Semua barang-barang penting di dalam kamar, semuanya sudah di angkut menuju mansion yang baru Sasuke bangun. Kecuali gaun-gaun dengan bawahan mengembang seperti gulali, Naruto tidak ingin memakai gaun aneh itu.
Ketika ia akan menaiki kereta kuda berwarna hitam milik Sasuke, ia melihat ada kereta berwarna coklat tua berjalan memasuki mansion Namikaze dan berhenti tepat di belakang kereta kudanya.
Sosok pria paruh baya keluar dari dalam kereta dan melihatnya dengan seksama, Naruto sedikit bingung harus bersikap bagaimana.
“Kamu sudah sehat?” pria itu bertanya.
“Hm, iya.” jawab Naruto singkat.
“Kamu mau pergi kemana? Bukankah kamu baru sadar hari ini?” dia bertanya lagi.
“Grand duke memintaku untuk bersiap pindah ke mansion yang baru saja selesai dia bangun.”
“Benarkah? Itu artinya ayah harus mempersiapkan hadiah terbaik untuk rumah baru kalian, benarkan?”
Jadi dia ayah Naruto, Namikaze Minato.
Naruto menatapnya dari atas ke bawah dengan seksama, dia memang mirip Naruto.
“Ada apa? Ada yang salah dari penampilan ayah?” tanya Minato bingung.
“Tidak.” jawabnya singkat. Di dalam buku diary tertera bahwa ayahnya pilih kasih dan selalu mengucilkan Naruto.
Naruto langsung saja naik ke dalam kereta sebelum Minato kembali berbicara dengannya, “Saya pergi dulu.” ujarnya setelah Matsuri masuk ke dalam kereta lalu ia menutup pintu kereta dengan cepat.
Minato sampai terdiam karena syok dengan sikap Naruto yang menurutnya sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya.
“Ada apa dengan anak itu?” gumamnya bingung.
Ini pertama kalinya Naruto menaiki kereta kuda, ternyata cukup menyenangkan. Orang-orang di era ini juga sudah pintar. Kaca di pintu kereta terlihat gelap jika di lihat dari luar tetapi jika sudah masuk ke dalam kereta maka yang di dalam kereta bisa melihat keluar dengan jelas, seperti kaca di era modern. Mereka pintar.
“Nanti saya ingin berjalan-jalan.” ujarnya pelan memperhatikan jalanan yang begitu ramai oleh penduduk, lalu ada banyak pedagang yang menjajakan barang maupun makanan di sepanjang jalan.
“Bukankah anda tidak suka pergi ke tempat ramai?” sahut Matsuri.
“Kenapa?” timpal Naruto, menaikan sebelah alisnya bingung.
“Karena anda selalu merasa malu.” jawab Matsuri pelan.
Naruto terdiam. Dia adalah anak bangsawan tingkat tinggi tetapi terlahir lemah tanpa kekuatan sama sekali. Wajar jika dia merasa malu untuk keluar rumah. Tapi sekarang dia adalah Naruto yang baru dan untuk kekuatan ataupun sihir, dia akan belajar itu untuk nanti.
“Kapan saya masuk sekolah?”
“Hm?” Matsuri menatap bingung.
“Akademi.”
“Ah itu besok.”
Naruto mengangguk kemudian memilih untuk diam selama perjalanan hingga akhirnya mereka sampai di sebuah mansion yang terlihat sangat mewah.
Ketika pintu terbuka, Naruto bisa melihat halaman yang begitu luas dan tertata rapi dengan kebun bunga yang indah, lalu ada beberapa patung dewa yang menghiasi taman.
Naruto turun dari kereta kuda dan Matsuri dengan sigap membantunya. Ia terpaku menatap indahnya bangunan ini, ia benar-benar sudah jatuh ke dunia fantasy di dalam novel.
KAMU SEDANG MEMBACA
General Wife
FanfictionSeorang agen intelijen gagal dalam melaksanakan misinya hingga ia mati tertembak di sebuah dermaga dan jatuh ke dalam lautan. Dia pikir dia akan mati tetapi dia malah berusaha untuk menyelamatkan seorang gadis muda yang tenggelam bersama dengannya...
