"Lo nggak mau naik level dari babu jadi pacar gue gitu?"
"Ogah."
Kala benci menjadi sesuatu yang dinanti, amarah yang bertukar dengan rasa nyaman, keinginan untuk bersama lebih banyak dibanding yang dipikirkan.
Raga yang terikat dengan cinta tidak b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
49. thanks to ed; she heal
"Langsung aja, Ryn." Elio menatap lelah pada Floryn yang sudah tiga kali mereka bertemu, tiga kali juga gadis itu mengikuti kemanapun Elio pergi, pun melempar pertanyaan-pertanyaan aneh.
"Tinggal jujur apa susahnya," kata Floryn lagi.
"Jujur apa?" Elio sendiri tidak paham dengan Floryn. Dibuntuti dan dituntut menjawab rasa penasaran tak berdasar Floryn sungguh tak masuk diakal Elio.
"Ya, jujur. Lo pasti tahu sesuatu 'kan?" lagi, Floryn menekan.
Meski tidak secara jelas dikatakan merujuk pada pembahasan apa, seharusnya Elio tahu. Satu-satunya alasan Floryn kembali bicara dengan Elio adalah karena satu pembahasan itu, yang sama seperti pembahasan terakhir mereka.
Elio mendengus, tangannya yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya harus terhenti. "Apa yang mau lo tahu?"
"Zello."
Mata Elio terpejam, sejenak ia mengambil napas dalam sebelum menjawab. "Itu lagi? Berapa kali mau lo ungkit? Gue udah bukan pesuruh dia lagi."
"El, please. Satu pertanyaan aja, lo jawabnya yang jujur, habis itu gue janji nggak akan nanya-nanya lagi."
"Dari tadi lo nanya terus tuh, dan maksa." tukas Elio.
Bagaimanapun, Floryn bukan orang yang sabar. "Jadi banyak omong banget si lo, makin tempramen gue liat-liat, masa lo nggak mau bantu gue relain Zello, seenggaknya ada gitu yang bisa lo bagi ke gue sebelum dia pergi, apa nggak ada omongan apapun? Gue cuma mau lanjutin hidup, kalau kali ini tanpa Zello, ya nggak apa-apa, yang penting semuanya jelas. Coba lo rasain jadi gue sehari aja, El. Nggak enak ada diposisi yang nggak tahu apa-apa."
Elio berdecak. "Emang gue tahu banyak?"
"Ya makanya jelasin!" frustasi Floryn.
Tidak mungkin Zello tidak bercerita kepada Elio, logikanya kalau memang Elio tidak tahu maksud dan alasan Zello pergi, tidak mungkin Elio menjadi orang yang terakhir Zello hubungi untuk berpamitan kepada yang lain—tidak termasuk pada Floryn.
"Gue inget percakapan terakhir gue sama dia kayak gimana, dia kayak takut dan sedih, entah karena alasan apa. Gue nggak berpikir kalau itu terakhir kali gue berinteraksi sama dia," lirih Floryn, menggali memorinya.
"Gue nggak tahu dia ada masalah apa, El. Dia nutupin sesuatu dari gue 'kan, El? Gue sadar dari dia yang sering nemuin Bang Heksa, gue punya rasa curiga, tapi gue nggak tahu apa. Apa dia pakai narkoba?" pungkas Floryn asal.
"Ngarang," balas Elio.
"Ya, apa?" Floryn tak sabar.
Mungkin sudah saatnya semua ini diluruskan, Elio juga tidak mau hidupnya terus dihantui rasa bersalah karena membuat anak perempuan orang hidupnya hancur setelah ditinggal pergi oleh laki-laki yang dicinta. Meski itu bukan salah Elio, tetapi Elio turut andil dalam hancurnya Floryn.