"Lo nggak mau naik level dari babu jadi pacar gue gitu?"
"Ogah."
Kala benci menjadi sesuatu yang dinanti, amarah yang bertukar dengan rasa nyaman, keinginan untuk bersama lebih banyak dibanding yang dipikirkan.
Raga yang terikat dengan cinta tidak b...
those who have long been healed should not be allowed to return to repeat the pain.
—with love, ssavera.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
52. but the beat is gone
Othello merasa suasana meja makan di rumah keluarganya malam ini begitu mencekam. Matanya bergulir ke kanan ke kiri, menatap satu persatu anggota keluarganya yang duduk dengan tenang menikmati hidangan yang tersaji.
Namun sepertinya bukan hanya Othello saja yang merasa demikian, bundanya—Beryl juga sama, melirik gelisah suaminya yang suasana hatinya buruk itu. "Alka, kamu mau ambilin sup?"
Alkana menggeleng.
"Mau aku buatin sesuatu?" masih menawarkan.
Lagi, Alkana menggeleng. "Nggak, segera habiskan makanan kamu."
Othello melirik bundanya yang menunduk. Firasatnya mungkin benar bahwa ada sesuatu yang terjadi, tetapi sebagai yang paling muda, Othello sungkan untuk mencampuri urusan orang dewasa.
"Kamu berapa hari disini, Ze?" akhirnya Beryl alihkan, semata-mata agar meja makan itu tak sunyi senyap, dinginnya lantai kalah dingin dengan situasi antara suaminya dan anak pertamanya.
"Tiga hari," singkat Zello. Tak ada nada tengil dari suaranya, tak ada raut jenaka yang biasa Zello perlihatkan saat menjahili adik kecilnya, pun tak ada gestur kekanak-kanakan, emosi yang tak terarah seperti dulu. Zello yang sekarang tampak berbeda.
Beryl melirik suaminya yang masih bungkam. "Alka," panggilnya.
"Hm?"
"Jangan gini," mohon Beryl, tak nyaman dengan aksi saling mendiamkan seorang anak dan ayah itu.
"Biarin aja, Bun. Nggak usah dibujuk, udah tua lagian malu," celetuk Zello akhirnya, nadanya kesal meski rautnya masih datar.
Alkana mendelik, melempar tatapan remeh pada Zello. "Kamu yang harus berkaca, malu pada diri sendiri yang sudah berjanji tak akan pulang ke Indonesia sebelum urusan kamu selesai disana."
"Ruginya ke ayah apa? Aku cuma pulang sebentar, nggak mau banget kayaknya ketemu anaknya." keluh Zello. Bukan apa-apa, itu bentuk luapan kekesalan Zello yang dari kemarin dilempar tatapan permusuhan oleh ayahnya sendiri.
"Zello," sela Beryl.
"Kedatangan kamu ini, jelas tidak menguntungkan siapa-siapa. Kamu terlalu ceroboh dengan masuk ke wilayah UNSAYA hanya untuk melihat seseorang di wisuda, seseorang yang bahkan sudah tak memiliki hubungan dengan kamu." Alkana menekan kalimatnya dengan tegas.
Dada Zello bergemuruh, wajahnya tegang. Apapun yang dilakukannya terasa salah dimata ayahnya, padahal Zello sudah bertanggung jawab penuh atas keselahannya dulu dengan tak berontak saat menjalani hukuman dari ayahnya. "Aku cuma liat dari jauh, masih salah juga?"