48 | elio is key

1.6K 88 9
                                        

selamat membaca!

selamat membaca!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

48. elio is key

Tak terasa, waktu cepat bergulir, tingkat akhir menyapa, menjadi pengingat sebentar lagi ialah tanda usainya masa perkuliahan. Belinda hari ini harus menghadapi seminar proposal, di gedung fakultasnya, dihadiri Chiara dan Floryn yang menunggu di luar ruangan. Selama menunggu itu, Chiara penasaran akan satu hal. "Lo dianter jemput Edward kemana-mana pakai motor jadulnya itu?"

Tidak heran. Pertama, Chiara memang mudah penasaran. Kedua, mudah juga bagi Chiara bertanya tanpa harus ditahan-tahan. Ketiga, Chiara itu sering sekali lebih terfokus menilai buruk sesuatu dibanding baiknya alhasil mulutnya itu sangat jujur sekali saat bicara.

"Nggak jadul lah itu," sahut Floryn.

"Ck, gue tanya dianter jemput nggak lo?"

Floryn mengangguk dengan santainya. "Kenapa?"

Wajah Chiara tampak syok. "Selera lo jadi turun banget anjir, dari Ze—"

"Nggak usah bikin perbandingan." potong Floryn cepat.

Chiara mencebikkan bibir, merasa kesal omongannya dipotong. "Lo nggak apa-apa kalau Edward udah punya anak?"

"Hah?" jujur, Floryn tahu arah pembicaraan Chiara akan kemana, tetapi ia hanya tak menyangka saja Chiara akan sedalam itu meragukan Floryn.

"Udah punya anak, punya wanita yang bebanin hidup dia juga, lo sadar nggak sekarang lo lagi dekat sama seseorang yang udah nggak bisa sendiri, ada buntutnya?" perjelas Chiara.

"Chi, dekat dan berteman kan nggak salah."

"Iya, gue tahu. Tapi lo sama Edward deketnya nggak kayak berteman," tukas Chiara.

"Kata siapa?"

"Kata gue, kata semua orang juga, gue yakin. Teman mana yang nganter berobat ke psikiater berkali-kali, teman mana yang dianter jemput ke kampus, teman mana yang sering ketahuan pakai barang—jaket, kemeja, topi—temannya, teman mana gue tanya yang gandengan tangan?"

"Ada, lo sama Salvio?"

Chiara meledak. "Itu beda!"

Floryn terkekeh saja. Sampai sekarang ia juga tidak tahu ingin menyebut hubungannya dengan Edward seperti apa, yang jelas bukan sepasang kekasih, tetapi teman juga bukan.

Benar kata Chiara, tidak ada teman yang seniat itu menemani temannya yang depresi pergi ke psikiater sesuai jadwal kontrolnya, tidak ada. Floryn memang tahu sebaik apa Edward, dan sudah sebatas itu. Mungkin Edward memang suka membantu orang lain yang sedang bermasalah dengan dirinya sendiri. Floryn tak ingin menaruh harap, diposisinya saat ini dengan Edward yang selalu mendukungnya cukup membuatnya merasa lebih tenang.

"Ngomong-ngomong gue ketemu Elio kemarin," ujar Chiara berganti topik.

"Ya, terus?" heran Floryn.

Chiara sedikit murung, tidak tahu bagaimana tiba-tiba saja raut wajahnya lesu. "Gue abis marahin dia, Ryn."

"Lagi?" artinya bukan sekali.

"Iya lah, gue masih nggak terima lo diperlakukan kek taik sama bajingan Zello. Ditinggal tanpa penjelasan lebih sakit dibanding putusnya itu sendiri. Karena gue juga cewek, kalau gue ada di posisi lo, gue mungkin akan lebih stres bukan depresi lagi, udah masuk ke halu tingkat tinggi, orgil. Siapa si yang mau ditinggal? Nggak ada. Apalagi ditinggalnya nggak pamitan segala, atau kasih tanda kek minimal kalau mau pergi, putusin baik-baik, atau ya ini yang paling gampang, harusnya dia aktifin nomor telefon dia dan jelasin ke lo lewat pesan kalau emang hubungan kalian harus berakhir. Gitu kan enak, ya? Lo jadi nggak bingung, nggak ngerasa digantung, mau lanjutin hidup juga enteng nggak ada beban."

Kalimat sepanjang itu dengan mudah dicerna oleh Floryn, karena Floryn juga sempat berpikir hal yang sama, saat-saat dimana Floryn masih di fase denial. Namun sekarang, "Buat gue hal-hal yang kayak gitu, berandai atau bertanya-tanya ke sesuatu yang nggak ada jawabnya, udah nggak penting lagi. Nggak akan selesai juga. Orangnya udah pergi, gue nggak akan dapat jawaban. Nggak dapat jawaban kan juga termasuk jawaban."

Itu Floryn, beda cerita dengan Chiara yang super ekspresif, amarahnya lebih tidak tertata. "Dengerin ni. Udah selesai gue marahin si kulkas, gue jadi agak kasian, soalnya mukanya dia kayak minta dikasianin sumpah. Dia tiba-tiba kayak nunduk, terus sedih gitu, biasanya kan mukanya datar aja. Gue jadi ngerasa bersalah, mungkin dia juga kehilangan bos tantrumnya ya Ryn, tapi gue malah marah-marahin terus," akunya sungguh-sungguh.

"Lo si," todong Floryn.

"Ih, namanya juga emosi. Lo kan tahu gue kalau ketemu perintilan Zello kayak apa, bawaannya pengen gue tonjok semua." Chiara membela diri.

"Nggak perlu berlebihan juga, bukan salah mereka."

Lantas Chiara mengangguk setuju, mengaku salah. "Terus lo tahu nggak, dia bilang apa ke gue? Masa dia bilang, kalau dia punya cara buat bisa balikin Zello ke Indonesia, apapun caranya, walaupun itu caranya bikin dia harus mempertaruhkan nyawa, pasti dia lakuin. Elio keliatan setia banget 'kan sama Zello? Gue jadi ikut sedih. Terus gue tanya lagi, ya emang apasi yang bikin Zello nggak bisa balik, masalahnya apa sampai dia pindah kampus, tapi abis itu Elio nggak jawab lagi. Pergi gitu aja."

Elio memang sengaja tutup mulut. Bukan karena tak bisa menjawabnya, tetapi ada yang memerintahnya untuk begitu. Sama seperti Beryl yang memilih untuk tetap bungkam dan mengatakan pada Floryn harus melupakan Zello. Semua orang terdekat Zello, bekerja sama agar hilangnya Zello ini benar-benar tak ada bekas, jejak atau bahkan satu titik pun.

"Ryn, apa Zello ada masalah di rumah ya?"

"Ha?" kernyitan di dahi Floryn menjadi respon kebingungannya.

"Iya, maksud gue, dia ada masalah terus kabur dari rumah. Orang tuanya juga nggak punya cara buat bikin Zello balik. Masuk akal nggak?"

"Nggak, Zello bukan orang yang mudah lari." apapun masalahnya, Zello cenderung menabrakkan diri kepada masalah itu sampai jadi masalah yang baru.

Satu-satunya kemungkinan yang paling masuk akal adalah Zello sepertinya berbuat salah, entah apa itu, dan kepergiaannya adalah bentuk dari tanggung jawabnya untuk menyelesaikan masalahnya itu. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Zello harus pergi. Siklus seperti itu pernah atau sering terjadi. Biasanya tiap Zello berbuat salah di rumah dan membuat marah Ayahnya, Zello akan dihukum, tidak boleh keluar rumah dan diberi target untuk selalu dapat nilai A di setiap ujian agar Ayahnya mau memaafkannya.

Seakan menyadari sesuatu, kedua mata Floryn membola. Ada rasa menyesal yang menyusup ke hatinya karena baru sekarang pemikiran itu terlintas, setelah sekian lamanya Floryn hanya menerka-nerka. "Lo terakhir ketemu Elio dimana? Kira-kira sekarang dia di tempat yang sama atau nggak?"

✰✰✰

notes;
boleh dong komen, aku pengen tahu yang kalian rasain pas baca part ini.

apa yang mau disampaikan ke floryn?

apa yang mau disampaikan ke zello?

apa yang mau disampaikan ke edward?

apa yang mau disampaikan ke beryl dan alkana?

apa yang mau disampaikan ke chiara atau belinda?

apa yang mau disampaikan ke kunci dari segala kunci permasalahan kita, si kulkas elio?

ssavera, 29 April 2025

TACHYCARDIA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang