46 | like broken bones

1.4K 90 19
                                        

hereeee!!!

notes; baca chapter 34 ulang, terus balik lagi ke chapter ini, biar makin galau.

notes; baca chapter 34 ulang, terus balik lagi ke chapter ini, biar makin galau

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

46. like broken bones

Floryn berasal dari keluarga yang berantakan, hidup bersama Papanya hanya sampai awal masa remajanya, Mamanya tak pernah ada untuknya bahkan sampai tutup usianya. Kasih sayang adalah sebuah rasa yang terasa sangat jauh untuk diraihnya. Floryn seperti tulang yang tak diberi tumbuh dengan baik, patah dan terancam rusak permanen.

Sedangkan Zello—tidak bisa dibuat perbandingan dengannya, sangat jauh. Hidupnya tertata, ada orang tua yang selalu menemani proses tumbuh kembangnya, tidak kekurangan dalam hal apapun, begitu lebih banyak cahaya yang hadir dalam hidupnya.

"Sedang aku dari badai, marah riuh yang berisik, juga banyak hal-hal yang sedih."

Musik yang diputar, dengan lirik yang seolah menyetujui isi pikirannya, membuat dadanya bertambah sesak.

Seharusnya ia sadar bahwa Zello tak akan pernah menjadi miliknya, dari dulu hingga sekarang, Zello hanya angan-angan, bukan teman apalagi pasangan. Zello hanya orang baik yang berasal dari keluarga baik pula yang hadir di hidupnya, menawarkan warna, walaupun gelap selalu menjadi akhirnya.

"Ryn, ngelamun terus." bahu Floryn ditepuk oleh si pemilik suara yang menegurnya.

"Ini hari bahagia Belinda, Ryn. Banyakin senyum," kata Chiara.

Pakaian yang mereka kenakan senada, sesuai tema acara yang dipilih Belinda, biru laut dengan aksen merah muda pucat. "Sorry," balas Floryn.

Benar. Hari ini hari bahagia Belinda. Tidak pernah Floryn dan yang lain sangka Belinda akan bertunangan lebih dulu, tepatnya hari ini, disaat kuliahnya juga belum selesai, belum mulai skripsi juga. Padahal Belinda adalah orang terakhir yang jauh dari kata pacaran, laki-laki sama sekali tak menjadi minat Belinda, wajar jika semua juga tak sesiap ini melihat Belinda bertunangan dengan seorang pria yang bukan dari kampus, pria itu lima tahun di atas Belinda, sudah mapan dan matang.

"Dijodohin nggak si?" pikir Chiara. "Apa diem-diem pacarannya, parah banget tapi kalau bener, masa nggak bagi tahu kita." sambungnya masih dengan praduganya sendiri.

"Tuh liat, Ryn." Chiara menunjuk ke satu arah.

"Apa?"

"Belinda, cakep banget, kalau dandan gitu keliatan cewek banget."

Floryn mengernyit sembari terkekeh heran. "Selama ini bukan cewek, Chi?"

Chiara berdecak, meski sudah pakai gaun, gayanya itu tetap tidak menampilkan keanggunan, sangat apa adanya sekali. "Cewek, tapi hari ini cewek banget."

"Babe, kemana aja si." Salvio mendekat ke arah mereka, merangkul Chiara dengan raut wajah lesu. "Dicariin juga, seneng banget jauh-jauh dari aku."

TACHYCARDIA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang