"Senggol dikit, bacok" cetus giffari.
Dikenal sebagai "ketua geng motor". giffari adalah sosok yang kasar dan tegas yang memimpin geng motor black thunder, dengan tatapan tajam dan sikap yang tak kenal ampun.
kemudian dia tak sengaja bertemu dengan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
° ° ° ° °
Giffari sudah sampai di depan mansion yang mewah dengan warna silver, ia membuka pintu lalu masuk ke dalam mansion dan bertemu dengan adik kesayangannya, zea.
"Tumben abang pulang cepat?" tanya zea kepada abangnya.
"Abang mau izin sama papa kalo abang mau pergi lagi, soalnya hp abang batrenya abis jadi ga sempet ngabarin" jawab giffari.
"Tapi abang baru sampai, emangnya abang mau kemana lagi?" tanya zea sambil memeluk giffari dengan erat.
Tiba-tiba, sosok seorang laki-laki dengan suara tegas muncul, "Dari mana aja kamu baru pulang jam segini?" suara tersebut jelas dikenali oleh giffari.
Keduanya menoleh ke arah suara itu, "Papa," ucap giffari.
Zea melepaskan pelukannya dan giffari mendekati papanya dengan rasa ketakutan, tubuhnya berkeringat.
"Tadi giffari ada eskul basket pah makanya pulang terlambat, oh yaa pah giffari izin keluar yaa soalnya ada urusan yang harus giffari selesain" ucap giffari dengan suaranya yang gemetar.
"Izin? Ga liat kamu sekarang jam berapa? Papa ngelarang kamu untuk keluar, ga ada izin izin, masuk kamar langsung tidur" tegas sang papa.
"Tapi giffari punya urusan penting, giffari harus buru-buru pah" giffari berusaha menjelaskan sambil menuju pintu keluar, menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap sang papa.
"GIFFARI!" sang papa menarik tangan giffari dan menamparnya, tentu giffari terkejut dengan tindakan sang papa, di sana pun juga ada zea yang sedang menontonnya.
"Jadi anak jangan keras kepala, kalo ga suka aturan papa silahkan keluar dari sini, papa kehilangan satu anak juga ga rugi" ucapnya.
Giffari tersenyum miring, "Oke"
Sang papa menatap giffari dengan ekspresi marah dan tegang terasa menghiasi ruangan saat itu.
Giffari dengan tatapan tajam, menatap papanya sambil tetap tersenyum miring. dia merasa sudah cukup dengan perlakuan kasar sang papa dan ingin menegaskan batasnya.
"Pah giffari udah dewasa, giffari mau kebebasan bukan larangan" ucap giffari dengan suara mantap.
Sang papa terdiam sejenak, seolah merenungkan kata-kata yang baru saja didengarnya. suasana hening terasa begitu mencekam.
Zea yang selama ini hanya menjadi penonton dalam pertikaian antara abangnya dan papanya, akhirnya angkat bicara, "Pah udah pah, lagian juga abang udah dewasa bukan anak kecil lagi."
Saat itu, suasana ruangan mulai memanas dengan emosi yang berkecamuk di antara mereka. tapi di tengah kekacauan itu, ada benang merah yang mengikat hati mereka sebagai keluarga.
Giffari melangkah ke arah pintu, menatap papanya sekali lagi sebelum mengucapkan kata terakhir, "Giffari akan pergi, tapi giffari akan selalu pulang ke rumah ini. karna inilah rumah giffari, tempat di mana hati giffari berada."
"Ga usah balik kerumah ini lagi, papa ga sudi punya anak yang keras kepala kek kamu" ucap sang papa.
Giffari mengusap air mata zea dengan tangannya sendiri "Zea jangan nangis, abang gapapa kok."
Giffari tentu peka dengan perasaan adeknya ini "Zea disini dulu yaa, nanti abang pulang bawain makanan kesukaan zea, mau? Giffari bujuk zea agar zea tidak menangis.
Zea hanya menganggguk lalu zea memeluk abangnya itu "Iya zea mau, tapi abang balik kerumah ini lagi yaa".
Giffari membalas pelukannya dan giffari tidak menyadari ia menangis dengan air mata yang sudah turun "Iyaa zeaaaa, abang bakal balik kerumah ini lagi demi kamu."
Giffari melepaskan pelukannya dan tangannya mengelus kepala adeknya dengan lembut.
"Abang pergi dulu yaa, zea" ucap giffari sambil melambaikan tangan kepada adeknya itu.
Dengan langkah mantap, giffari melangkah keluar dari mansion, meninggalkan keheningan yang mencekam di ruangan itu. langit malam yang gelap menjadi saksi bisu dari pertarungan batin yang dialami oleh keluarga itu.