seperti sepasang kekasih dibanding kakak beradik. Ya, memang Floryn tahu ada sesuatu diantara Nala dan Edward. Mereka sepakat mengasuh Rean bersama, Edward juga tak masalah menghidupi Rean dan Nala meski bukan siapa-siapa, mustahil tidak muncul benih-benih rasa, entah dari Edward atau dari Nala. Atau mungkin keduanya.
"Lo itu ternyata baik ke semua orang ya, Ed?" Floryn membatin. Bedanya mungkin kalau ke Floryn karena empatinya sebagai manusia, sedang pada Nala melibatkan perasaan.
✰✰✰
notes; ini dikit si, nanti aku up lagi. jangan terlalu berharap floryn ketemu zellonya cepet, aku pengennya floryn sembuhin dirinya dulu biar siap ketemu zello. doain aja badainya cepet selesai.
kita gatau endingnya bakal gimana, tapi aku minta tolong tetap dukung tachycardia ya? jangan lupa ajakin temen-temennya buat baca, juga kalau ada yang kreatif di sosmed bantu aku promosiin cerita ini ya? terima kasih kebaikannya, sekecil apapun, vote dan komen pun berharga.