“Nona hampir membunuh putra Viscount Inuzuka.” ujar Ebisu menatap lama wajah tuannya yang seketika berubah drastis.
Pria paruh baya itu tampak terkejut bukan main, kedua matanya terbelalak dan kini membalas tatapannya dengan tidak percaya. Kedua manik birunya lalu beralih menatap kearah lain.
“Lalu bagaimana keadan putra Viscount?” sahutnya.
“Dia sudah di rawat di rumah sakit.” jawabnya.
Pria itu menghela napas lega mendengarnya. Ia pun berdiri dari posisi duduknya dan berjalan ke arah jendela yang terbuka lebar. Ia terdiam cukup lama disana sampai akhirnya ia berbalik menatap tangan kanannya itu, “Kita ke mansion Uchiha sekarang.” ujarnya di angguki cepat oleh Ebisu.
Sementara itu Naruto sedang membaca semua buku yang berhubungan dengan pengendalian sihir elemen angin di perpustakaan mansion Uchiha. Ia belajar dengan sangat tekun lalu mempraktekkannya sesuai dengan yang di jelaskan di dalam buku.
Pejamkan kedua matamu dan rasakan mana yang mengalir di dalam setiap aliran darah lalu keluarkan secara perlahan.
Naruto melakukannya dengan baik, ketika ia membuka kedua matanya. Ia bisa melihat dengan jelas pusaran angin kecil terbentuk di tangan kanannya. Ia tersenyum lalu ia pun mengarahkan tangannya untuk melempar angin di tangannya ke arah tumpukan buku yang sudah selesai ia baca.
Buuk! Semua buku itu terjatuh. Ia kembali tersenyum lebar namun kali ini penuh kepuasan.
Aku harus melihat secara langsung pertarungan para pengguna sihir agar aku bisa tahu bagaimana mereka menggunakannya, batin Naruto seraya menutup buku yang baru saja ia baca.
Tok! Tok! Tok!
“Nona! Bolehkah saya masuk?”
“Masuklah Matsuri.” jawab Naruto seraya membenahi buku-buku yang berantakan olehnya.
“Nona, ayah anda datang berkunjung untuk menemui anda.” ujar Matsuri memperhatikan Naruto.
“Ayah?” Naruto lantas menoleh ke arah gadis muda seumurannya itu lalu ia pun terdiam sejenak, “Saya akan menemuinya.” Naruto lantas berdiri setelah semua buku telah rapi.
Naruto keluar dari perpustakaan dan berjalan menuju ruang penerima tamu. Dimana ayahnya sudah duduk disana sendirian dengan segelas teh hangat dengan aroma jasmine dan sepiring kue kering.
“Selamat datang, ayah.” Naruto selalu memanggil pria itu ayah jadi dia juga harus melakukan hal yang sama meski dia sedikit merasa canggung.
“Ayah ... Sudah mendengar semuanya mengenai kejadian hari ini di akademi. Apa kamu baik-baik saja?” tanya Minato menatap putrinya.
Naruto tanpa sadar menaikan sebelah alisnya heran. Minato tidak peduli kepada Naruto tapi hari ini dia peduli bahkan Matsuri yang berdiri di belakangnya tampak terkejut.
“Baik.” jawab Naruto singkat seraya mengangguk.
“Ayah juga membawakan hadiah untukmu dan Sasuke yang sudah memiliki rumah yang bagus.” Minato tersenyum lembut.
“Terima kasih, ayah.” Naruto mengangguk singkat.
“Baiklah, ayah harus segera kembali sekarang.” ujarnya lalu beranjak berdiri bersiap untuk pergi.
Naruto lantas berdiri dan mengantarkan ayahnya keluar dari rumah hingga akhirnya pria itu menaiki kereta kudanya.
“Sampai jumpa, nak.” pria itu tersenyum sebelum kereta kuda itu benar-benar pergi.
“Sepertinya Tuan Duke sangat mengkhawatirkan anda tapi dia canggung untuk berbicara kepada Nona.” ujar Matsuri melirik Naruto yang tampak diam dengan wajah datar menatap kepergian kereta kuda ayahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
General Wife
FanfictionSeorang agen intelijen gagal dalam melaksanakan misinya hingga ia mati tertembak di sebuah dermaga dan jatuh ke dalam lautan. Dia pikir dia akan mati tetapi dia malah berusaha untuk menyelamatkan seorang gadis muda yang tenggelam bersama dengannya...
