[ akhir tachycardia ]

3.4K 145 60
                                        

Namun hidup memang soal menerima.

Tak ada yang kalah atau menang, semua hanya tentang waktu. Siapa yang paling cepat menerima takdir dan nasibnya, maka itulah manusia yang sedang menikmati kemenangannya. Tak memungkiri di suatu hari akan kalah kembali.

Floryn ingat pernah mendeklarasikan dirinya yang sudah ikhlas dan tak ingin ingat-ingat lagi yang buruk-buruknya. Floryn menerima bahwa tiap manusia itu punya prosesnya masing-masing, dan mungkin sudah takdir Floryn kemarin patah hati panjang untuk melewati prosesnya sendiri. Ya, itu benar sudah dilakukan. Namun tak secepat itu juga Tuhan menguji rasa ikhlasnya.

Floryn tak pernah mempersiapkan diri untuk berada disituasi seperti sekarang ini. Bahkan dalam bayangan Floryn saja tidak pernah mungkin, tetapi kini semesta menamparnya dengan nyata, bahwa laki-laki itu benar ada dihadapannya. Berdiri dengan senyum lemah, kantung mata menghitam dan rambut yang lebih panjang dari yang terakhir Floryn ingat, seperti ada beban berat dalam hidup orang itu yang selama ini terpendam.

Floryn mematung, tubuhnya gemetar, tiap langkah yang laki-laki itu ambil untuk mendekat padanya bak seorang malaikat maut yang Floryn takuti kedatangannya. Namun apa daya karena tubunya yang kaku itu dengan mudah kini dibawa ke dalam dekapan hangat laki-laki itu.

Sejenak, dunia seperti berhenti berputar, waktu seakan mati, semua sunyi, hanya degup jantung laki-laki yang memeluknya itu yang terdengar kencang oleh telinganya—sebab kepalanya bersandar pada dada laki-laki itu. Pun laki-laki itu sama sekali tak bersuara, masih terus mendekap Floryn erat, seakan tak ingin melepas lagi.

Jika Floryn ingin terbawa suasana, mungkin Floryn akan membiarkan sentuhan hangat itu bertahan lama, tetapi akal sehat Floryn kembali. Floryn mendorong dada laki-laki itu, menguraikan pelukan mereka, membuat jarak. Membuat alis laki-laki itu terangkat sebelah, mempertanyakan.

"Blo.."

Suara itu. Panggilan itu. Sungguh sekujur tubuh Floryn meremang.

Floryn memejamkan matanya, mengumpulkan energi sebelum bicara. "Stop, jangan ngomong lagi, aku nggak mau denger."

"Jangan benci aku," kata laki-laki itu, sedih.

Air mata Floryn mendesak untuk turun. Perasaannya begitu kacau, Floryn tak siap dan tak akan pernah siap ada dikondisi seperti sekarang. "Mau apa kamu ke sini?"

Laki-laki itu menatap sendu Floryn, matanya juga berkaca-kaca, sama seperti Floryn. Bibirnya hanya mengeluarkan kalimat yang sama, "Jangan benci aku."

"Kamu nggak berubah, ya? Dari dulu kamu selalu nyakitin aku, entah salah apa aku sama kamu. Kalau kamu pikir ini mudah buat aku, kamu salah, kedatangan kamu ke sini justru memperburuk, aku udah sembuh kemarin-kemarin, Ze. Kenapa sekarang kamu kembali? Kamu sengaja mau aku terus terbayang sama kamu? Biar aku terus inget rasa sakitnya pas kamu pergi tanpa pamit? Biar aku makin trauma sama yang namanya ditinggalkan, iya gitu?!" bentak Floryn.

Laki-laki itu, Zello, menggeleng lirih. "Maaf, jangan benci aku."

Floryn muak, tangannya terkepal menahan emosi yang bergejolak. "Terus sekarang kamu mau ngapain? Mau ngasih penjelasan? Percuma, nggak akan merubah apapun."

"Rasa itu.. apa masih ada Flo, di hati kamu?" Zello berkata dengan suara rendah.

Gila saja kalau Floryn tidak marah saat dilempar pertanyaan itu. Namun Floryn mencoba menarik napasnya lebih dalam, mengontrol dirinya lagi. Floryn tahu bahwa dibalik mobil yang membawa Zello kemari, ada Damar yang tengah mengawasi interaksi mereka.

"Kamu ke sini cuma mau nanya itu?" tanya Floryn, lebih tenang.

Menyadari itu, Zello juga jadi lega. "Tadinya gitu. Kalau kamu masih ada rasa sama aku, aku minta maaf dan aku janji akan berjuang buat hubungan kita lagi. Tapi kalau udah nggak ada," jeda pada kalimatnya berbarengan dengan senyumnya yang rapuh. "Kalau nggak ada, aku besok harus pergi lagi, dan mungkin kepergian besok bakal jadi alasan aku nggak akan kembali selamanya ke sini. Karena buat apa juga aku ke sini, dan melihat kamu nggak sama aku lagi."

TACHYCARDIA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang