"Lo nggak mau naik level dari babu jadi pacar gue gitu?"
"Ogah."
Kala benci menjadi sesuatu yang dinanti, amarah yang bertukar dengan rasa nyaman, keinginan untuk bersama lebih banyak dibanding yang dipikirkan.
Raga yang terikat dengan cinta tidak b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
50. (not) falling again
Barangkali Floryn kemarin keliru.
Barangkali cinta itu tak seperti yang dirasakannya saat itu.
Barangkali itu hanya terbiasa, bukan cinta.
Atau barangkali itu benar cinta, karena terbiasa.
Floryn mencari jawaban atas segala pertanyaannya, pemikirannya, isi hatinya, yang tak bisa selalu orang lain terima. Dibeberapa menit dan jam, yang berlalu, Floryn sibuk dengan ricuh di kepala dan hatinya. Berharap ada setitik jawaban yang membuatnya sampai pada titik yang lebih terang. Jawaban yang membuatnya keluar dari gelap, yang membuatnya damai.
Ini bukan lagi tentang Zello, bukan lagi tentang laki-laki yang pergi tanpa berpamitan itu. Ini tentang perasaan Floryn sendiri. Yang sedang dipertanyakan, disimpulkan dan dipertanggung jawabkan ke depannya.
Tidak. Floryn tidak ragu. Tidak akan pernah mau meragukan perasaan sayangnya pada Zello, di waktu dulu maupun sekarang. Bagi Floryn, adanya Zello dihari-harinya kemarin sungguh punya warna tersendiri. Meski warnanya tak indah, tetapi meninggalkan kesan yang bermakna, yang sulit dilupakan.
Namun Floryn harus mengakui bahwa Floryn hanya punya rasa sayang pada Zello selama ini, yang luas dan dalam. Zello adalah sahabatnya, selamanya akan begitu. Status pasangan nyatanya tak membuat rasa Floryn berubah, Floryn amat menyayangi Zello, sebagai hidupnya, tumpuannya, sahabatnya, yang perlu digaris bawahi bukan cintanya.
Cinta itu memiliki pengertian yang luas, dan Floryn tak bisa mendapatkan definisi yang pas untuk situasi perasaannya pada Zello.
Barangkali yang kemarin bukan cinta.
Dari Edward, Floryn belajar banyak. Benar katanya yang jangan terus menghindar dari masalah, masalah itu harus dihadapi dan diselesaikan. Floryn merasa itu berlaku juga dengan perasaannya. Jika Floryn terus menyangkal, maka Floryn akan terus membenci. Padahal Edward juga berkata, Zello bukan seseorang yang patut dibenci, perginya memiliki maksud, dan jangan lupakan bahwa apapun kesalahan Zello, di masa lalu Zello adalah teman terbaiknya, yang punya kisah manis yang selalu mengharukan untuk diingat.
Karena cinta itu terlalu luas, maka Floryn memilih sebuah rasa sayang untuk sahabatnya itu, Zello Antrasena. Tanpa batas waktu.
"Lebih lega?" tanya laki-laki yang sama, laki-laki yang banyak membantunya.
Floryn mengangguk, matanya terpejam menikmati hembusan angin di pantai yang menyapa kulitnya. "Thanks, Ed."
Edward sungguhan membantu proses pulihnya sampai sekarang. Atau mungkin sebenarnya Floryn sudah benar-benar pulih. Memang tidak mudah menjalani hidup setelah ditinggalkan, tetapi lebih sulit lagi untuk bangkit dan memulai hidup yang lebih baik, karena itu dimata Edward usaha Floryn untuk perlahan membaik itu berhasil. "Jangan makasih sama gue, lo yang keren. Tapi benar udah nggak ada rasa benci atau menyesal dalam diri lo?"